11 KIAT – ULUL ALBAB

April 28, 2010 at 1:22 am Tinggalkan komentar

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah SWT. Pada kesempatan ini kami akan mencoba menuliskan materi ta’lim dengan judul “ Ulul Al-Baab Sebagai Pemimpin Yang Terpimpin ”  yang diambil dari beberapa ayat Al Quran sebagai wujud da’watunnafsi.

Dakwah merupakan salah satu syari’at Al-Quran yang wajib dilaksanakannya oleh setiap insan yang beriman, baik berupa seruan lisan, seruan dengan amal perbuatan baik, dan seruan dengan sikap atau akhlak yang baik tentunya.

Dengan demikian kegiatan da’wah merupakan suatu proses komunikasi antara pemimpin dengan yang dipimpin. Buku ini merupakan bahasa lisan yang pernah disampaikan dalam acara ta’lim kemudian dituangkan dalam tulisan dengan satu harapan dapat meningkatkan daya cerna pendengar dan pembaca sekalian, dengan konsep yang sangan sederhana ini dapatlah kiranya menambah ilmu untuk hidup bermasyarakat.

Demikian buku ini kami buat, dan tidak menutup kemungkinan banyak kesalahan dalam buku ini, untuk itu kami menantikan saran dan keritik guna membangun perbaikan generasi secara bersama-sama.

—***===***—

PONPES Shuffah Hizbullah ( Madrasah Al-Fatah)

Jln. Merdeka No :14 Kp. Baru, Cikundul, Lembursitu, Sukabumi,

Post: 43168

Print Out  ke-3

Sukabumi, 2005

Penyusun,

Nana Suryana

Daftar isi buku

Kata pengantar                                                                         i

Daftar isi buku                                                                                      ii

ULUL AL-BAAB                                                                               1

Dalil / Ayat tentang Ulul Al-Baab                                                          1

Pengertian Ulul Al-Baab

Masalah yang dihadapi Ulul Al-Baab

Bagaimana dengan generasi Ulul Al-Bab

Sebelas kiat mempersiapkan generasi yang berjiwa Ulul Al-Baab

Dalil-dalil tentang hidup bermasyarakat yang Islami

ULUL AL-BAAB

SEBAGAI PEMIMPIN YANG TERPIMPIN

Ayat-ayat tentang Ulul Al-Baab

Qs. 2 / 269

  • Berkaitan dengan masalah infaq, bahwasanya saya harus mengharap magpiroh dan karunia dari Allah.
  • Agar saya mendapatkan hikmah (difahamkan terhdap urusan Dienul Islam)

QS. 3 / 7. 190

  • Berkaitan dengan hukum yang bersifat Muhkamat dan Mutasabihat
  • Se-dapat mungkin saya harus mengambil pelajaran dan condong kepada petunjuk dari Allah ( Al-Quran )

QS. 3 / 190

  • Bahwasanya saya harus memikirkan seluruh ciptaan Allah dalam segala situasi
  • Bahwasanya saya harus berdo’a kepada Allah dengan penuh kerendahan hati

QS. 5 / 100

  • Berkaitan dengan perbedaan antara yang buruk dengan yang baik
  • Bahwasanya saya harus mengutamakan ketaqwaan kepada Allah

QS. 12 / 111

  • Berkaitan dengan kisah Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam
  • Bahwasanya saya harus dapat mengambil Ibroh dari sejarah yang tercatat dalam Al Quran

QS. 13 / 19

  • Berkaitan dengan keyakinan terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah (Al Quran), dan memenuhi janji kepada-Nya, menyambungkan shilaturrahmi, dan takut kepada Allah
  • Saya harus bersabar agar mendapatkan penempatan di Jannah ‘Adn, dan mendapatkan sambutan dari para malaikat.

QS. 14 / 52

  • Berkaitan dengan makar (rencana) Allah yang akan menang
  • Bahwasanya saya harus dapat mengambil pelajaran atas ketentuan/takdir yang telah diterima

QS. 38 / 29

  • Berkaitan dengan diberikannya otak pada manusia untuk memikirkan, dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Sehingga saya menjadi manusia yang terbaik.

QS. 39 / 9

  • Berkaitan dengan perbandingan antara orang musyrik dengan orang bertauhid
  • Antara orang yang bodoh dengan orang yang pintar / mengerti
  • Sehingga saya harus dapat menerima pelajaran dari Allah(Al Quran).

QS. 39 / 18

  • Berkaitan dengan perbedaan antara yang mu’min dengan yang kafir
  • Bahwasanya saya harus mengikuti pelajaran yang baik(dari Allah dan Rosul-Nya)

Setiap manusia, dan saya telah diberi otak sebagai wajan/ penimbang antara yang baik dengan yang buruk, antara yang halal dengan yang hara. Dengan akal saya harus dapat menerima pelajaran dari Allah baik yang sudah tersusun dalam mushaf Al-Quran, maupun yang tersirat dalam kejadian alam, kemudian saya harus mengambil ibroh, dijadikannya sebagai bahan pemikiran dan meningkatnya dzikir kepada Allah.

Saya fahami bahwa seluruh alam ini diciptakan dan dikendalikan oleh Allah dan diciptakan sebagai sarana / pasilitas kholifah dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, sehingga tercapailah tujuan hidup manusia yang sesungguhnya, yaitu memperibadati Allah.

Saya harus merendahkan hari / perasaan dalam rangka tunduk patuh atas segala titah perintah Allah. Kemudian Allah berikan petunjuk (hidayah) pada saya dengan difahamkannya dalam urusan dienul Islam, sehingga saya mendapat derajat taqwa disisi Allah.

Saya harus meraih dan mendapatkan penempatan di Jannah ‘Aden dengan keteguhan dalam melaksanakan perintah Allah dan dengan kesabaran meninggalkan hal-hal yang dilarang Allah. Semua itu akan diperoleh dengan belajar yang benar dan tujuan / niat atas keridhoan dari Allah.

—***===***—

Pengertian Ulul Al-Baab

Berdasar pada ayat-ayat Al-Quran diatas yang menerangkan tentang karakter Ulul Al Baab, Allah juga menekankan bahwa saya(manusia) dan jin diciptakan hanyalah untuk memperibadati kepada-Nya Qs. Adz Dzariyat 51 ayat 56, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa : Ulul Al Baab adalah manusia yang berakal sempurna, mengetahui makna kehidupannya di dunia dan mampu menjaga nilai hidupnya sampai kembali kepada Allah (mati).

Ulul Al-Baab merupakan kaum (suatu kelompok) yang cerdas memahami dirinya, bijaksana dalam bermasyarakat, mempunyai visi untuk selamat sampai akherat secara bersama-sama dengan Ulil Amri (Imaam) Qs. An-Nisa 59.

Ulul Al-Baab merupakan orang yang cerdas, kritis dalam memahami dan mampu merubah kondisi kepada yang lebih manfa’at pada dirinya dan lingkungannya, hingga saatnya kembali kehadapan Allah.

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling indah dan paling sempurna (Qs. At Tien ayat 4). Namun bukan berati manusia atau kita akan dapat hidup sekehendak diri (tanpa aturan), karenanya Allah memerintahkan hidup berjama’ah, saling meringankan beban, dan menyusun kekuatan untuk melawan susuh (yang membangkang) kepada Allah, yaitu iblis dan sebangsanya dari kalangan Jin dan manusia kafir juga ahli kitab. Qs. Al-Anfal ayat 46, 60, dan 73.

Idealnya kita mencontoh kepada : “ Bagaimana Rosulullah hidup sewaktu di Makkah dan ketika di Madinah ”  yang digambarkan oleh Allah dalam Qs. Al Fath 48 ayat 29. yaitu : Bersikap tegas terhadap bentuk kekufuran dan bersikap kasih dan sayang terhadap sesama Muslim dan Mu’min.

Sosok Muhammad bin Abdillah sebagai Nabi dan Rosulnya Allah telah memberikan Ushwatun Hasanah bagi ummatnya. Sebagai orang yang memiliki empat sifat yang harus kita contoh, yaitu : Shiddiq (senantiasa benar berdasar Al Quran dalam berkata dan bertindak). Fathonah (cerdas dalam menghadapi masalah sehingga mencapai ishlah diantara ummatnya). Amanah (jujur dan tepat waktu dalam menjalankan kewajiban). Tabligh (penyanpai / da’wah kebenaran yang datangnnya dari Allah).

Para sahabat mencontoh pola kehidupan secara pribadi dan kehidupan bermasyarakat kepada Rosulullah, utamanya khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin (Abu Bakar,  Umar, Utsman, dan Ali) sebagai bentuk kepemimpinan Islam yang pertama setelah berakhirnya fase kenabian, mereka berusaha dengan maksimal dalam menempuh jejak kenabian. Jejak kekholifahan fase khulafaurrosyidin itulah yang harus kita contoh dalam kehidupan bermasyarakat kita saat ini, sebagaimana sabdanya Rosulullah “ ‘Alaikum bisunnaty wa sunnatul  khulafaaurrosyidiin al mahdiyyin ” maksudnya “ Wajib atas kamu mengikuti sunnahku dan sunnhnya khulafaurrosyidin al Mahdiyyin ” bukan sunnahnya masa mulkan/kerajaan setelah kholifah ke-4 (Ali bin Abi Tholib).

Demikian sekelumit problem yang harus dihadapi kita saat ini, sebagai ummat yang berakal hendaknya segera kembalikan permasalahan ummat ini kepada Allah dan Rosul-Nya (QS. An Nisa 59).

Masalah yang dihadapi Ulul Al-Baab

Sudahkan kita memposisikan diri sebagai generasi Nabi dan Khulafaurrosyidin ?… sebuah ungkapan yang penuh introspeksi diri adalah modal untuk memperbaiki diri dan mencapai derajat Kuntum Khoiro Ummat.

Sebenarnya kita adalah generasi para Nabi, maka marilah bersegera untuk menjadi pengawal khilafah ( pelaksana Al-Quran dan As-Sunnah) dengan diawali dari diri kita, dengan demikian insya-Allah kita akan mudah membawa generasi kita untuk terhindar dari api neraka.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS. At Tahrim 66 ayat ke-6.

Gunakanlah potensi kelebihan kita untuk melengkapi dan memperbaiki kekurangan atau kelemahan saudara kita dalam melaksanakan syari’at Islam, juga kita manfatkan kelebihan yang ada pada orang lain untuk melengkapi dan memperbaiki kekurangan diri kita. Maka akan terjadilah kerjasama (berjama’ah) dan ta’awanu ‘alal birri wattaqwa dan saling menjaga diantara kita agar tidak terjerumus kedalam dosa (tafaruq/perpecahan) yang mengakibatkan dimasukkannya kita ke Neraka.

Orang yang berjiwa Ulul Al-Baab akanlah ia memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin atas dirinya, juga atas keluarga dan lingkungannya sehingga ketika kita dipercaya untuk mengembala ummat (sebagai Imam / Amir) mungkin juga kita ditugaskan sebagai kepala bagian dari sistem keimarohan. Seorang yang berjiwa Ulul Al-Baab disamping ia sebagai pemimpin tidak lupa bahwa dirinya adalah hamba Allah yang harus bermasyarakat yang terkendali / tebimbing oleh Al-Quran dan menyesuaikan dengan contoh Rosulullah.

Jika kita merasa telah memposisikan diri sebagai generasi Nabi dan kholifah, sementara generasi kita belum terbimbing, bahkan mereka enggan diajak melaksanakan Al-Quran, maka kita akan terbawa / terhisab dihadapan Allah sebagai orang yang menelantarkan generasi dan akan dimintai pertanggungjawaban. Fahamkan  QS. At-Tahrim ayat 6 dan An-Nisa ayat 9.

Hendaklah kita takut sekiranya meninggalkan generasi yang lemah, baik pisik, akidah, dan material.

Bagaimana dengan generasi kita ?……

Pertanyaan terebut sepertinya ringan, namun ketika berusaha menjawabnya ternyata butuh waktu dan pengalaman untuk menjawabnya. Karena kondisi manusia sangatlah banyak perbedaan  baik secara pisik, mental dan yang mempengaruhinya.

Jika anak dibesarkan dengan celaan

Anak belajar menyesali diri secara berlebihan

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan

Anak belajar rendah diri(tidak percaya diri)

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan

Anak belajar memaki orang lain

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan

Anak belajar berkelahi/tauran

Jika anak dibesarkan dengan dukungan

Anak belajar menyenangi diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan

Anak belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian

Anak belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan toleransi

Anak belajar mengendalikan emosi

Sebelas kiat mempersiapkan generasi yang berjiwa Ulul Al-Baab

Dalam rangka menjawab tantangan yang dipertanyakan sebelumnya, kami berusaha memaparkan sebuah pengetahuan (wacana) dalam mempersiapkan diri dan generasi yang berjiwa Ulul Al-Baab, dengan sebelas kiat menjadi generasi Ulul Al-Baab, sebagai berikut :

  1. 1. Tengoklah sejarah / mengambil ibroh dari kisah para Nabi dalam Al Quran

Bagaimana para Nabi membina keluarga dan ummatnya, khususnya kami cuplik kisah Nabi Ibrahim dalam memberikan bimbingan pada anak-anaknya dan bagaimana sikap anaknya terhadap seruan yang dibawakan ayahnya, coba kita perhatikan QS. Al-Baqoroh ayat ke-130

  1. Membrikan pengajaran tentang dienul Islam

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. : “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

  1. Memberikan ultimatum / peringatan jangan sampai melepaskan diri dari syari’at Islam, sehingga kematian menjemput kita, QS. Ali Imron ayat 102-103.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

  1. Memberikan evaluasi atau tes, sejauh mana generasi kita memahami dan mengamalkan Syari’at Islam.

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan  maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq,  Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Kisah-kisah yang berkaitan dengan pembinaan terhadap keluarga (istri dan anak), disamping kisahnya Nabi Ibrahim diatas masih ada  kisah Nabi Adam, Nuh, Ayub, dan Nabi Muhammad SAW. Dll.

  1. 2. Jadikan anak sebagai sabjek (pelaku) dalam kehidupannya

Setelah kita paparkan berbagai sejarah, sehingga anak kita memiliki kecenderungan kepada apa yang telah kita ceritakan, namun demikian masalah hidup akan terus ada, karena hakekat masalah adalah untuk meningkatkan kualitas nilai hidup kita. Yang paling penting untuk generasi kita adalah menanamkan rasa memiliki secara bersama-sama dengan cara dilibatkan atau dikut sertakan dalam kegiatan positif.

Suatu problem yang sudah lama, sulitnya mendidik atau mengarahkan anak agar mau mengikuti perintah orang tuanya, kondisi kejiwaan seorang anak sangatlah berbeda karena alam dan lingkungan yang berubah dan kalaulah orang tua tidak bisa menyeimbangi kondisi perubahan peradaban zaman, dia akan selalu mengalami masalah dalam mengarahkan anaknya.

Kinilah saatnya kita berubah dan beralih pada pola pendidikan yang menuju kreatifitas anak sesuai dengan pola perkembangan yang dimiliki anak kita. Arahkan kegiatan anak kita sesuai dengan potensi positif yang dimilikinya, dan berikan tekanan terhadap potensi negatif yang muncul pada diri anak sedikit-demi-sedikit, perlahan, dan dengan bimbingan yang aktif.

Libatkan anak dalam segala kegiatan positif, seperti : ketika kita bergotongroyong membangun masjid, membersihkan got, memperbaiki jalan, ajarkan ia untuk hidup hemat dengan menabung, ajarkan ia berinfaq pada kotak menjid, atau pada pakir miskin, libatkan ia dalam kegiatan remaja mesjid, dll. Sehingga ia terbiasa berlaku baik dalam bermasyarakat.

Rosulullah ketika masih kecil pernah mengembala kambing  kemudian beliau mengambil pelajaran dan hikmahnya berdasarkan wahyu dari Allah sehingga beliau menjadi pemimpin tersukses di Dunia ini. Jadikan pelajaran penting atas segala kegiatan anak kita.

Rasulullah pernah mengirimkan pasukan perang yang dipimpin oleh Usamah bin Ziyad yang berumur 19 tahun. Dan beliau pun pernah memberikan saran pada anak muda, agar tidak terlibat dalam pertempuran dan memerintahkannya untuk memperdalam syari’at Islam : sebagaimana tergambar dalam. QS. An-Nisa 9 ayat ke-122.

Rosulullah mengutamakan seruan ma’ruf daripada nahi munkar, dan beliaupun senantiasa mengarahkan pada yang positif kemudian mencegah dari yang munkar.

Salah satu contoh interaktip antara orang tua dengan anaknya : Nas, Bapak senang pada Nasrul, karena nasrul anak yang baik, bisa mandi sendiri, suka bantu ibu, suka bantu bapak, rajin belajar, rajin mengaji, dan baik pada sesama.

Dengan gambaran tersebut, seorang anak tidak akan merasa tertekan dalam aktifitasnya, bahkan ia akan tumbuh kesadaran dan memiliki rasa tanggung jawab. Insya-Allah.

  1. 3. Berikan motivasi fositif

Setelah adanya persamaan-persamaan dan kerjasama, maka berikanlah motivasi sebagai perekat kesinambungan hidupnya.

Agar anak tumbuh dan berkembang secara wajar dan positif, carilah motifasi dengan kisah-kisah teladan dari kalangan para Nabi dan shabatnya, atau dari tokoh-tokoh Islam lainnya. Seperti kisah Nabi Isma’il AS. Nabi Ayub,  Nabi Ibrahim, Nabi Musa. Dll.

Kisah-kisah tersebut dapat diceritakan pada anak-anak kita saat santai (istirahat) dan berikan ibroh / hikmahnya, cerita dapat disampaikan saat menjelang tidur, atau disaat berlibur mentadabburi alam ciptaan Allah. Bahkan disaat kita nonton TV, hendaknya kita memberikan komentar atas apa yang ditonton. Contoh : ketika yang ditonton itu baik, maka berikan komentar “ Bapak ingin kamu seperti itu / jika kamu seperti itu akan mendapatkan kebahagiaan seperti dia ” dan jika tontonan itu bernilai negatif/buruk maka berikan komentar “Bapak tidak ingin seperti itu / jika kamu seperti itu akan mendapatkan kecelakaan seperti dia ”.

Dengan demikian akan terjadi penyaringan pandangan dan pendengaran, terutama dalam hatinya akan tertanam benih kecerdasan memilih antara yang baik dan yang benar, atas kesadaran dirinya. Kemudian meninggalkan segala keburukan.

  1. 4. Lakukan pengawasan extra

Pengawasan / controling merupakan tindakan yang paling penting dalam sebuah program, dan pengawasan merupakan titik antara keberhasilan dan kegagalan

Dalam peradaban ini Allah telah memberikan gambaran, bahwa setiap manusia harus memperhatikan diri dan linkungannya, serta akibatnya (sabab musabab/akibat), salah satu contohnya :

Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”

Orang tua hendaknya mengetahui jadwal kegiatan anak, kegiatan apa yang diikuti / dilakukan diluar sekolah, kemana mereka bermain, dan siapa teman-temannya.

Dengan mengetahui teman-temannya akanlah diketahui siapa anak kita yang sebenarnya, saat diluar jangkauan pandangan kita. Sesekali orang tua harus memanggil teman-temannya baik yang pria atau pun perempuan, khususnya teman yang paling dekat dengannya.

Jika anak kita kurang aktif keluar rumah (kurang gaul). Lakukalah penambahan acara keluarga dengan silaturrahmi untuk mengenal famili, pergi ke perkebunan / pegunungan untuk mengenal tumbuh-tumbuhan, pergi ke kebun binatang untuk mengenal dunia binatang, atau ke tempat wisata yang lebih baik atau tidak mengandung kemaksiatan.

  1. 5. Berikan nilai atau peenghargaan atas hasil usahanya

Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. QS. Al Mukmin 40 ayat 40.

Penghargaan merupakan spirit(penyemangat) untuk mengerjakan pekerjaan berikutnya, berikanlah pujian atas usaha yang dilakukannya, dan janganlah kita memberikan pujian atas hasil kerjanya dengan berlebihan, karenanya akan menbuat kebanggaan(sombong/ria) bagi orang yang dipujinya dan mematahkan semangat bagi orang yang kurang memiliki nilai dalam prestasinya, atau akan menimbulkan kecemburuan yang tidak terkontrol.

Yang lebih buruk lagi akan menumbuhkan dendam, kemudian akan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan pamor, demi tercapainya prestasi tanpa menghiraukan halal dan haram.

Juga, kita harus menghindari pujian yang diiringi niat tertentu atau maksud setelah pujian itu, contoh : Nas, Nasrul kan kuat. Tolong angkatkan ember / ambilkan air di belakang.

Dengan pujian yang diikuti suatu beban, maka akan tumbuh dalam jiwa nasrul sifat keterpaksaan, kekecewaan, kemudian nasrul akan selalu berusaha menghindari pertemuan dengan sang bapak, karena takut diperintah.

  1. 6. Berikan waktu, dan berikan pilihan kegiatan

Waktu ini bagaikan pedang, dalam waktu seseorang akan mendapatkan kebahagiaan dan kehancuran, dalam kehidupan antara bapak/Ibu dan anak harus menjalin kesepakatan dalam menjalankan tugas dan kewajiban, maka carilah kesepakatan waktu diantara sesama kita, contoh : Siapa yang mau membantu Ibu di dapur………..Siapa yang mau membersihkan halaman rumah………..Siapa yang………….

Dengan demikian seorang kepala keluarga akan mudah megontrol tugas siapa yang belum selesai, dan mudah menegur atas kesalahannya, bila perlu buatkan jadwal kegiatan rumahtangga atas dasar kesepakatan.

Malaikat Jibril pun memberikan pendidikan kepada Nabi Muhammad,  dengan sebuah pertanyaan : Apakah yang dimaksud dengan Iman,…………….Apa yang dimaksud dengan Islam…………….Apa yang dimaksud dengan Ihsan………………..

  1. 7. Berikan arahan yang positif dan teguran atas kekeliruannya

Sebagai wujud kasih sayang yang sejati perlu diingat bahwa yang di hukum bukan orangnya, melainkan atas perbuatannya yang salah. Sebelumnya ia harus diberikan bimbingan, pengarahan, sesuai tingkatannya, jika anak umur tujuh tahun mulai diberi bimbingan sholat, jika sudah berumur 10 tahun belum juga mengerti / melaksanakan sendiri boleh ditegaskan dengan pukulan (anggota badan yang tidak lemah).

Hukuman harus propesional bukan emosional, dalam artian harus disesuaikan dengan kondisi dan tingkat kesalahannya, juga penyebab yang menyebabkan ia berbuat kesalahan tesebut.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan  karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. Al Maidah ayat 8

Dalam suatu kisah diceritakan, seorang laki-laki datang kepada Kholifah Umar dengan pengaduan “seseorang yang telah mencuri”, lalu Umar menanyakan, mengapa engkau mencuri, pencuri menjawabnya, karena sudah tiga hari tidak menemukan makan. Kemudian Umar mengumpulkan orang-orang kaya dan memberikan peringatan atas kelalaian dalam menjaga orang fakir dan miskin. Dan menasehati pencuri, untuk tetap bersabar.

  1. 8. Tumbuhkan kasih dan sayang

Terkadang  kita ingin dihormati oleh sesama, namun sudahkah kita memberikan penghormatan pada orang lain. Terkadang kita ingin dikasih dan disayang, sementara kita belum bisa berkasih sayang pada mereka.

Hakekat kasih dan sayang adalah pemberian dari Allah, karena Allah-lah yang menggerakkan hati nurani seseorang untuk meraih kasih dan sayang, dengan cara mendekatkan diri kepada Allah.

Jika kita ingin dikasihi tetapi tidak mau mengasihi orang lain, jika kita ingin disayangi tetapi tidak mau menyayangi orang lain, itu merupakan sifat yang termasuk sifat iri dan dengki bahkan takabur / sombong karena inginnya dilayani.

Allah telah firmankan dalam Al-Quran :

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat  kepadamu , dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari -Ku. QS.Al-Baqoroh ayat 152.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku  akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Al-Mukmin 40 ayat 60.

  1. 9. Berikan uswah (contoh yang baik)

Uswatun hasanah merupakan magnet yang memiliki kekuatan yang dakhsyat, bahkan akan dijadikan sebagai landasan hukum oleh generasi kita kelak (hukum adat), kenapa tidak ?……. Baik dan buruknya contoh yang diterimanya akan terekam dalam benak mereka, dan menjadi gambaran hihupnya didunia ini.

Al-Hadits Rosulullah  :

“ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka orang tuanya lah yang menjadikan ia menjadi Yahudi, Nasranai, dan Majusi ”

Dengan demikian batapa pentingnya peranan pendidikan orang tua terhadap anaknya, pengertian orang tua tidak hanya sebatas ibu dan bapaknya, tetapi orang tua  bisa juga diartikan sebagai gurunya, keluarganya, dan masyarakatnya. Yaitu yang mempengaruhi jiwanya secara khusus dan umum.

Ketika seorang  anak jujur mengakui kesalahannya yang pernah dilakukan, kemudian orang tuanya memarahi dan memukulnya, maka seorang yang telah jujur tersebut berkesimpulan “ Kejujuran akan menimbulkan kemarahan, dan pukulan yang menyakitkan ”

Ketika datang seorang tamu dengan mengetuk pintu, kemudian sang Bapak menyuruh Nasrul, Nas. Lihatlah siapa tamu yang datang, jika yang datang itu pak Ahmad, suruh ia masuk, dan jika bukan pak Ahmad, maka katakan bapak sedang tidak ada di rumah. Dengan kisah tersebut maka anak berkesimpulan “  Bapak berbohong ” maka saya pun boleh berbohong.

Cerita diatas menggambarkan proses pendidikan yang tidak disengaja dan tidak disadari kesalahannya, namun akan menjadi pola kehidupan generasi kita kelak. Dalam benak dan jiwa anak tertanam sifat takut akan kejujuran, dan akan berani membohongi hati nuraninya, membohongi orang lain.

10. Introspeksi diri

Ketika kesunyian mencekam, ataupun kegembiraan membungkam hati menjadi sepi dari dzikir kepada Allah, maka jiwa manusia akan semakin gersang, hidupnya terasa hampa tanpa ma’na.

Perenungan terhadap kenyataan yang dirasakan pahit bisa jadi membawa rahmat dan tambahan ilmu, namun sebaliknya bisa jadi membawa kearah kesengsaraan dan kehidupan menuju celaka karena ulah dirinya.

Berbagai rintangan hidup telah kita hadapi, terkadang kita kalah dengan sikap marah dan tergesa-gesa sehingga berakhir dengan penyesalan diri, mengapa kita berbuat demikian. Kadang kita tidak merasakan kemenangan bahkan merasa terhina karena kita bersabar dalam menhadapi masalah, sementara.

Allah telah memberikan solusi bagi kita, saat kita delam kegembiraan ataupun dalam kebimbangan, yaitu hendaklah kita bersyukur dan bersabar (sabar dalam menerima kerunia dari Allah dan sabar ketika menghadapi ujian dari Allah) maka Allah beserta orang-orang yang sabar.

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak kejadian  golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Al-Baqoroh ayat 249.

Dengan demikian kita akan mampu mengadakan introspeksi diri dan mengejar target hidup, hingga mencapai kesuksesan.

“Bacalah kitabmu(introspeksi diri), cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu” QS. Bani Isroil ayat 14.

11. Tumbuhkan sikap berjama’ah

Sekian materi tentang kehidupan, banyaknya ilmu tentang penanganan masalah hidup, banyaknya pakar ilmuan di dunia ini, namun rasanya makin banyak manusia yang perlu kita perbaiki bersama.

Kita perhatikan semakin banyaknya bentuk-bentuk pendidikan, namun hasilnya sangatlah sedikit sekali. Bahwa sejarah telah kembali ke jaman jahiliyah modern, dulu Islam dan muslimin Jaya memimpin peradaban dunia, dari mulai perekonomian, sains dan teknologi. Sayangnya sejak kepemimpinan muslimin Khulafaur Rosyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali +/- 30 tahun ) dirubah dan digantikan dengan sistem mulkan / kerajaan, akhirnya muslimin mengalami kemunduran dan kekalahan.

Sejak wafatnya Ali (kholifah ke-4) sedikit demi sedikit sistem kekhilafahan dikikis habis (pencampuran sistem khilafah dengan sistem mulkan) hingga hancurnya Turki Utsmani tahun 1924 M. Ini merupakan kehancuran kaum muslimin yang paling patal dan tumbuhlah sistem demokrasi parlementer yang dibawakan oleh Kammel Attatruq.

Sejak tahun 1924 M. kamun muslimin menjadi orang yang terjajah, sampai saat ini munkin masih banyak yang terjajah dengan paham-paham orientalis, kapitalis yang disebarkan oleh orang-orang yang benci terhadap Islam dan muslimin.

Indonesia terjajah secara pisik oleh Jepang dan Belanda, disamping itu kaum muslimin terjajah secara aqidah (saat penjajahan berlangsung, kaum muslimin tidak boleh menterjemahkan Al Quran kedalam bahasa daerah) tidak boleh mendakwahkan syariat Islam, sehingga banyak kaum muslimin yang syahid karena mempertahankan aqidahnya, semoga mereka tergolong kepada ahli surga.

Yakinlah bahwa Allah punya makar yang tidak akan terkalahkan, suatu kenyataan membutkikannya, sampai saat ini Islam tetap berkibar, tinggal kita perbaiki aqidah masing-masing.

Sudahkah ibadah kita sesuai dengan perintah Allah ?…..

Sudahkah kita berkiblat, dan beruswah kepada Rosulullah ?….

Sudahkah kita berada dalam khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah?…

Sudahkah kita berjama’ah?….

Benarkah keberjama’ahan kita sesuai dengan contoh Rosulullah ?….

Apakah kita termasuk Hizbullah. Atau Hizbusy Syaithon ?….

Berjama’ah adalah ciri orang yang beriman, berpecah-belah adalah ciri orang musrik (musyrik yang paling besar) lihat QS. Ar Ruum 30 ayat 30 32.

Dalil-dalil tentang hidup bermasyarakat yang Islami

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali  Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu  bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. QS. Ali Imrom 3 ayat 103.

dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, QS. Ar Ruum 30 ayat 31.

yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka  dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. QS. Ar Ruum 30 ayat 32.

Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu  atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan  dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti  agar mereka memahami”. QS. Al-An’aam 6 ayat 65.

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul , dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah  dan Rasul , jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama  dan lebih baik akibatnya. QS. An-Nisa 4 ayat 59.

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri  di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya  mengetahuinya dari mereka  . Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja . QS. An-Nisa 4 ayat 83.

Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu”. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama  yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah , sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu”. QS. Al-A’rof  7 ayat 71.

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya  nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.  Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu.  Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.  Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” QS. Yusuf 12 ayat 40.

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk  nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. QS. An-Najm 53 ayat 23.

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan  yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. QS. Al Mujadilah 58 ayat 22.

Bahwasanya orang-orang yang  berjanji  setia  kepada  kamu  sesungguhnya mereka  berjanji  setia kepada Allah . Tangan Allah di atas tangan mereka , maka barangsiapa yang melanggar janjinya  niscaya  akibat ia  melanggar  janji  itu  akan  menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan  memberinya  pahala  yang besar. QS. Al-Fath 48 ayat 10.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.  janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya  daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. QS. At-Taubah 9 ayat 111.

أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زُبَيْدٍ الْيَامِيِّ عَنْ أَبِي الْعَجْلَانِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ ثَلَاثٌ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَالنَّصِيحَةُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ وَلُزُومُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ دُعَاءَهُمْ يُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“ … dari Abi Darda ia berkata, telah berhutbah Rosulullah pada kami, beliau bersabda : Allah telah memperhatikan seseorang yang mendengar diantara kami  suatu hadits kemudian ia menyampaikannya seperti yang ia dengar, maka menjadi penyampai diantara yang mendengar. “Ada tiga hal yang tidak akan ada prasangka buruk dalam hati seorang muslim diantara mereka, yaitu : ikhlash beramal karena Allah, menasehati setiap muslim, dan menetapi Jama’ah Muslimin. Karena sesungguhnya da’wah mereka menyertai mereka ”.

أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الزَّهْرَانِيُّ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ شَهِدَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي وَاللَّهِ لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ يَوْمِي هَذَا بِمَكَانِي هَذَا فَرَحِمَ اللَّهُ مَنْ سَمِعَ مَقَالَتِي الْيَوْمَ فَوَعَاهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ وَلَا فِقْهَ لَهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ أَمْوَالَكُمْ وَدِمَاءَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ هَذَا الْيَوْمِ فِي هَذَا الشَّهْرِ فِي هَذَا الْبَلَدِ وَاعْلَمُوا أَنَّ الْقُلُوبَ لَا تُغِلُّ عَلَى ثَلَاثٍ إِخْلَاصِ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةِ أُولِي الْأَمْرِ وَعَلَى لُزُومِ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

… dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya. Bahwasanya ia menyaksikan hutbahnya Rosulullah pada hari ‘arofah ketika haji wada : Wahai sekalian manusia, aku bersumpah demi Allah tidaklah aku mengetahui yang lebih tinggi, tidaklah aku jumpai kalian setelah hari ini, ditempat ini maka rahmat Allahlah bagi siapa yang mendengar ucapan ku hari ini, kemudian memperhatikannya. Maka menjadilah orang yang paham tapi tidak memahamkan bagidirinya, dan orang yang paham menjadikan dirinya sebagai orang yang paling paham diantaranya. Dan ketahuilah bahwasanya harta kamu, darah kamu haram atas kamu seperti haramnya hari ini, bulan ini, dan negeri ini. Ketahuilah bahwasanya hati itu tidak akan terjangkit penyakit ghil(dendam) atas 3(tiga) hal, yaitu : Ikhlas beramal karena Allah, menasehati Ulil Amri, dan menetapi Jama’ah Muslimin . Maka sesungguhnya da’wahnya mereka menyertai mereka ”.

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَتَبَ الرَّبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ وَصِيَّتَهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ هَذَا مَا أَوْصَى بِهِ الرَّبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ وَأَشْهَدَ اللَّهَ عَلَيْهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا وَجَازِيًا لِعِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَمُثِيبًا بِأَنِّي رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَإِنِّي آمُرُ نَفْسِي وَمَنْ أَطَاعَنِي أَنْ نَعْبُدَ اللَّهَ فِي الْعَابِدِينَ وَنَحْمَدَهُ فِي الْحَامِدِينَ وَأَنْ نَنْصَحَ لِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ

….berkata : telah mencatat Robi’ bin Khutsaim wasiatnya “ Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, inilah apa yang telah diwasiatkan olehnya : Aku bersaksi kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai saksi dan pemberi balasan terhadap hamba-hamba-Nya yang sholeh……….., Bahwasanya aku ridho Allah sebagai Robku, Islam sebagai agamaku, Muhammad sebagai Nabi ku. Dan aku perintahkan diriku dan orang yang mengikuti ku agar menyembah Allah hingga ditetapkan sebagai ahli ibadah, dan hendaknya memuji Allah hingga ditetapkan sebagai orang yang selalu bertahmid kepada-Nya, dan hendaknya menasehati untuk menetapi Jama’ah Muslimin ”.

أَخْبَرَنَا يَعْلَى حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ دَمُ رَجُلٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِلَّا إِحْدَى ثَلَاثَةِ نَفَرٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

…..dari ‘Abdillah, ia berkata, bersabda Roasulullah : Tidaklah halal darahnya seseorang yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan selain Allah, kecuali salahsatu dari yang tiga. Seseorang yang bunuhdiri, tetangga yang berjina, dan yang meninggalkan dien(agama)nya, yang meninggalakan Jama’ah.

Entry filed under: Akhlaq, Aqidah. Tags: .

MEMBANGUN MASYARAKAT BERADAB MENJEMPUT MASA DEPAN YG BAIK EMPAT LANGKAH SEBELUM PERSIAPKAN KADER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Al-Manak

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Asmaul Husna

Kategori


%d blogger menyukai ini: