Pembagian Harta Warist

April 22, 2014 at 3:17 am Tinggalkan komentar

MEMBAGI HARTA PUSAKA
MENURUT Al-QURAN
& Sunnah Rosulullah

 

 

DISUSUN
O
L
E
H
Nana Suryana

 
Diajukan :

Dalam rangka memenuhi anamat untuk disampaikan pada acara I’tikaf
Ramadhan 1429 H. / September ‏ 2008 M.

 

 

MASJID Al-IMAN
PONDOK PESANTREN SHUFFAH HIZBULLAH
& MADRASAH AL-FATAH
KOTA SUKABUMI

 
Jln. Merdeka, Kp. Baru, Cikundul, Lembursitu, Sukabumi
Tlp: (0266) 252 88 55 / 240062

 

 

 

 

 

 
Permohonan

Dengan berlindung diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atas segala godaan syetan la’natullah
Dengan niat senantiasa bersama-sama Allah, untuk menegakkan syari’at Allah, dan mengharapkan Ridho Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Atas dasar motivasi mempertahankan syari’at Islam(Ilmu Warits), berawal dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Umaro. Namun, keputusan musyawarah untuk menyampaikan materi ini jatuh kepada pribadi yang dho’if. Pertanyaan itu harus dijawab sendiri. Selain itu, saya harus berani dan harus mampu menjawab pertanyaan dari orang-orang yang hadir dalam acara “I’tikaf”.

Segala Puji Bagi Allah
Segala Ilmu Milik Allah
Terimakasih kepada Ibu, Bapak yang telah membimbing kami hingga dewasa
Terimakasih kepada Istri yang selalu memberikan dukungan dalam jihad di jalan Allah
Usaha telah ditempuh, Kesalahan adalah kebodohan pribadi
Tiada kata yang patut tersampaikan selain “Astaghfirullahi Liy wa Lakum”
Saya mohon koreksi atas segala kesalahan agar tidak terbawa kehadapan Allah
Kesalahan adalah virus terganas yang dapat menular dan menjalar melalui ghibah dari muluk kemulut dan lebih cepat daripada virus HIV/AIDS
Cegah virus kesalahan dengan saling memberikan nasehat untuk senantiasa berada dalam kebenaran dan sabar dalam menjalankan kehidupan ini.
Ingat perintah Allah, Perintah Rosulullah, dan Ulil Amri (QS. An-Nisa ayat 59).

Cetakan ke – I ( Oktober 2005 / Romadhon 1426)

Cetakan ke – II
Sukabumi, September 2008 .
Romadhon 1429

Al-Faqir,

 

Nana Suryana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
FAROIDH

 Definisi

Ilmu faroidh atau ilmu warits, hakekatnya adalah ilmu yang mengatur tentang pengaturan atau pembagian harta yang ditinggal mati oleh pemiliknya, yang akan dibagikan kepada haknya, setelah dipenuhi biaya pengurusan jenajah, dikeluarkan zakatnya, dibayarkan hutangnya dan dipenuhi wasiatnya berdasarkan Al Quran dan sunnah. Jika harta gono-gini hendaknya dibagi terlebih dahulu antara suami dan istrinya, istri dapat 1/3 jika tidak mengeluarkan modal, tenaga, atau tidak ada kesepakatan sebelumnya. Jika ada tanda kesepakatan maka itu yang dipakai dalam pembagian harta gono-gini tersebut .

Rukun / Syarat pembagian harta peninggalan diantaranya :
 Al Muwarrits : orang yang mati / yang meninggalkan harta.
 Al Warits : orang yang akan menerima harta peninggalan.
 Haqqun Mauruts : harta yang ditinggalkan dan akan dibagikan kepada yang berhak.

 Kedudukan ilmu waris

تـعـلّموا الفرائض وعـلّموهـا الناس فإنّه نصف العلم وهـو ينسى وهـو اوّل شيء ينزع من امّي * رواه ابن ماجه والدارقطني *

“Dari Abu Hurairoh ra berkata: Rosulullah bersabda : Pelajarilah olehmu sekalian ilmu faro’idl dan ajarkanlah kepada manusia, karena sesungguhnya ia merupakan setengah ilmu, ia dilupakan dan ia merupakan sesuatu yang pertama kali di cabut dari ummatku”. HR. Ibnu Majah dan Daruqutni.

Dalam al-Quran terdapat baberapa ayat yang menjelaskan hal hukum/syariat dengan penjelasan yang global dan penjelasannya secara rinci terdapat dalam sunnah Rosulullah, namuan dalam pembagian waris ini Allah menjelaskannya dengan jelas dalam Al-Quran, namun demikian ada beberapa penjelasan dari Rosul dan para shahabat.

 Dasar pelaksanaan Warits

 Al Quran ( QS. An Nisa ayat 7, 11, 12, 176, Al Anfal ayat 1)

للرجال نصيب مما ترك الوالدان والأقربون وللنساء نصيب مما ترك الوالدان والأقربون مما قل منه أو كثر نصيبا مفروضا
Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. ( QS. An Nisa ayat 7)

يوصيكم الله في أولادكم للذكر مثل حظ الأنثيين فإن كن نساء فوق اثنتين فلهن ثلثا ما ترك وإن كانت واحدة فلها النصف ولأبويه لكل واحد منهما السدس مما ترك إن كان له ولد فإن لم يكن له ولد وورثه أبواه فلأمه الثلث فإن كان له إخوة فلأمه السدس من بعد وصية يوصي بها أو دين آبآؤكم وأبناؤكم لا تدرون أيهم أقرب لكم نفعا فريضة من الله إن الله كان عليما حكيما
Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga(2/3) dari harta yang ditinggalkan, jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo(1/2) harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam(1/6) dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak, jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya(saja), maka ibunya mendapat sepertiga(1/3), jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam(1/6). (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An Nisa ayat 11)

ولكم نصف ما ترك أزواجكم إن لم يكن لهن ولد فإن كان لهن ولد فلكم الربع مما تركن من بعد وصية يوصين بها أو دين ولهن الربع مما تركتم إن لم يكن لكم ولد فإن كان لكم ولد فلهن الثمن مما تركتم من بعد وصية توصون بها أو دين وإن كان رجل يورث كلالة أو امرأة وله أخ أو أخت فلكل واحد منهما السدس فإن كانوا أكثر من ذلك فهم شركاء في الثلث من بعد وصية يوصى بها أو دين غير مضآر وصية من الله والله عليم حليم

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat(1/4) dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan(1/8) dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam(1/6) harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga(1/3) itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. ( QS. An Nisa ayat 12).

يستفتونك قل الله يفتيكم في الكلالة إن امرؤ هلك ليس له ولد وله أخت فلها نصف ما ترك وهو يرثها إن لم يكن لها ولد فإن كانتا اثنتين فلهما الثلثان مما ترك وإن كانوا إخوة رجالا ونساء فللذكر مثل حظ الأنثيين يبين الله لكم أن تضلوا والله بكل شيء عليم

Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua(1/2) dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak, tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga(2/3) dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.( QS. An Nisa ayat 176).
 Sabda Rosulullah

تعلّموا الفرائض وعلّموها الّناس فإنّيى امرؤ مقـبوض وانّ العلم سيقـبض وتظـهـر الفـتن حتّى يختلف اثنان فى الفريضة فلا يجدان من يقضى بينهما * رواه الحاكم *

“ Pelajarilah ilmu faro’idl dan ajarkanlah pada manusia, karena saya adalah orang yang akan direnggut (mati), ilmu itu akan diangkat (dihilangkan), dan menyebarlah fitnah, sehingga terjadi perswelisihan antara dua orang tentang pembagian waris dan kedua nya tidak mendapatkan orang yang bisa memutuskan”. HR. Hakim.

 Ijma dan Ijtihad

Ijma’ dan Ijtihad dari para sahabat adalah suatu yang penting ketika kita menemukan masalah yang belum secara rinci dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadis Rosulullah, seperti halnya masalah kakek bersama saudara, menurut Zaid bin Tsabit mereka sama-sama mendapat atas dasar muqosamah atau akdariyah (bersamanya kakek dengan saudara pr kandung). Demikian juga dalam masalah bersamanya antara sudara-saudra (musyarokah), dan jika hanya diwrisi ibu bapaknya saja ( gorowaen ), dan adanya sistem pembagian aul dan ra’d.

Dinatara sahabat yang memiliki kelebihan ilmu bidang waris adalah Abu Bakar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit.

افـرضكم زيد * رواه الترمذى والنسائى *
“ Zaid adalah yang paling ahli dalam ilmu faro’idl diantarta kalian “ HR. Turmudzi dan Nasai

 Hal-hal yang harus dilakukan sebelum pembagian harta warits

 Biaya pengurusan mayit

Menyediakan biaya untuk pembiayaan pengurusan jenajah, seperti : seperangkat pakaian mayat (kain kafan, kapas, sabun mandi/kapur barus dan wangi-wangian). Dan jika diperlukan biaya penggalian tanah kuburan dan biaya transportasi, namun demikian haruslah dengan sederhana tidak kurang dan tidak berlebihan. karena sudah merupakan satu kewajiban sebagai seorang muslim terhadap muslim lainnya yang telah dipanggil Allah.

 Dipenuhi hutangnya

عن ابى هريرة قال رسوالله صلىالله عليه وسلم نفس المؤمن معلّـقة بدينه حتّى يقضى عنه . رواه احمد والترميذى

“ Dari Abu Huairoh, Rosulullah bersabda : Diri orang mu’min itu tergantung karena hutangnya, hingga dibayar hutangnya itu ” HR. Ahmad dan Tirmidzi

Jika orang yang mati meninggalkan / mewaritskan hutang dan tidak ada harta yang ditinggalkan (miskin harta) maka ahli waritsnya-lah yang berkewjiban membayarnya.

 Dipenuhi zakatnya

Jika harta yang ditinggalkan telah mencukupi(nishob zakat) maka harus dikeluarkan zakatnya, juga jika ia meninggalkan nadzar wajiblah ditunaikan nadzarnya itu, karena zakat dan nadzar meupakan pelaksanaan dari hak Allah(kewajiban hamba).

 Dipenuhi wasiatnya

Wasiat merupakan kewajiban yang utama sebelum pembagian harta warits QS. An Nisa ayat 11. namun wasiat tidak boleh lebih dari sepertiganya. Dan wasiat(pemberian harta) tidak boleh ditujukan kepada ahli warits .

عن ابن عباس قال : لو انّ الناس غضوا من الثلث الى الربع فانّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : الثلث والثلث كثير . رواه البخارى ومسلم
Dari Ibnu ‘Abbas, berkata : Alangkah baiknya jika manusia mengurangi wasiat dari sepertiga menjadi seperempat. Maka sesungguhnya Rosulullah bersabda Wasiat itu sepertiga dan sepertiga itu sudah banyak. HR. Bukhori dan Muslim.

عن ابى امامة قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : انّ الله قد اعطى كلّ ذي خقّ حقّه فلا وصية لوارث . رواه الخمسة الا النسائ .
Diriwayatkan dari Umamah, berkata saya mendengar Nabi bersabda : Sessungguhnya Allah telah menentukan hak tiap-tiap orang yang mempunyai hak(ahli warits) maka tidak dibenarkan lagi berwasiat kepada ahli warits. HR. Imam yang lima kecuali Nasaiy.

 Jika harta gono-gini / raja-kaya / seguna-sekaya.
Harta gono-gini adalah harta yang di hasilkan oleh bersama antara suami dan istri. Maka harta tersebut diberikan kepada ahli waris setelah penbagian antara suami dan isteri (istri dapat 1/3 (sepertiga) atau sesuai dengan perjanjian, jika ada keterangan perjanjiannya). Lalu 2/3 (dua pertiga) lagi dibagi, dan dalam 2/3 ini istri dapat lagi, sebagai istri menurut syari’at (yaitu : 1/4 atau 1/8 ) .

 Perhatikan orang miskin ( atau yang hadir ketika pembagian)
وإذا حضر القسمة أولوا القربى واليتامى والمساكين فارزقوهم منه وقولوا لهم قولا معروفا
Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. ( QS. An Nisa ayat 8 )
Ket : yang dimaksud dengan Kerabat / orang yatim / orang miskin yang hadir dalam pembagian harta adalah orang yang tidak berhak mendapatkan harta warits.

 Tidak ada penundaan( walaupun orang yang barhak mendapatkannya masih kecil/bayi)
ولا تؤتوا السفهاء أموالكم التي جعل الله لكم قياما وارزقوهم فيها واكسوهم وقولوا لهم قولا معروفا
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. ( QS. An Nisa ayat 5 ).
وابتلوا اليتامى حتى إذا بلغوا النكاح فإن آنستم منهم رشدا فادفعوا إليهم أموالهم ولا تأكلوها إسرافا وبدارا أن يكبروا ومن كان غنيا فليستعفف ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف فإذا دفعتم إليهم أموالهم فأشهدوا عليهم وكفى بالله حسيبا
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang memelihara harta tersebut miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut(wajar). Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). ( QS. An Nisa ayat 6)

Sebagain orang berpendapat “ Pembagian harta peninggalan ditangguhkan, jika ahli warits masih kecil ” dengan alasan QS. An Nisa ayat 5). Itu adalah benar jika pendapatnya tersebut diproses sesuai dengan QS. An Nisa ayat 6.

Dengan jelasnya Allah memberikan rincian dalam pembagian harta peninggalan. Pembagian harta peninggalan tetap dilakukan, jika ada orang(ahli warits) yang belum baligh, maka bagian orang tersebut diurus(dikelola) oleh orang yang sudah dewasa, baik oleh orang tuanya, keluarganya dengan sebuah catatan harus memakai surat kuasa yang di ketahui oleh ahli warits lainnya(sebagai saksi). Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Baqoroh ayat 282.

Jika ada perselisihan pendapat maka segeralah kembalikan kepada Allah(Al Quran) dan kepada Rosulullah(Sunnah), dengan jalan melalui Ulil Amri / Imaam / Kholifah. (QS. An Nisa ayat 59).

 Bahaya menunda pembagian harta warits
Jika harta tersebut di kelola oleh istri. Adanya hak orang lain yang terhalangi (selain anak / orang tua dari suami / kakeknya / kerabatnya). Kemudian jika harta tersebut bertambah maka akan merumitkan dalam pembagian berikutnya jika istri tersebut pun mati. Karena di sana adanya hak istri dari harta gonogini, hak anak dari bapaknya, hak orang tua(ibu & bapak atau kakek & nenek atau saudaranya) dari suami. Kemudian sang istri mati bertambah masalah, dengan adanya hak anak dari ibunya, hak orang tua(ibu & bapak atau kakek & nenek atau saudaranya) dari istri

Jika harta tersebut dikelola oleh suami, kemudian nikah lagi atau harta tersebut habis karena tidak adanya yang mengendalikan harta tersebut(karena perbuatan istri barunya), sementara anaknya masih kecil. Dia akan terancam dengan QS. Al Maa’uun. Apa lagi jika suami tersebut mati. Dan masih banyak permasalah yang akan timbul jika melanggar aturan hukum Allah.

Ancaman Allah diantaranya :
• Digolongkan pada orang yang dzolim. QS. Al Baqoroh ayat 229.
• Digolongkan pada orang yang beraniaya pada diri sendiri. QS. 65 / Ath Tholak ayat 1.
• Dimasukkan ke dalam Neraka (karena melanggar hukum Allah”Warits”). QS. An Nisa ayat 14

 Yang termasuk ahli warits

 Sebab hubungan darah (nasab keluarga)
Dalam hubungan kelurga ada tiga kelompok yang berhak mendapat waris, diantaranya :

 Dzawil furudh ذوى الفروض
yaitu ahli waris yang sudah mendapat ketentuan dalam pembagiannya ( seperdua, seprempat, sepertiga, duapertiga, seperenam, dan seperdelapan). Diantaranya (konsep dasar) adalah :

1. SUAMI
 Suami dapat 1/2 (setengah) jika tidak ada Anak / Cucu QS. 4/12
 Suami dapat 1/4 (seperempat) jika ada Anak / Cucu QS. 4/12

2. ISTRI
 Istri dapat 1/4 (sperempat) jika tidak ada Anak / Cucu QS. 4/12
 Istri dapat 1/8 (seperdelapan) jika ada Anak / Cucu QS. 4/12

3. ANAK (A ) dan Cucu
 Anak Lk dapat 2 bagian Anak Pr , dari asobah QS. 4/11
 Anak Pr 2 orang / lebih dapat 2/3 jika tidak ada Anak Lk QS. 4/11
 Anak Pr tunggal dapat 1/2 jika tidak ada Anak Lk QS. 4/11
 Anak Pr tunggal dapat 1/2, jika bersamanya Cucu Pr maka Cucu dapat 1/6 sebagai pelengkap dari 2/3 (bagian 2 perempuan atau lebih)

قال عبد الله بن مسعـود : قضى رسـول الله ص . للبـنت النّـصف ولبنت الا بن السّـدس تكملة الثّلثين وما بقي فللا خت .رواه الجماعة الا مسلما والترمدى .
Berkata Abdullah bin Mas’ud, Rosulullah pernah menghukumkan untuk seorang anak Pr 1/2 (separoh) dan untuk cucu pr 1/6 (seperenam) untuk mencukupkan 2/3 dan selebihnya untuk saudara-saudara . (HR. Jama’ah kecuali Muslim dan tirmidzi)
( F : 23 ).

 Kalau anak perempuan itu dua orang atau lebih maka cucu pr tidak dapat bagian,
 Jika tidak ada anak, maka cucu menggantikan posisi sebagai anak.

4. IBU
 Ibu dapat 1/6 jika ada anak atau cucu QS. 4/11
 Ibu dapat 1/6 jika bersama saudara2 kandung/se-bapak(2 orang / lebih) QS. 4/11
 Ibu dapat 1/3 dari asobah(setelah diberikan hak suami/istri) jika hanya diwarisi oleh ibu dan bapaknya (gorowaen) QS. 4/11.
 atau dalam posisi akdariyah (ahli warits hanya : suami, ibu, kakek, dan seorang saudara pr kandung / se-bapak). Jika saudarnya lebih dari seorang, maka ibu kembali mendapat kan 1/6.

5. BAPAK (A )
 Bapak dapat 1/6 jika ada anak / cucu QS. 4/11
 Bapak dapat 2/3 dari asobah(setelah diberikan hak suami/istri) jika hanya diwarisi ibu dan bapaknya saja(gorowaen) QS. 4/11
 Bapak mendapatkan seluruh harta(asobah) jika tidak ada anak laki-laki/cucu laki-laki dari anak laki-laki

6. NENEK
 Nenek seorang atau lebih dapat 1/6 kalau tidak ada ibu

عن بريدة : انّ النبيّ ص . جعل للجدّة السّدس اذا لم يكن دونها امّ . ابو داود

Memberikan kepada nenek 1/6 jika tidak ada ibu. HR. Abu Daud. ( F : 46 ) .

قال عبادة بن صامت إنّ النّبي قضى للجدّ تين من الميراث بالسدس بينهما .
عبد الله بن احمد بن حنبل .
“ …Ubadah bin Shomit berkata : Bahwasanya Nabi telah hukumkan buat dua nenek 1/6 “. HR. Abdullah bin Ahmad bin Hambal ( F : 43 ).

قال عبد الرحمن بن يزيد : اعطى رسول الله ص . ثلاث جدّات السّدس ثنتين من قبل لاب وواحدة من لامّ . ( الدارقطنى ) .
“ … ‘Abdurrohman bin Yazid berkata : Rosulullah telah memberikan 1/6 (seperenam) kepada tiga orang nenek, 2 orang dari pihak bapak dan seorang dari pihak ibu ” (F : 51).
7. KAKEK(A)

 Kakek bisa mendapat asobah (jika masih ada sisa)
 Kakek dapat waris jika tidak ada bapak
 Kakek dapat 1/6 jika ada anak laki-laki / cucu laki-laki dari anak laki-laki

قال معقل بن يسار المزانّى : قضى رسول الله ص . فى الجدّ السّـدس . رواه احمد وابوداود .
“ .. telah berkata Ma’qil bin Jassar al-Muzani : Rosulullah hukumkan datuk dapat 1/6 (seperenam) “ ( F : 41 ) .
– Jika saudara-saudara(lk) itu lebih dari dua orang, maka kakek mendapatkan 1/3(F:54).

 Kakek dapat 1/3 jika bersama saudara kandung / saudara sebapak

قال الحسن : كان زيد بن ثابت يشرّك الجدّ مع لا خوة الى الثّلث . ( الدارمى )

Telah berkata Al-Hasan : Adalah Zaid bin Tsabit mencampurkan kakek dengan saudara-saudara laki-laki hingga ia dapat tidak kurang dari 1/3 HR. Ad-Darimi. ( F : 53 ) .
Menurut hadits riwayat imam Malik (F : 32) kalau saudara lk itu seorang maka kakek dapat 1/2.

 Kakek dapat berbagi hasil (muqosamah) dengan saudara-saudara dalam pembagian sisa harta
 Kakek dapat 2/3 jika hanya diwarisi oleh kakek dan seorang saudara perempuan(1/3). (Akdariyah) . Menurut keterangan bahwa laki-laki dapat dua bagian daripada perempuan. QS. 4/11 atau 4/ 176, 177, dan dianggap sebagai saudara laki-laki.
 Kebersamaan antara kakek dengan saudara kandung / saudara sebapak, dan bersama ahli waris lainnya. Adakalanya kakek dapat 1/6 , 1/2 , 1/3, 2/3 dari sisa harta, tergantung situasi, yang pasti harus mendapatkan yang lebih menguntungkan dari pada saudara-saudara tersebut.

8. SAUDARA KANDUNG(A)

 Saudara sekandung Lk / Pr dapat harta waris jika tidak ada : Bapak, Anak Lk, Cucu Lk ( asobah )
 Saudara perempuan tunggal dapat 1/2 jika tidak ada anak / cucu. Jika ada saudara sebapak maka saudara sebapak dapat sisanya (A) QS. 4/176,177, jika seudara sebapak itu perempuan tunggal maka ia mendapatkan 1/6, sebagai pelengkap dari 2/3.

قال عبد الله بن مسعـود : قضى رسـول الله ص . للبـنت النّـصف ولبنت الا بن السّـدس تكملة الثّلثين وما بقي فللا خت .رواه الجماعة الا مسلماوالترمدى .
Berkata Abdullah bin Mas’ud, Rosulullah pernah menghukumkan untuk seorang anak Pr 1/2 (separoh) dan untuk cucu pr 1/6 (seperenam) untuk mencukupkan 2/3 dan selebihnya untuk saudara-saudara . (HR.Jama’ah kecuali Muslim dan tirmidzi) ( F : 23 ) dan QS. 4/11

 Jika hanya diwarisi oleh seorang anak pr / seorang cucu pr dan saudara, maka seorang anak pr / seorang cucu pr dapat 1/2 dan sisanya untuk saudara(ashobah Ma’al ghoir).

انّ معاذ بن جبل ورّث اختا وابنة جعل لكلّ واحدة منهما النّصف وهـو باليمن ونبيّ الله ص . يومئـذ حيّ . رواه ابو داود والبخارئ بمعناه
“ … Sungguh Muadz bin Jabal telah membagikan harta pusaka pada seorang saudara pr dan seorang anak pr, masing-masing separoh (1/2 ) padahal ia di Yaman dan Rosulullah masih hidup ” ( F : 29 )

 Seorang saudara pr sekandung 1/2 bersama Kakek, maka menjadi 1/3 dan kakek 2/3 ( Akdariyah )
 Saudara perempuan sekandung lebih dari dua orang dapat 2/3 jika tidak ada anak / cucu (tidak jadi ashobah Ma’al ghoir dan tidak ada ashlun far’un) QS. 4/176.
 Jika saudara seibu bersama saudara kandung maka ia berserikat dalam 1/3 QS. 4/12

9. SAUDARA SEIBU

 Dapat waris jika tidak ada Anak, Cucu, Bapak / Kakek (Kalalah : Hanya diwarisi oleh saudaranya saja)
 Seorang laki-laki / perempuan dapat 1/6. QS. 4/12
 Jika dua orang atau lebih Lk/Pr dapat 1/3 ( bersekutu ) QS. 4/12

10. SAUDARA SEBAPAK ( A )

 Saudara sebapak (lk) dapat waris jika tidak ada : Saudara Lk Kandung, Bapak, Anak Lk, Cucu Lk, dan Saudara Pr kdg yang bersama dengan Anak Pr atau Cucu Pr (ashobah ma’al ghoir).
 Saudara sebapak (pr) dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Sdr Lk Kdg, dan dua Sdr Pr Kdg.
 Saudara sebapak (lk) dapat sisa ( A ) jika tidak ada anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Saudara kandung Lk. QS. 4/176 dan hadits :
الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

 Saudara sebapak akan mendapat jika tidak ada saudara kandung.

قال على : قضى رسول الله ص . الرّجل يرث اخاه لابيه وامّه دون اخيه لابنه .
رواه التر ميذى.
“ … Menghukumkan Rosulullah, bahwa seorang sewarisi saudaranya kandung, tidak saudara sebapak ” ( F : 49 )

 Seorang Saudara Pr dapat 1/2 (separoh) jika tidak ada yang menjadi asobah QS. 4/176
 Dua orang saudara sebapak (pr) dapat 2/3 jika tidak ada yang menjadi asobah QS. 4/176
 Jika seorang Sdr Pr Sbk bersama dengan Sdr Pr Kdg, maka seorang Sdr Pr Kdg dapat 1/2 dan Sdr Pr Sbpk dapat 1/6 ( sama dengan dua orang Pr = 2/3 ) QS. 4/11

11. ANAK LK DARI SAUDARA KANDUNG / keponakan

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr.
الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

12. ANAK LK DARI SAUDARA SEBAPAK / keponakan

 Anak Lk dr Sdr sebapak dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

13. PAMAN SEKANDUNG

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

14. PAMAN SEBAPAK

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

15. ANAK LK PAMAN SEKANDUNG

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg, Paman se-Bpk.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

16. ANAK LK PAMAN SEBAPAK

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg, Paman se-Bpk, Anak Paman Se-Kdg.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

17. YANG MEMERDEKAKAN / YANG DIMERDEKAKAN
Yang memerdekakan / yang dimerdekakan dapat warits jika tidak ada : Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr.Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg, Paman se-Bpk, Anak Paman Se-Kdg, Anak paman sebapak.
الولاء لحمة كاحمة النسب لا يباع ولايوهب . رواه ابن خزيمة وابن حبان والحاكم .
Hubungan orang yang memerdekakan budak dengan budak yang dimerdekakan seperti hubungan nasab, tidak dijual dan tidak dibeli. HR. Ibnu Hujaimah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim.

Jika semua dzawil Furudh, dzawil arham(kerabat), serta orang yang memerdekakana atau yang dimerdekakan tidak ada, maka yang berhak atas harta warits adalah dzawil arham berdasarkan aqidah(QS. Ali Imron 103), menurut faham penulis adalah orang yang telah menda’wahinya sehingga ia keluar dari Jahiliyah, dan kembali kepada fithrohnya manusia dalam Islam, dalam satu Jama’ah, satu Imamah, dengan satu ikatan Bai’at kepada Allah melalui Ulil Amri(Imaam/Kholifah). Seperti Allah telah mempersaudarakan antara orang Qurais(kaum Muhajirin) dengan orang Madihan(kaum Anshor).
Diperkuat dengan firman Allah di dalam QS. An-Nisa ayat 59. ” …. Jika kalian berselisih terhadap sesuatu urusan, maka hendaklah kalian mengembalikannya kepada Allah(Al-Quran) dan kepada Rosul-Nya(Sunnahnya), Jika kalian berikman kepada Allah dan kepada hari akhirat….. ”
” Dari Qobishoh bin Tamiemid-Daariy, saya pernah bertanya kepada Rosulullah “Bagaimana sunnah(pembagian warits) tentang seorang musyrik yang masuk Islam dengan pelantarann orang Islam ?..” Beliau bersabda : Yang menda’wahinya itu lebih hamper(berhak) kepadanya diwaktu hidupnya dan matinya”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majjah) .
Jika ia pun tidak memiliki Imaam/kholifah, maka bagikan harta peninggalannya itu kepada kaum miskin yang ada disekitarnya(tetangga).

 ‘Ashobah العصب
Ahli waris yang tidak mendapatkan bagian tertentu, namun ia mengambil semua harta jika dzawil furudh tidak ada, atau mengambil semua sisa harta jika dzawil furudh telah menerima bagiannya. Dan jika harta dibagi habis maka ashobah tidak mendapatkan bagian.
Asobah terbagi 3 bagian yaitu :

Asobah binafsi(A), ada 14 diantaranya :
1. Anak Lk,
2. Cucu Lk dari anak Lk,
3. Bapak/Ayah,
4. Kakek dari bapak,
5. Saudara lk se-kandung,
6. Saudara Lk se-bapak,
7. Anak Lk dari saudara Lk se-kandung,
8. Anak Lk dari saudara se-bapak,
9. Paman se-kandung,
10. Paman se-bapak,
11. Anak Lk paman se-kandung,
12. Anak Lk paman se-bapak,
13. Laki-laki / perempuan yang memerdekakan / yang menda’wahinya.
14. Laki-laki / Perempuan yang dimerdekakan / yang dida’wahinya.
15. Ulil Amri, Imaam, Kholidah,
16. Masyarakat(tetangga) yang miskin

Asobah bilghoir(AG).
yaitu wanita-wanita yang menjadi asobah karena adanya laki-laki yang menjadi asobah ban bagiannya dua banding satu(QS. An Nisa 11) ada 4 orang diantaranya :
1. Anak Pr dengan adanya anak Lk,
2. Cucu Pr dari anak Lk dengan adanya cucu Lk dari anak Lk,
3. Saudara Pr kandung dengan adanya saudara Lk kandung,
4. Saudara Pr sebapak dengan adanya saudara Lk sebapak.

Asobah ma’al ghoir(AM).
yaitu ahli waris yang bersama-sama sengan ahli waris lain yang bukan asobah, apabila ahli waris yang lain itu tidak ada, maka ia tetap mendapatkan bagian ashabul furudh, mereka itu adalah :
1. Saudara pr kandung seorang atau lebih, jika bersama-sama dengan anak pr atau cucu pr seorang atau lebih
2. Saudara pr kandung seorang atau lebih, jika bersama-sama dengan seorang anak pr dan seorang cucu pr.
3. Saudara pr sebapak seorang atau lebih, jika bersama-sama dengan anak pr atau cucu pr seorang atau lebih
4. Saudara pr sebapak seorang atau lebih, jika bersama-sama dengan seorang anak Pr dan seorang cucu pr
 Dzawil Arham ذوى الارحام
Yaitu orang yang tidak mempunyai bagian tertentu, tapi masih ada hubungan kerabat meskipun jauh, mereka dapat bagian jika kerabat terdekat tidak ada.
 Sebab perkawinan (keluarga : Cucu dari anak pr dll. )
 Sebab memerdekakan budak ( jika yang meninggal adalah budaknya) dan sebaliknya.
الولاء لحمة كاحمة النسب لا يباع ولايوهب . رواه ابن خزيمة وابن حبان والحاكم .
Hubungan orang yang memerdekakan budak dengan budak yang dimerdekakan seperti hubungan nasab, tidak dijual dan tidak dibeli. HR. Ibnu Hujaimah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim

Menurut faham kami : yang menda’wahinya / yang dida’wahinya. Sehingga ia menetapi Islam dan berada dalam satu Jama’ah ( Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah ) dapat digolongkan pada dzawil Arham / kerabat.

 Sebab Agama (Umaro / Imam / Kholifah )

انا وارث من لا وارث له . رواه احمد وابو داود.
Saya menjadi waris orang yang tidak mempunyai ahli waris. HR. Ahmad dan Abu Daud.

Demikian Rosulullah menerima harta warisan bukan untuk kepentingan sendiri, melainkan diserahkannya kepada baitul mal (majlis maliyah) untuk dikelola dan disalurkan kepada fakir, miksin atau yang berhak menerimanya.
 Sebab yang menghalangi untuk mendapat waris

 Pembunuhan
عن عمروبن شعيب عن ابيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس لقتال من الميراث شيئ . رواه النسائ .
Dari ‘Amr bin syu’aib dari ayahnya, dari kakenya berkata, Rosulullah bersabda : Tidak berhak si pembunuh mendapat sesuatu pun dari harta warisan. HR. An Nasaiy .

عن قتل قتيلا فإنه لايرثه وانلم يكن له وارث غيره وان كان له والده فليس لقتال ميراث . رواه احمد .
Barangsiapa membunuh seseorang sungguh ia tidak dapat mewarisi, sekalipun orang yang dibunuh itu tidak mempunyai ahli waris selain dia, dan jika yang dibunuh itu bapaknya atau anaknya maka bagi yang membunuh tidak berhak memerima harta warisan . HR. Ahmad.

 Lain Agama / Murtad

لا يرث المسلم الكافر والكافر المسلم . رواه الجماعة
Orang islam tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang islam. HR. jama’ah.

 Perbudakan

ضرب الله مثلا رجلين عبدا مملوكا لا يقدير على شيئ ق.س. النحل : 75 .
Allah memberikan perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak bertindak terhadap sesuatu pun . QS. An Nahl 75.
Karena dianggap seorang hamba seluruhnya adalah milik tuannya.
 Tidak tentu kematiannya / bersamaan

Jika terjadi kecelakaan yang bersamaan, seperti : Banjir, Kecelakaan kendaraan, atau Longsor dan rumah yang ambruk. Sehingga tidak dapat diketahui siapa yang lebih dahulu meninggal (bersamaan). Maka harta dibagikan kepada ahli warisnya masing-masing yang ada.

 Penentuan Ahli Waris

1. Siapa yang termasuk dzawil furudh
2. Berapa bagian masing-masing
3. Siapa yang termasuk ashobah
4. Siapa yang mahjub / terhalang
 Nama-nama ahli waris (yang berhak mendapat warisan)

15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu X 6
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih X 6
13 Kake dari Bapak X 10 X 10 X 10 X 10 X 10 X 10
12 Nene dari Bapak X 9 X 9 X 9 X 9 X 9 X 9
11 Nene dari Ibu X 9 X 9 X 9 X 9 X 9 X 9
10 Bapak 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6
09 Ibu 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6
08 Suami X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4
07 Istri X 1/8 X 1/8 X 1/8 X 1/8 X 1/8 X 1/8
06 Anak Lk A X X X X X
05 1 Anak Pr AB X 1/2 1/2 X X
04 2 Anak Pr / lebih X X X 2/3 2/3
03 Cucu Lk dari anak Lk X 6 A X A X A
02 1 Cucu Pr dari anak Lk X 6 AB 1/6 AB X 4 X
01 2 Cucu Pr dr anak Lk / > X 6 X 4 X
Keterangan :

19 Sdr Lk se-Ibu X 6 X
18 Sdr Pr se-Ibu X 6 X
17 2 Sdr Pr se-Ibu / lebih X 6 X
16 Sdr Lk kandung/ se-bapak se-Ibu X 6 X 10 X 6 X 6 A
15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu X 6 X 10 X 6 X 6 AB
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih X 6 X 10 X 6 X 6
13 Kake dari Bapak 1/6 X 10 X 10 1/6 X
12 Nene dari Bapak 1/6 X 9 1/6 9 X 9
11 Nene dari Ibu 1/6 X 9 1/6 9 X 9
10 Bapak X A 1/6 X X
09 Ibu X A X 1/6 1/6
08 Suami X 1/4 X 1/2 X 1/4 X 1/4 X 1/2
07 Istri X 1/8 X 1/4 X 1/8 X 1/8 X 1/4
06 Anak Lk A X A A X
05 1 Anak Pr AB X AB AB X
04 2 Anak Pr / lebih X X
03 Cucu Lk dari anak Lk X 6 X X
02 1 Cucu Pr dari anak Lk X 6 X X
01 2 Cucu Pr dr anak Lk / > X 6 X X
Keterangan : *
* . Gorowaen ( Bapak 2/3 dan Ibu 1/3 dari sisa pembagian kepada suami atau istri)
19 Sdr Lk se-Ibu X 1/6 1/3 1/3 X
18 Sdr Pr se-Ibu X 1/6 X
16 Sdr Lk kandung/ se-bapak se-Ibu A A A X
15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu 1/2
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih X
13 Kake dari Bapak 1/3A X X A
12 Nene dari Bapak X 9 X 9 X 9 X 9 X 9
11 Nene dari Ibu X 9 X 9 X 9 X 9 X 9
10 Bapak X X X X X
09 Ibu 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6
08 Suami X 1/2 X 1/2 X X X X X 1/2
07 Istri X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4
06 Anak Lk X X X X X
05 1 Anak Pr X X X X X
04 2 Anak Pr / lebih X X X X X
Keterangan : * 1 *2 * 3 * 4
• 1 .Moqosamah ( Kake dapat 1/3 dan saudara kandung 2/3 dari sisa setelah pembagian kepada Ibu, Suami, atau istri)
• 2 . Saudara kandung tidak terbagi karena habis(tidak ada sisa)
• 3 . Musyarokah ( karena saudara kandung sebagai ashobah dan tidak ada sisanya. Maka saudara kandung dipersekutukan dalam mendapatkan bagiannya dengan saudara se-Ibu dalam 1/3).
• 4 .Akdariyah ( Kake dengan saudara pr kandung mendapat bagian dari sisa Ibu dan suami atau istri)

24 Anak Lk dari Sdr Lk se-bapak D
23 Anak Lk dari Sdr Kandung Lk D X
22 Sdr Lk se-bapak X X X X
21 Sdr Pr se-bapak AM AM X X
20 2 Sdr Pr se-bapak X X
19 Sdr Lk se-Ibu X X 5 X 5
18 Sdr Pr se-Ibu X X 5 X 5
17 2 Sdr Pr se-Ibu / lebih X X 5 X 5
16 Sdr Lk kandung/ se-bapak se-Ibu X X X X X
15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu X AM AM X X
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih 2/3 X X
13 Kake dari Bapak A X X X X
12 Nene dari Bapak X 9 X 9 X 9
11 Nene dari Ibu X 9 X 9 X 9
10 Bapak X X X X X
09 Ibu 1/6 1/6 1/6
08 Suami X 1/2 X 1/4 X
07 Istri X 1/4 X 1/8 1/8
06 Anak Lk X X X X X
05 1 Anak Pr X 1/2 1/2
04 2 Anak Pr / lebih X X X
03 Cucu Lk dari anak Lk X X X X X
02 1 Cucu Pr dari anak Lk X X 1/6
01 2 Cucu Pr dr anak Lk / > X X
Keterangan : * 4

• 4 . Akdariyah ( Kake dengan saudara pr kandung mendapat bagian dari sisa Ibu dan suami atau istri)
• D . ( dapat bagian jika orang yang ditandai ” X ” tidak ada )

30 Yang dimerdekakan/budak D
29 Yang memerdekakan D X
28 Anak Lk dari Pmn/Uak sebapak D X X
27 Anak Lk dari Pmn/Uak kandung D X X X
26 Pmn/Uak (Sdr bapak) se-bapak D X X X X
25 Pmn/Uak (Sdr bapak) kandung D X X X X X
24 Anak Lk dari Sdr Lk se-bapak X X X X X X
23 Anak Lk dari Sdr Kandung Lk X X X X X X
22 Sdr Lk se-bapak X X X X X X
21 Sdr Pr se-bapak X X X X X X
20 2 Sdr Pr se-bapak X X X X X X
19 Sdr Lk se-Ibu
18 Sdr Pr se-Ibu
17 2 Sdr Pr se-Ibu / lebih
16 Sdr Lk kandung/ se-bapak se-Ibu X X X X X X
15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu X X X X X X
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih X X X X X X
13 Kake dari Bapak X X X X X X
12 Nene dari Bapak
11 Nene dari Ibu
10 Bapak X X X X X X
09 Ibu
08 Suami
07 Istri
06 Anak Lk X X X X X X
05 1 Anak Pr
04 2 Anak Pr / lebih
03 Cucu Lk dari anak Lk X X X X X X
02 1 Cucu Pr dari anak Lk
01 2 Cucu Pr dr anak Lk / >

 Istilah-istilah dalam proses pembagian harta warits

1. Basth (angka 1 & 3 pada bagian atas, Ex : 1/2, 3/4)
2. Maqoom (angka 2 & 4 pada bagian bawah, Ex : 1/2, 3/4)
3. Kusur (kumpulan basth dan maqom, Ex : 1/2, 2/3, 1/6, 1/4, 1/8)
4. Makhroj (ialah tempat keluarnya bagi setiap suku bagian, seperti : 1/2 makhrojnya adalah 2. dan 1/3 & 2/3 makhrojnya adalah 3.
5. Tamaatsul (beberapa kusur yang sama maqoomnya, seperti : 1/3 dan 2/3 : 1/6 dan 2/6) / mengambil salah satu penyebut yang sama.
Ex : Anak pr 1/2 …. 1/2 x 6 = 3
Cucu pr 1/6 …. 1/6 x 6 = 1
Nenek 1/6 …. 1/6 x 6 = 1
5 maka di Rod-kan.
Maka ketika hendak menetapkan masalah, hendaklah kita hilangkan satu dari dua 1/6 itu, jadi, tinggal 1/2 dengan 1/6, dan oleh sebab 2 sudah ada dalam 6(tadaakhul antara keduanya, maka kita anggap 2 tidak jadi, tinggal masalah 6).
6. Tadakhul (Terbaginya bilangan-bilangan yang lebih besar atas bilangan yang lebih kecil dengan pembagian yang shohih sehingga tidak ada sisa seperti (4 dengan 8 ), (6 dengan 18), (9 dengan 27),
7. Tawafuq (ketika bilangan yang satu tidak bisa membagi bilangan lain, tetapi dapat dibagi dengan bilangan ke tiga yang bersekutu, seperti : 6 degan 8 dapat dibagi dengan bilangan lain yaitu :(2), atau bilangan (12 dan 30) dapat dibagi dengan bilangan lain, yaitu : (6).
8. Tabaayun(jika kedua pembilang tidak dapat dibagi oleh yang lainnya selain oleh angka (1) Ex : angka (4 dengan 7), angka (8 dengan 11), dan angka (5 dengan 9).

Ketika kita menemukan masalah Tabaayun dalam menentukan hak warits, maka kita kalikan satu bilangan terkecil dengan bilangan terbesar dari bilangan penyebut sebagai asal masalah, seperti : seseorang mati meninggalkan istri dan seorang anak perempuan, maka :
1. Istri dapat 1/8
2. 1 anak pr 2/3.
Maka kita kalikan 3 dengan 8, jadi masalahnya : 24
Istri menjadi 1/8 x 24 = 3
1 anak pr menjadi 2/3 x 24 = 16
Sisa ( 5 ) di Rod kan.

Contoh 1 :

Istri 1/8 X 24 3 15
5 Anak Pr 2/3 X 24 16 80
Ayah 1/6 X 24 4 20
Ibu 1/6 X 24 4 20
Harta Rp. 1.000.000,- Jumlah : 27 135

Saham anak-anak pr (16) tidak terbagi menurut jumlah orangnya dan terdapat perbedaan. Maka ditabaayun dengan cara : 5 x 27 = 135
Proses perhitungan :
Istri : 15 x 1.000.000,- / 135 = …………
5 Anak pr : 80 x 1.000.000,- / 135 = ………… / 5 Org = Rp………
Ayah : 20 x 1.000.000,- / 135 = …………
Ibu : 20 x 1.000.000,- / 135 = …………

Contoh 2 :

3 Istri 1/8 X 24 3 84
7 Anak pr 2/3 X 24 16 448
2 Nenek 1/6 X 24 4 112
4 Saudara lk kandung A X 24 1 28
Jumlah : 24 672
Tashhih : 7 x 4 = 28 kemudian 28 x 24 = 672

9. Munasakhot (menyalin atau menggantikan), jika seseorang mati dan sebagian dari ahli waritsnya ada yang meninggal sebelum pembagian harta warits.

3 Anak pr 2/3 2 24 24
Saudara pr kandung A 1 3 Tashih
Saudara pr kandung 3 Ashobah : 1 3 + 1 = 4
Saudara lk kandung 6 Ashobah : 2 6 + 2 = 8
Jumlah : 3 36 3 36
4 x 3 = 12  12 x 3 = 36
 Al Aul dan Ar Rod

Al-Aul menurut bahasa adalah meningkat atau menambah. Sedangkan menurut istilah adalah apabila jumlah bagian ahli waris lebih besar dari asal masalah, dalam kata lain jika angka pembilang lebih besar dari pada penyebut, yaitu memperbesar angka asal masah sehingga menjadi sama dengan jumlah pembilang dari bagian ahli waris yang ada, karena perhitungannya lebih besar dari pada harta yang akan dibagikan
Contoh 1/2 dan 2/3
ex :
suami : 1/2
2 saudara pr kandung : 2/3
KPK/Asal Masalahnya = 6
Menjadi :
Suami : 1/2 x 6 = 3
2 Sdr pr kdg : 2/3 x 6 = 4
7 ( 6 – 7 = -1 ) maka di-AUL-kan
jadi 3/7 x harta = ……..
jadi 4/7 x harta = ……..

Ar-Rodd adalah mengembalikan / membagikan kembali sisa harta yang telah telah dibagikan sesuai dengan furudul muqodaroh, hal ini terjadi jika pembagian ahli waris lebih sedikit dari pada asal masalah. Dan tidak akan terjadi jika ada mu’asib (yang menjadi asobah ).
Ex.
Ibu : 1/6
1 Anak pr : 1/2
KPK / Asal Masalah : 6
Ibu : 1/6 x 6 = 1
1 Anak pr kdg : 1/2 x 6 = 3
4 ( 6 – 4 = 2 / sisa ) maka di-Rodd)
Ibu : 1/6 x 6.000 = 1.000
1Anak pr kdg : 3/6 x 6.000 = 3.000

Sisa ( Rp. 2.000 ) di-Rodd-kan. Asal masalahnya = 4
Ibu : 1/4 x 2.000 = 500
1 Anak pr kdg : 3/4 x 2.000 = 1.500

Atau dengan cara langsung di-Rodd-kan sebagai berikut :
Ibu : 1/4 x 6.000 = 1.500
1 Anak pr kdg : 3/4 x 6.000 = 4.500
 Ghorowain / Umariyah
Adalah dua hal yang sangat terang, disebut juga umariyah, masalah ini awal mulanya dari sahabat Ali bin Abi Tholib dan Zaid bin Tsabit, masalah ini terjadi apabila ahli waris terdiri dari suami, ibu, dan bapak. Atau istri, ibu, dan bapak. ex :
Suami : 1/2 ( tidak ada anak )
Ibu : 1/3 ( tidak ada anak / saudara perempuan)
Bapak : Asobah
KPK/Asal Masalah : 6
Suami : 1/2 x 6 = 3
Ibu : 1/3 x 6 = 2
5 ( 6 – 5 = 1. sisa untuk bapak ) tidak adil
Menurut Umar atas dasar QS. An-Nisa ayat 11, adalah laki-laki dapat dua bagian perempuan (bapak dan ibu jadi asobah)
Suami : 1/2 x 6 = 3 ( sisanya = 3 )
Ibu : 1/3 x 3( sisa ) = 1
Bapak : 2/3 x 3( sisa ) = 2
6
Jadinya :
suami : 3/6 x harta =….
Ibu : 1/6 x harta =….
Bapak : 2/6 x harta =….

Atau
Suami : 1/2 x 6 = 3 ( sisa = 3 untuk bapak dan ibu )
Ibu : 1/3 x sisa harta :……..
Bapak : 2/3 x sisa harta :……..

 Musyarokah / Musytarokah / Hajariyyah / Himariyah
Hal ini terjadi jika saudara kandung berserikat dengan saudara se-ibu, dalam hal ini saudara kandung dikalahkan oleh saudara se-ibu, sebab saudara-saudara tersebut sama-sama seibu dan dapat menjadi asobah. Ex.
Suami : 1/2
Ibu : 1/6
Sdr lk/pr se-ibu : 1/3
Saudara lk/pr kdg : asobah
KPK/Asal Masalah = 6

Suami : 1/2 x 6 = 3
Ibu : 1/6 x 6 = 1
Sdr lk se-ibu : 1/3 x 6 = 2
6 (tidak ada sisa)
Saudara kansung, menurut hitungan furudul muqodaroh tidak dapat, meskipun secara kekerabatan ia paling dekat. Itulah pentingnya pembagian cara musyarokah.

Menurut Umar bin khotob :
Suami : 1/2 x 6 = 3
Ibu : 1/6 x 6 = 1 ( sisa = 2 untuk saudara-saudara )
Sdr se-ibu
& Sdr kdg : 1/3 x 6 = 2
6
suami : 3/6 x harta = ….
Ibu : 1/6 x harta = ….
Saudara : 2/6 x harta = hasilnya dibagi antara saudara-saudara
Seandainya saudara tersebut terdiri dari : 2 Sdr Lk dan 3 Sdr Pr maka pembagiannya Seperti :
KPK nya 7
Sdr Lk : 4/7 x sisa harta = ……( untuk dua orang ).
Sdr Pr : 3/7 x sisa harta = ……( untuk tiga orang ).

 Muqosamah / Bagi bersama-sama

Hal ini terjadi jika kakek bersama-sama dengan saudara Kandung / Se-ibu / Se-bapak
Dalam hal ini ada dua pendapat :
1. Menurut Abu Bakar, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Abu Hanifah. Bahwa saudara-saudara (kandung/se-bapak/se-ibu) mahjub oleh kakek dengan alasan : kakek menduduki posisi bapak jika tidak ada, dan kakek lebih utama daripada saudara-saudara
2. Menurut Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, Safi’iyyah, dan Malikiyah. Mereka menetapkan bahwa kakek tidak dapat menghalangi saudara, dengan 2 (dua) cara pembagian. Pembagian kakek dapat 1/3 atau kakek mukosamah / bagi sama dengan saudara. Ex :

Cara ke-1 :
Kakek : 1/3
Saudara lk & pr kandung : Asobah
KPK/ Asal Masalah = 3
Kakek : 1/3 x 3 = 1
Saudara lk & pr kandung : sisa = 2 . Maka
Kakek : 1/3 x 9000 = 3000 ( sisanya = 6000 )
Sdr lk kdg : 2/3 x 6000 = 4000
Sdr pr kdg : 1/3 x 6000 = 2000
Cara ke-2 :
Cara mukosamah dengan KPK/Asal Masalah = 5
Kakek : 2/5 x 9000 = 3600
Sdr lk kdg : 2/5 x 9000 = 3600
Sdr pr kdg : 1/5 x 9000 = 1800
 Akdariyah

Hal ini terjadi karena adanya situasi yang keruh/susah, seperti bersamanya kakek dengan saudara perempuan kandung atau sebapak, ex :
Suami : 1/2
Ibu : 1/6
Kakek : asobah
Sadara pr kdg : 1/2 (mahjub oleh kakek)

Namun menurut Zaid bin Tsabit dan Ali bin Abi Thalib, bahwa kakek sejajar dengan saudara perempuan kandung dalam asobah.
Alasan disejajarkan karena kakek adalah segaris pertikal dari bapak, sedangkan saudara adalah segaris horizontal/bawah dari bapak
Ex :
Suami 1/2
Ibu : 1/6
Kakek : 1/6
Saudara pr kdg : 1/2
KPK/Asal Masalah = 6 menjadi :

Suami : 1/2 x 6 = 3
Ibu : 1/6 x 6 = 1
Kakek : 1/6 x 6 = 1
Saudara pr kdg : 1/2 x 6 = 3
8 ( 6 – 8 = -2 )
KPK = 6 di-AUL-kan kepada 8, menjadi :
Suami : 3/8 x 18000 = 6750
Ibu : 1/8 x 18000 = 2250
Kakek dan
Saudara pr kdg : 4/8 x 18000 = 9000 (dibagi dua) yaitu :

Kakek : 2/3 x 9000 = 6000
Saudara pr kdg : 1/3 x 9000 = 3000

Silsilah (ramgkaian keturunan)
DAFTAR BACAAN :

1. PUSAKA ISLAM (Kewajiban yang dilupakan). – Ahmad Tajudin AS. & Rukmito Sya’roni Al-Andalasi. – Badan Wakaf ULUL ABSOR, Sukabumi, Jawa Barat, 1992.
2. ILMU WARITS. – Drs. Fatchur Rohman. – PT. Al-Ma’arif, Bandung. 1971
3. HUKUM WARITS INDONESIA(dalam perspektif Islam, Adat, dan BW). – Dr. Eman Suparman, SH., M.H. – Refika ditama, Bandung, 2005.
4. POKOK-POKOK ILMU WARITS, – Drs. Muslich Marzuki, – Pustaka Amani, Semarang 1981.
5. ILMU HUKUM WARITS (Menurut Ajaran Islam), – DR. Muchamad Ali Ash-Shabuni,- alih bahasa : H.Zaid Husein Al-Hamid,- Mutiara Ilmu, Semarang 1388 H.
6. AL-FAROI’ID (Ilmu Pembagian Warits, – A. Hasan, – Pustaka Progressif, Surabaya, cet ke-X, 1981
7. Muqodimah ILMU FAROIDL, – K.H. Abdullah Fadhil Ali Syiroj, – Semarang 1426 H.
8. Pelajaran FIQIH Madrasah Aliyah, – Drs. Mahrus As’ad – Drs. A. Wahid Sy.- Muharom 1418 H. – Armico- Bandung
9.

 

 

 

 

 

Entry filed under: Fiqih. Tags: .

Warits Faroidh Na Pembsgian Tauhid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Al-Manak

April 2014
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Asmaul Husna

Kategori


%d blogger menyukai ini: