Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah

Maret 4, 2010 at 6:38 am Tinggalkan komentar

BERSATULAH DALAM

KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH

Kesadaran kaum Muslimin untuk mewujudkan persatuan (berjama’ah) dalam satu wadah khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (Jama’ah Muslimin) merupakan solusi dari kemelut permasalahan umat saat ini. Hal tersebut terungkap dalam acara silaturahmi wihdatul ummah di Mesjid Kampus Al-Ummah, Sekarwangi, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, akhir pekan lalu (8/9).

Dalam pidatonya, KH. Drs. Ohan Sujana dari Sarekat Islam (SI) menyampaikan sebuah atsar sahabat yang artinya, “Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa imaroh, dan tidak ada imaroh tanpa bai’at”. Ia pun menukil salah satu ayat Alquran yang menegaskan, umat Islam yang tunduk dan patuh terhadap syari’at-Nya disebut hizbullah. Hizb-hizb lain selain hizbullah adalah hizbusysyaithan.

Sementara itu, Ketua DPD II Hizbut Tahrir Sukabumi, Mukhlis Ali menyatakan, umat Islam akan dipersatukan dengan aqidah Islam, satu aturan (Alquran), dan satu kepemimpinan (imam).

Hal tersebut dipertajam oleh Muhammad A.R. dari Ad-Da’wah. Menurutnya, perpecahan umat Islam mulai tumbuh sepeninggal Rasulullah. Setelah Abu Bakar diangkat sebagai khalifah pengganti Rasul, kondisi tersebut berangsur pulih. Lantas mencuat kembali pasca wafatnya khulafaur rasyidin terakhir, Ali bin Abi Thalib.

Dalam perjalanan sejarah dunia, idealita dan realita syari’at bagi umat telah disinggung oleh Khudzaifah bin Yaman dalam sebuah hadits yang artinya, “… Khudzaifah bertanya kepada Rosulullah : Apa yang engkau perintahkan jika aku menjumpai kondisi terpuruk. Rasulullah menjawab: Tetaplah engkau pada jama’ah muslimin dan imam mereka. Khudzaifah bertanya lagi : Jika aku tidak menjumpai jama’ah dan imam? Rasulullah menjawab : Hendaklah engkau tinggalkan firqoh-firqoh itu semua, walaupun engkau sampai menggigit akar kayu hingga kematian mengejarmu, engkau tetap demikian,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ustadz Hamdan Alawi dari Front Pembela Islam (FPI) mengungkapkan, sulitnya mempersatukan umat dan menegakkan syari’at Islam saat ini karena umat Islam masih memiliki sifat fir’aunisme (sombong) dan ta’ashub (bergolong-golongan). “Selama kesombongan serta kecenderungan merasa diri dan golongannya paling benar masih ada, kita tidak akan dapat bersatu,” tandasnya.

Sementara Datuk Dadang dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menambahkan, salah satu dari tanda-tanda kehancuran barat (kafir) adalah dengan bangkit dan bersatunya kembali umat Islam dalam satu kepemimpinan (Kholifah / Imaam). (by : NaTwoS. 8/9/2007). na.azzamy@yahoo.co.id

Entry filed under: Akhlaq, Aqidah, Fiqih, Hadits, Tafsir. Tags: .

BINGUNG GEMA RAMADHAN DI SHUFFAH HIZBULLAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Al-Manak

Maret 2010
S S R K J S M
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Asmaul Husna

Kategori


%d blogger menyukai ini: