PROTEKSI ANAK KITA

Maret 4, 2010 at 6:54 am Tinggalkan komentar

PROTEKSI ANAK KITA

(by.  na.azzamy@yahoo.co.id )

Jum’at 28 maret 2008 Waliyyul Imaam Jawa Barat (Abdur Rahaman Sony M.BA) pada saat khutbah jum’at beliau menekankan agar semua kaum muslimin memprotek (membentengi) anak dari pengaruh lingkungan, karena lingkunganlah yang mencetak karakter generasi kita.

Hendaknya kita berusaha agar tidak meninggalkan generasi yang lemah sebagaimana Allah telah menegaskan di dalam QS . An-Nisa ayat 9. dengan cara menjaga diri dari hal-hal tidak baik (yang dilarang Allah), dengan adanya perlindungan diri insya-Allah keluarga pun agan terlindung dari hal-hal yang dilarang Allah, sehingga terhindar dari ancaman Api Neraka. Mengapa demikian ?……. karena anak akan senantiasa merekam apa yang ia lihat, anak akan selalu merekam apa yang ia rasakan, dan anak akan selalu merekam ke dalam otaknya  apa yang menimpa pada dirinya dan akan mengikuti atau melakukan apa yang telah ada dalam otaknya.

Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaannya, terlebih di dalam QS Ali Ilron ayat 110 dengan berjama’ah (satu pemimpin) akan melahirkan generasi yang unggul. Manun mengapa saat ini ummat Islam masih tertindas, teraniaya, terjajah, terusir, itu adalah pertanyaan dan persoalan yang harus kita selesaikan.

Di salah salah satu komunitas masyarakat umum yang penuh dengan kemusyrikan dengan kebiasaannya telah melahirkan generasi yang musyrik, di salah satu komunitas masyarakat sekolah yang penuh dengan pola hidup mewah dengan kebiasaannya telah menanamkan karakter hidup mewah(mubadzir) pada generasinya, di salah satu kemunitas keluarga yang sering bertengkar, dengan kebiasaannya telah menanamkan karakter ego(pemarah) pada anak dan keluarganya. Demikian besarnya pengaruh lingkungan, Nabi bersabda dalam salah satu hadits “Seorang anak terlahir dalam keadaan suci, maka ibu bapaknyalah yang mengkondisikan bahwa anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi

Kenyataan tersebut berawal yang disebabkan dari pola pendidikan terhadap generasi, maka kita harus berusaha memperbaiki sistem pendidikan, pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah, pendidikan di lingkungan masyarakat luas. Al hamdulillah kita telah memiliki sistem pendidikan sendiri (al-Fatah) teinggal kita mensyukurinya. Syukur dalam artian memaksimalkan kemampuan kita untuk menjungjung, mendukung proses pendidikan yang telah ada hingga mencapai tujuan dari pendidikan dengan maksimal.

Untuk itu kita harus melakukan tindakan prepentif (pencegahan) dengan penguatan pada arah positif, berikan acara-acara yang mengarah pada hal-hal yang mendukung perkembangan jiwa anak untuk lebih dewasa seperti berlibur dengan seluruh anggota keluarga dalam sela-sela hari libur sekolah, berikan belaian cinta kasih disaat waktu luang dan santai, dan berikan waktu untuk belajar bersama keluarga, berikan perhatian atas segala permasalahan yang dihadapinya, dan lakukan pencegahan-pencegahan atas pengaruh-pengaruh negatif terhadap anak-anak kita terutama acara – acara TV. VCD.

Berikan pendampingan pada saat anak menonton TV / VCD, berikan komentar pada anak bahwa tayangan TV / VCD itu tidak baik, jangan di tiru karena kalau ditiru akan berakibat buruk, sehingga anak benci dan tidak mau mengikuti adegan buruk tersebut. Dan berikan komentar pada acara yang baik sehingga anak menginginkan mengikuti adegan tersebut.

DOSA IBU BAPAK

Pada proses penciptaan manusia, Allah-lah yang berkuasa menciptakannya, namun baik-buruknya hasil yang diinginkan manusia adalah suatu akibat dari baik-buruknya proses dalam mempersiapkan lahand an benih yang ditanamnya.

Yang menentukan dan bertanggungjawab terhadapnya adalah suami-istri, dalam hal ini Allah telah memberikan ushwah, yaituRosulullah saw, bahklan bukan hanya pada proses pembuatannya saja, melainkan  sejak awal ketika kita menentukan calon suami / calon istri, Rosulullah saw telah menganjurkan agar memilih benih yang baik agamanya, baik keturunan/ nasabnya, baik hartanya, dan baik wajahnya.

Dalam proses pun dianjurkan pada suami-istri untuk membaca do’a perlindungan dari pengaruh syetan, dan persnggamaannya pun dengan cara-cara yang baik agar tidak menimbulkan beban / penyakit psikis, apa lagi cara-cara yang dapat menimbulkan penyakit, seperti AIDS / HIV, dan IMS.

Ketika benih janin telah tertanam, dan dalam proses pertumbuhan, ada hal banyak terlupakan banyak orang, yaitu : (1). Memberikan sentuhan kasih-sayang pada istri dan anak yang ada dalam perut istrinya, (2). Memberikan pendidikan akhlakul karimah, terutama sang istri yang mengandungnya ia wajib menjaga akhlaknya, juga suaminya, mengapa ?… karena jika suami berprilaku tidak baik akan mempengaruhi pada kondisi istri dan berpengaruh pula pada anak dalam kandungannya, (3). Memberikan sentuhan pembelajaran pada bayi, banyak cara untuk hal itu, diantaranya : dengan diperdengarkannya ayat-ayat Al-Quran, dibacakannya tarikh, atau di setelkan tape di dekat perut istrinya, (4). Memberikan bimbingan ibadah, dengan cara suami-istri membiasakan membaca Al-Quran bersama-sama, Sholat tahajud bersama-sama, sholat dhuha bersama-sama, berdo’a bersama-sama.

Jika bayi dalam kandungannya sudah terbiasa mendapatkan minimalnya 4 hal diatas insya-Allah anak tersebut akan terlahir dengan baikdan sehat(fithroh) namun tanggungjawab bapak dan ibunya tidak cukup atau berakhir sampai disitu, orangtua masih bertanggungjawab sampai anak tersebut dewasa atau baligh, dan hal pendewasaan anak tersebut akan dimintkan pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Kondisi saat ini telah banyak pasilitas pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, MTs, MSU, sampai Perguruan Tinggi, namun terkadang ada orang tua yang lengah karena beranggpan telah menitipkan anaknya pada salh satu lembaga pendidikan. Selain itu orang tua kini telah tenggelam dan terlena dalam mengejar kebahagiaan yang fiktif, yaitu : nilai kebahagiaan yang dinilai atau  diukur denga jumlah material(kekayaan materi) belaka, mereka telah tertimpa penyakit akhir zaman “WahanWahan adalah kecintaan terhadap dunia dan takut mati dengan tidak didasari iman kepada pemnciptanya.

Kini merka (orang tua) disibukkan dengan sebuah pertanyaan “Bagaimana menghasilkan uang ?….” sementara tanggungjawab terhadap anak dan keluarganya terlupakan, terbengkalai, akhirnya anak kekurangan vitamin cinta, kasih-sayang dari orang tuanya. Lebih-lebih sekarang ini semaraknya wacana “Wanita karir”, inilah awal dari kehancuran anak(generasi) kita, yaitu : kurang vitamin Cinta, Kasih-sayang orang tua.

Seorang anak ketika membutuhkan cinta-kasih dari orang tuanya, dan ia tidak mendapatinya, maka ia akan mencari orang lain baik taman sebayanya, sanak keluarganya, bahkan lawan jenisnya. Untung-untung jika orang yang menjadi pelimpahan masalahnya itu orang yang bertanggung jawab, maka ia akan diarahkan pada hal-hal yang baik(positif), dan jika ia salah mengambil teman maka ia akan terjerumus pada hal-hal yang tidak baik sampai pada kemaksiatan kepada Allah swt. Dan semakin lama ia bergaul dalam hal yang negatif maka akan semakin susah untuk memperbaiki kindisinya, dan semakin jauh dari kebaikan. Salah satu ciri kenegatipan seseorang adalah menjauhnya dari kehidupan Masjid dan tidak memiliki ketha’atan pada Allah, ketha’atan pada Rosulullah, dan pada Ulil Amri .

Kalau sudah sampai/terjadi seperti hal itu, siapa yang bertanggungjawab ?…. dan salah siapa ?….Tentunya tidak ada yang ingin disalahkan, yang jelas ketika anak berbuat maksiat pasti ada sebabnya, dan jalan alternatif untuk menangani permasalahn tersebut adalah kita  sama-sama menyadari diri, dan kita sam-sama membuat komitmen(kesepakatan bersama) untuk membentuk perubahan, dengan cara :

  1. Meniatkan diri untuk berpacu dan memperbaiki diri sendiri
  2. Memperbaiki suami/istri untuk lebih konsentrasi pada perhatian, memberikan cinta kasih pada anak kita dengan maksimal
  3. Memperbaiki lingkungan untuk lebih islami dengan menyesuaikan diri pada Al-Quran, Sunnah Rosulullah dan berdasarkan pada pengarahan Ulil Amri (Imam)
  4. Mendukung proses pendidikan yang telah melembaga, dengan cara memperhatikan anak pada saat-saat jam pelajaran pagi, siang, sore, sampai malam menjelang tidurnya. Apakah anak berangkat sekolah dengan berpakaian rapi ?…Apakah anak berprilaku baik atau sebaliknya ?…..Apakah anak suka pergi mengaji / sholat di Masjid ?…..Dengan siapa anak bergaul ketika pulang dari sekolahnya ?…. Dan datanglah ke sekolah tanyakan pada guru di solah atau ustadznya tentang kondisi anak kita, kemudian bimbinglah, atau dampingilah, dan awasi anak kita pada saat belajar di rumah.
  5. Protek(bentengi) anak dari pengaruh TV / VCD. Arahkan anak untuk lebih aktif pada acara-acara yang diselenggarakan sokolah atau di tempat ia mengaji, dengan cara aktif di sekolaha atau di Masjid anak akan terhindar dari penyakit TV / VCD

Ingatlah !….

Semua orang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan dirinya selama di dunia, dari mulai dewasa(baligh) sampai kematian menjemputnya. Seorang Imam akan dimintai pertanggungjawaban atas permasalahan ummatnya. Seorang bapak akan dimnitai pertanggungjawaban atan permasalahan istri dan anaknya. Seorang Ibu akan dimintai pertanggungjawaban atas rumah tangganya.Baik buruk rumah tangga tergantung istri(ibu rumah tangga).

Baik-buruknya anak(generasi) jelasnya adlah tanggungjawab orang tuanya, jika anak sampai dewasa tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk(bodoh terhadap syari’at islam) kemudian ia berbaut maksiat atas kebodohannya. Maka hal itu akan menjadi tanggungjawab orang tuanya, kecuali anak perempuan yang sudah menikah menjadi tanggung jawab suaminya.

Adapun lembaga pendidikan hanya sebatas memberikan rangsangan, dorongan, memberikan bimbingan dalam bidang keilmuan sebagai bekal pengamalan dalam hidupnya sehingga menjadi anak yang tumbuh dewasa. Lain halnya dengan keluarga dan masyarakat yang banyak mempengaruhi dalam segi kehidupan secara langsung. Jika orang tuanya atau masyarakatnya sering bertengkar, berprilaku yang tidak baik maka anak-anaknya pun akan mengikuti apa yang terjadi di masyarakatnya itu. Sesuai dengan firman Allah swt. juga sabda Rosulullah saw bahwa keluarga (orang tua) adalah pondasi untuk membangun karakter baik atau buruknya anak(generasi).

Maka berdosalah orang tua yang membiarkan anaknya melakukan maksiat. Juga Umaro / ‘Ulama yang tidak melakukan Amar Ma’ruf dan NahiMunkar terhadap ummatnya yang melakukan maksiat, besar kecilnya dosa adalah hak Allah yang menentukannya berdasrkan hisaban kelak di hari perhitungan amal kita.

Referensi bacaan:

Menciptakan Keluarga Sakinah

Seni Menyusui bayi

Bagaimana Membahagiakan istri

10 Prinsif Spritual Parenting

Cinta & Sek Rumah Tangga Muslim

101 Pertanyaan tentang kesehatan anak

Entry filed under: Akhlaq, Aqidah, Fiqih, Tafsir. Tags: .

JAma’ah Muslimin waktu ku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Al-Manak

Maret 2010
S S R K J S M
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Asmaul Husna

Kategori


%d blogger menyukai ini: