1 jengkal Sunnah lebih baik Atau DIAM 1000 AMAL dari Bid’ah

Maret 4, 2010 at 4:00 am Tinggalkan komentar

1 jengkal Sunnah lebih baik

Atau DIAM 1000 AMAL dari Bid’ah ( na.azzamy@yahoo.co.id )

 

Bagian satu

 

 Fithroh Kehidupan Manusia. Kesadaran adalah kekuatan terbesar.  Lihat Jati Diri Oleh Sendiri ( Dimanakah diri kita sekaran ?…. ) 4 hal yang harus diperhatikan ketika menilai diri sendiri.  SIAP SEJAK NOL WAKTU ”.   Perlahan Pasti .Mau tapi Malu.   Ambil Satu Langkah Walau Sejengkal.  Diamnya Emas.   Catatan Penting.  kesimpulan.   Referensi bacaan. 

 Fithroh Kehidupan Manusia

Semua orang mengetahuinya, bahwa tanda orang hidup adalah dapat bergerak, namun perlu diingat bahwa tidak semua pergerakan merupakan kehidupan yang sebenarnya. Orang yang berbaring, duduk, jongkok, atau berdiri sambil membaca buku ini merupakan tanda bahwa ia sedang hidup, namun dapatkah ia mengambil hikmah terbaik sehingga hidupnya terpenuhi makna kebaikan menjadikan dirinya lebih hidup. Karena jika ia tidak membuat dirinya berubah atau merubah kehidupannya kearah yang lebih baik berarti ia telah diam dalam membaca buku(memperhatikan dunia) dan tidak hidup, alias bernafas tapi mati.

Penulis berharap dengan catatan ini dapat membawa perubahan dalam peradaban manusia kearah yang lebih baik berdasarkan fitrahnya manusia(sesuai dengan ajaran Tauhid, yaitu syari’at Islam). Sebagaimana Allah telah menentukannya dalam QS. 30 Ar-Rum ayat ke 30 – 32.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama

yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [1] [1168]

Tidak dipungkiri lagi, banyak diantara saudara kita yang hidupnya sibuk dengan urusan dunianya masing-masing, dia hanya memikirkan uang, makan, tidur(dalam bahasa sunda disebutkannya HARDOLIN). Nampak dari luar mereka itu sangat bahagia, dan menggiurkan kaum miskin untuk seperti mereka(kaya). Namun sebenarnya dibalik kekayaan, kesenangan dunia itu adalah kemiskinan, kesengsaraan yang abadi, jika kekayaan yang dimilikinya itu tidak berdasarkan fitrohnya sebagai orang kaya.

Disisi lain banyak pula orang miskin yang menginginkan hidupnya enjoy, play, atau ingin menghilangkan stresnya dengan mengkomsumsi NARKOBA / NAPZA sampai racun serangga. dan orang kaya yang sombong Itulah pakta bahwa hidup mereka tidak memiliki arti hidup.

Penulis yakin bahwa dengan ajaran dari Allah(Islam : Al Quran dan Sunnah Rosulullah) kehidupan manusia akan bahagia dalam kondisi apa pun, baik yang kaya, miskin, PNS, pedagang, atau pun orang yang tidak punya pekerjaan tetap. Pastilah mereka akan bahagia, kerena dengan ajaran Islam telah diataur dengan begitu luas, jelas, tegas dalam hak dan kewajiban bagi masing-masingnya.

Yang paling penting adalah keinginan kita dalam mengkondisikan diri dalam segala situasi yang terjadi hingga menjadi pelaku dalam sejarah, bukan menjadi penonton sejarah, apalagi hanya komentator sejarah yang hanya mengkritik orang tanpa memberikan solusi perbaikannya. Maka berbuatlah untuk perbaikan diri, perbaikan generasi, sehingga tercapinya perbaikan situasi atau peradaban manusia secara utuh kembali pada fithrohnya selaku hamba Allah.

Tanpa niat yang kuat tidak akan ada keyakinan yang kokoh.

Tanpa keyakinan yang kokoh tidak akan ada pergerakan nyata.

Tanpa pergerakan nyata tidak akan ada kenyataan (semu : hanya bayangan dari angan-angan)

Tanpa kenyataan tidak akan ada kebahagiaan.

Hiduplah dengan niat, keyakinan, dan pergerakan nyata

Raihlah kebahagiaan, nyatakan kesuksesan dalam fitrohnya.

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [2] [621], dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ”. QS.8. Al Anfaal ayat ke-53.

ü      Niatkan untuk merubah pola berkata, kerucutkan perbedaan faham, sebarluaskan dan eratkan shilaturrahmi, serta kuatkan tali aqidah Islam(dalam satu syahadatain)

ü      Niatkan untuk merubah pola bergaul, menjeburlah dalam kancah kehidupan sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Rosulullah. Segala perbedaan dalam kehidupan kita harus dikembalikan kepada Allah dan Rosul-Nya. QS. Qn-Nisa ayat ke-59.

ü      Niatkan untuk merubah pola, kembali kepada fithrohnya manusia pada syari’at Islam dengan contoh tunggal Rosulullah dan khulafaur Rosyidin.

ü      Niatkan untuk bergabung dadalm Jama’ah[3] Muslimin, Menjauhlah dari jama’ah kafirin, dan tinggalkan perpecahan ummat

ü      “ Wahai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaam muslim .Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,…,..” QS. 3 Ali Imronayat ke-102 -103

ü      “ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ” . “ dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,” . “ yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.  ” QS.30 Ar Rum ayat ke-30 – 32.

ü      “ Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong ” QS. Al-Hajj [22] : 78.

v    Kesadaran adalah kekuatan terbesar

 

Keluasan hari-hari, atau perasaan nyaman dalam kehidupan manusia adalah terjadi ketika ia sadar akan posisi dan pungsi hidupnya di dunia ini. Ketika seseorang telah menemukan kesadaran dalam hidupnya maka tahun-tahun, bulan dan hari-hari yang telah berlalu penuh dengan kegundahan, kesusahan akan berubah menjadi bersinar, secara langsung atau pun perlahan akan muncul kebahagiaan dalam hidupnya.

Sebuah kejadian yang amat tiba-tiba terjadi pada taman saya. Dia ramah, sabar, tabah, dan tawakal, ia pernah cerita pada saya soal hidupnya. Dalam kehidupannya selalu penuh dengan perjuangan sendiri karena bantuan dari orang tuanya sangat minim sekali, sejak kecil(SD) hingga kuliyah di salah satu perguruan tinggi Bandung tidak terlepas dari usaha mencari uang.

Karena sifatnya, akhlaknya mulia hingga banyak muslimat yang mengejarnya, namun ia tetap tidak memberikan respon positif seperti orang umumnya(pacaran), dalam perjalanan belajarnya selalu mengalami putus(berhenti sesaat untuk mencari dana). Pada tahap menjelang KKN di PTN ia banting tulang, namun tidak tahan akhirnya ia bekerja untuk menutupi hutang pada teman  kuliahnya, dan akhirnya ia pun terputus lagi dari pendidikannya.

Satu, dua, tiga bulan ia hidup tidak menentu, stres. Dalam kondisi itulah salah seorang ustadz memanggilnya(ba’da sholat isya), diajaknya ngobrol di serambi Masjid At-Taqwa dan ustadz pun memberikan nasehat “ Segeralah menikah ”.

Sejak kejadian itu ia merenung selama satu minggu, dan timbullah dalam hatinya untuk menikah, ia mengatakan “ tapi aku hanya punya uang 50 ribu ” bagaimana ?….setiap malam ia merenungkannya dan mencari solusinya. Dengan dorongan iman kepada Allah yang telah menciptakannya, dengan tiba-tiba dalam benaknya muncul sebuah kesadaran diri dengan pemikiran : “ Allah yang menciptakan ku Allah pula yang memberikan rizkinya ”. dengan kesadaran dan dorongan keyakinan yang kuat dalam hatinya ia mendatangi seorang bapak(dari seorang gadis), tanpa teman, tanpa keluarga, dan ia pun mengutarakan niatnya untuk meminag putrinya. Dua bulan kemudian pernikanpun dilaksanakan. Itulah kekuatan dari sebuah keyakinan kepada Allah. [4] ia pun berkata : “ Aku harus merubah nasib ku oleh diri ku sendiri

Sesaat kesadaran terhadap Allah lebih baik bagi kehidupannya, ia tidak stres lagi, bahkan katanya sekarang ia telah diberi kepercayaan oleh Allah dengan dianugrahi putra(putra adalah amanat / titipan dari Allah yang harus dijaga). Maka sadarkanlah diri pada Allah.

Rosulullah bersabda : artinya “ Setiap anak yang terlahir ke dunia ini adalah fitroh(suci) ” fitrohnya manusia adalah dengan menjalankan syari’at Islam. “  Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ” . “ dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,” . “ yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.  ” QS.30 Ar Rum ayat ke-30 – 32. ” dan lihat juga pada QS Al-Baqoroh ayat 19 dan 85.

v    Lihat Jati Diri Oleh Sendiri ( Dimanakah diri kita sekaran ?…. )

Allah telah membuat manusia sebagai makhluk ciptaannya yang paling bagus, paling indah, paling sempurna, firmannya : “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya ” . “ Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) [5] ”. QS.95 At-Tiin ayat ke-4 – 5.

Kehidupan telah bergulir bergantian menempati pelanet bumi ini sesuai batas umur yang telah ditentukan oleh Allah Sang Penciptanya, namun kamatian dan kehidupan nampaknya belum memberikan kesan dan pesan yang mendalam kedalam lubuk hati setiap manusia, dalam pakta keseharian media masa atau elektronik memberitakan penomena alam yang bermuatan nilai anormal (tidak manusiawi), seperti kasus pembunuhan, pemerkosaan, perusakan hutan dan laut.

Jika kita ingin mengetahui kondisi hidup kita sekarang ini dan ingin mengetahui kehidupan kelak setelah kematian, maka lihatlah Al-Quran, bercerminlah pada Al-Quran, pasti kita akan mendapatkan gambaran kehidupan kita susah atau senangnya kehidupan kita.

Ketentuan Allah untuk makhluknya adalah antara baik atau buruk, antara senang atau susah, antara selamat atau celaka, antara kaya atau miskin, antara iman atau kufur, antara muslim atau kafir, antara syukur atau kufur, antara surga atau neraka.

Semuanya itu diserahkan kepada kita masing-masing, kita mau memilih yang mana, hanya saja Allah memberikan dua jalan menuju ke arahnya. Dan apa yang kita tempuh didunia ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah sebagaimana firmannya : “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? ”. QS.75 Al-Qiyamah ayat 36.

Jika kita menginginkan kebaikan, kesenangan, keselamatan, menjadi orang yang beriman, bersyukur, dan mati dalam keadaan muslim sehingga masuk kedalan surga, maka tempuhlah fitrohnya hidup manusia dalam syari’at Islam, “ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya .Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi ” QS. Ali Imron ayat 19 dan 85

v     4 hal yang harus diperhatikan ketika menilai diri sendiri(introspeksi), yaitu :

 

  1. Berlindung kepada Allah dari pengaruh syaithon(dari bangsa jin atau manusia) “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ” QS.16 An-Nahl ayat 98.

Dengan pengertian ketika hendak membaca, menela’ah, meneliti, dan mengamalkan Al-Quran hendaklah kita menjauhkan diri dari pengaruh syaithon(jin atau manusia / hawa nafsu). Jika pengamalan Al-Quran disesuaikan dengan hawa nafsu, akan terjadi pengrusakan aqidah, sosial, budaya atau akhlak menjadi akhlak yang jelek, seperti : Ego punya kuasa menjadi kesombongan dan Ria, dalam kehidupan bermasyarakat ia menjadi manusia munafik, musyrik, dan kafir.

Ketika mengamalkan perintah Allah(Al-Quran dan Sunnah Rosulullah) dalam kondisi perpecahan ummat, atau dengan membawa bendara organisasi / partainya masing-masing yang berbeda, maka selamanya kaum muslimin tidak akan mengalami kejayaan, kemenagan(futhuh) karena tidak adanya persatuan yang utuh. Bertentangan dengan perintah Allah QS Ali Imron 103.

Lihatlah sejarah, dizaman para nabi(nabi Adam hingga nabi Muhammad) orang yang tha’at kepada ajaran Islam yang dibawakan oleh para nabinya disebut Kelompok / Jama’ah muslimin, dan orang yang menantanngnya disebuk Kelompok / Jama’ah Kafirin atau Jama’ah Musyrikin, dan yang mengambil sebagian ajaran Islam dan sebagian ajaran lainnya, mencampur adukkan ajaran Islam dengan ajaran yang lain disebut Kelompok / Jama’ah Munafiqin.[6]

Maka kembalilah kepada Allah dengan menjauhi pengaruh syaithon atau hawa nafsu. Ingatlah salah satu karakter hawa nafsu adalah mengikuti kebanyakan orang. “ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) ”. QS. Al-An’am [6] : 116. perhatikan sistem demokrasi yang merupakan salah satu sistem diluar Islam, dan ketika muslimin menda’wahkan Islam melalui sistem ormas atau orpol sungguh ia telah terjebak kedalamnya.[7]

  1. Berniat ikhlash karena Allah sambil mengucapkan “Bismillaahir Rohmaanir Rohiim ” kemudian mengikuti apa yang kita baca, kita pelajari dengan penuh penghayatan dengan wujud pengamalan “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk ”. QS.98 Al-Bayyinah ayat ke-7.

Dengan basmalah berarti kita mencelupkan diri ke dalam ajaran Allah dan sunnah Rosulullah, membersihkan diri dari segala kemusyrikan(perpecahan ummat) dan kembali kepada tauhidullah : “ Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah ”. QS. Al-Baqoroh[2] :138.

Dan kembali pada tauhidul ummah(keatuan ummat / muslimin) dalam satu kepemimpinan Allah.(para Nabi, Khulafaur Rosyidin / Imam / Amirul Mu’minin). “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya ”. QS. An-Nisa[4] : 59.

Penafsiran Ulil Amri tidak dapat diartikan atau dinisbatkan pada seorang raja, Presiden. Karena aturan yang dipake dalam suatu negara adalah multi aturan yang targabung dalam UUD. Ulil Amri dalam Al Quran adalah murni kepemimpinan dalam menjalankan syari’at Islam untuk kaum muslimin sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam jika diamalkan. Dan jika ditinggalkan maka adzab Allah akan diturunkan. “ Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya ”QS. Al-Isro [17] : 16.

  • Bismillah, kembalilah pada Allah(Al-Quran)
  • Bismillah, kembalilah pada sunnah Rosulullah, dan
  • Bismillah, kembalilah pada contok Khulafaur Rosyidin dalam mencontoh kepemimpinan ummat dan meneladani Rosulullah.
  1. Membentengi diri dengan Al-Quran (pola purqon antara yang hak dengan yang bathil), tidak memberikan tolelir terhadap kemunkaran hinggap pada diri. “ Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup ” QS.Al-Isro [17] : 45.
  • Jangan takut untuk tampil dalam kebenaran sesuai denga Al Quran dan Sunnah Rosulullah
  • Tampil melaksanakan Al Quran pasti dianggap aneh oleh orang yang tidak mengerti Al Quran
  • Tampil melaksanakan sunnah Rosulullah pasti dianggap beda oleh orang yang melakukan bid’ah
  • Tampil menda’wahkan Sunnah Rosulullah pasti dianggap ketinggalan zaman oleh orang yang merasa telah modern
  • Tampil menda’wahkan khilafah ‘Ala Minhajin Nubwwah pasti dianggap belum sa’atnya oleh orang yang enggan mewujudkan Sunnah Perjuangan Muslimin
  • Tampil menda’wahkan ukhuwwah Islamiyah dalam dalam wujud Jama’ah Muslimin pasti dianggap tidak mungkin oleh orang yang terpecah belah dalam kelompok-kelompok lokal(ormas / orpol).
  1. 4. Merekap kinerja(amal baik / buruk) yang pernah dilakukan “ Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” . “ Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul ” QS. Al-Isro[17]:14-15.

Merenungkan diri sesaat kehadapan Allah adalah lebih mulia daripada kekayaan yang kita miliki, bersujud tahajud satu rakaat kehadapan Allah akan membawa kepada kesehatan yang hakiki dunia akhirat.

  • Bagaimana aqidah / ketauhidan  kita ?……. bagaimana sikap Al Wala(sikap menerima dan melaksanakan segala perintah oleh Allah) dan sikap Al Baro(sikap menerima dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah)
  • Bagaimana keislaman kita ?…… Shohih(benar / muslim) atau fasad(rusak) dengan kemunafikan dan kemusyrikan
  • Bagaimana pengamalan ibadah kita ?…….Shohih(sunnah) atau bercampur bid’ah
  • Bagaimana hubungan  kemasyarakatan kita ?……Shohih(rukun) atau bercerai bereai, berfirqoh-firqoh.
  • Bagaimana kita menda’wahkan Islam ?……Shohih(aktif mencontohkan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran) atau fasif(diam, tidak ada rasa benci terhadap kemungkaran, dan tidak ada gerak untuk mencegahnya)
  • Ingat !. !. !. karakter ummat terbaik [8] disisi Allah Adalah : (1). Tidak mengikuti ahli Kitab(yang menolak Al-Quran), (2). Menjaga, merawat, dan memupuk keimanan dan ketaqwaan kepada Allah hinggan kematian tiba, (3). Berpegang kepada tali Allah(Islam) denga berjama’ah dan tidak berfirqoh-firqoh, (4). Memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

 

 

v     Sajak [9]

 

SIAP SEJAK NOL WAKTU

Pukul Nol-nol : Nol-nol

Alarm berbunyi

Mata perlahan membuka anyaman bulu

Mulut menyemburkan sisa-sisa nafas terpendam

Otot-otot merenggangkan diri menggeliat

Tangan sigap memberesi tapak

Kaki beranjak membuat jejak air

 

Setengah malam

Sepertiga malam

Atau lebih sedikit dari malam

Enkgau tiada lengah memperhatikan kami

Terkadang kami lengah mengingat-Mu

 

Namun,

Engkau tetap menyayangi kami

Engkau tetap memberi rizki kapada kami

Engkau yang Maha Penerima Taubat

 

Ya Allah,

Terimalah sujud hamba

Kabulkanlah do’a hamba

 

Ya Allah,

Tunjukilah kami pada jalan yang benar

Bimbinglah kami dengah hidayah-Mu

Tetapkanlah kami dengan ridho-Mu

Semalatkanlah kami di dunia hingga akhirat

Masukkanlah kami ke Surga dengan rahmat-Mu

 

Ya Allah

Berdirinya kami

Rukunya kami

Sujudnya kami

Hidup dan matinya kami

Adalah milik mu

 

Ya Allah

Ikhlashkan kami

Tauhidkanlah kami

Dalam jama’ah Muslimin atau Hizbullah

Jauhkanlah kami dari Jama’ah kafirin atau Hizbusy-Syaithon

 

Allaahumma Innaa Nas-Aluka ‘Ilman Naafi’an

Wa ‘Amalan Mutaqobbalan

Wa Rizqon Halaalan Thoyyiban

Amin.

v     Perlahan Pasti

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya……” QS. Al-Baqoroh [2] : 286.

Ketika Rosulullah mendapat wahyu yang pertama QS. Al-‘Alaq[10], secara perlahan mulai memproses da’wah dengan memperhatikan objek da’wah. Tantangan pun mulai bermunculan, kemudian Allah memberikan wahyu berikutnya QS. Al-Mujammil sebagai bimbingan, pengukuhan, dan penghiburan atas diri Rosulullah. Proses terus berjalan secara perlahan teratur hingga Allah menurunkan wahyu berikutnya QS. Al-Muddatsir, penegasan untuk memberikan peringatan kepada saluruh manusia.

Mulai dari diri, istri, kerabat, hingga tetangga. Secara perlahan satu persatu mereka menetapi Islam dengan berbai’at [11] kepada Rosulullah sebagai Ulil Amri pada fase kenabian.

Suatu masalah besar telah menimpa muslimin sekarang ini, rukun Islam yang pertama yaitu : Mengucapkan dua kalimah syahadat didepan Rosulullah(Ulil Amri)[12] ditinggalkan tanpa merasa dosa dan sia-sialah amal ibadahnya tanpa itu. para ‘Ulama pun terlupakan untuk menyampaikan rukun Islam yang pertama itu. Entah apa yang menghalangi mereka, yang jelas mereka bungkam seribu diam dari membicarakan masalah melaksanakan shadatain dengan Bai’at pada Ulil Amri.

Sepuluh tahun Rosulullah dan para shahabtanya menda’wahkan Islam di Makkah dengan perlawanan dari thogut [13]. Dengan kesabaran, ketekunan, dan kegigihan dalam perjuangan, Allah pun menepati janjinya yaitu memberikan kemenangan kepada jama’ah muslimin yang dipimpin langsung oleh Rosulullah, berawal dibukakannya da’wah, atau terbuka dan tersebar luasnya da’wah Islam di kota Madinah, Allah persatukan kelompok dari Muhajirin(yang pindah dari Mekkah ke Madinah) dengan orang yang ada di Madinah dengan ikatan Islam(dengan sebutan Muslimin), kemudian Allah persaudarakan antara Bani Aush dan Khijroj yang sekian lama bermusuhan. Allah perdamaikan antara Jama’ah Muslimin dengan kelompok(Jama’ah)Yahudi Madinah. Dengan sentral kempemimpinan Rosulullah, itu merupakan hadiah / balasan dari Allah atas perjuangan msulimin.

Demikian sifat rahmatan lil’alamin jika Islam diamalkan. Hidup akan damai dan akan mencapai kedudukan yang mulai berada diatas golongan-golongan yang lainnya. Muslimin akan memimpin peradaban manusia keseluruhannya.

Tapi mengapa muslimin di Indonesia menempati kedudukan pemerintahan yang strategis tapi tidak bisa memimpin peradaban manusia ?…..justru memojokkan muslimin lainnya, mereka terbawa isu “ Isu Dukun Santet “ kiyai / ‘Ulama pesantren yang diburu, mereka terbawa isu “ Isu Teroris “ kiyai / ‘Ulama pesantren  yang diburu. Tiada lain karena mereka tidak menghadapkan wajah(tidak bercermin) pada Al Quran [14] .

Sudahkah kita mengucapkan dua kalimah syahadat kepada Rosulullah(Ulil Amri)?.?.?……

Coba renungkan rukun Islam yang lima(syahadat, sholat, sahum, zakat, dan haji). Dalam syahadatain mengandung pengamalan ketauhidan kepada Allah yang segalanya dikembalikan kepada-Nya, semua niat, ucapan, dan tindakan ditujukukan pada ketho’atan kepada Allah, menjadi ringan melaksanakannya karena Allahnya hanya ada satu.

Perhatikan orang musyrik, tuhan mereka banyak, ada tuhan bapak, tuhan ibu, tuhan anak, tuhan-tuhan hantu, mereka harus menyembah pada penunggu laut, menyembah pada penunggu gunung atau lembah, menyembah pada penunggu pohon, harus memuja keris. Repotlah mereka.

Dalam syahadatain kedua mengandung pengamalan ketauhidan kepada Rosulullah dalam ushwah pelaksaan Al-Quran. Rosulullah adalah contoh tunggal dalam melaksanakan Al-Quran yang telah diakui oleh Allah dalam firmannya : “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ” QS. Al-Ahzab [33] : 21. Maka ringanlah orang yang mengamalkan Islam dengan pola sunnah Rosulullah.

Perhatikan orang yang mengamalkan Islam dengan mengambil sumber diluar Al-Quran dan Sunnah Rosulullah, mereka terombang ambing dengan berbagai perbedaan paham, perbedaan asas, pebedaan organisasi, perbedaan partai politik, perbedaan pandangan yang satu kebarat-baratan dan yang satu ketimur-timuran. Mereka berselisih yang tidak akan ada hentinya berangan-angan sampai tak terhingga kecuali kematian telah menjemputnya.

Seandainya mereka mau kembali kepada Al-Quran pastilah mudah, di dalam  QS. An-Nisa 59 di perintahkan oleh Allah, “Jika berselisih faham maka kembali kepada Allah(Al-Quran) dan kepada Sunnahnya Rosulullah, jika memang beriman kepada Allah dan pada hari akhir ”. Contohnya Khulafaur Rosyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), mereka tidak mengambil sistem pemerintahan Arab(Abu Sofyan dan Abu Jahal) yang sifatnya ashobiyah sukuisme(bani) atau kepartaian, dan mereka tidak mengambil pola dari Ramawi atau Persia,.

v     Mau tapi Malu

Dulu, ketika orang-orang Islam(sebelum nabi Muhammad diutus) [15] atau orang yang berpegang / mempelajari Islam dari kitab Injil(ummat nabi Isa) dan dari kitab Taurot(ummat Nabi Musa) mereka menantikan tibanya nabi yang terakhir sesuai dengan janji Allah dalam Taurot dan Injil tersebut,

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka [16] [574]. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. QS. Al-A’rof [7] : 157

Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah) QS. Al-An’Am [6] : 20.

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Quran lalu dia beriman [17] [1386], sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” QS. Al-Ahkof [46] : 10.

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” QS. Ash-Shoff [61] : 6.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. QS. Al-Fath [48] : 29.

Orang yang menolak ajaran Islam yang dibawa oleh Rosulullah sebagai nabi dan rosul yang terakhir, karena kesombongannya, merasa bahwa konsepnya lebih ideal, lebih modern, lebih actual, adalah pantas disebut munafiq, fasik, musyrik, dan kafir.  Seperti Abu Jahal dan kawan-kawannya. Bagaimana dengan orang-orang sekarang ini ?……

Yang lebih ironis lagi mereka takut, enggan, dan menolak ketika sebutan Jama’ah Muslimin disebut-sebut, entah tabir apa yang menutupi pandangan muslimin sekarang ini, mereka lebih senang dengan sebutan buatan manusia, seperti nama-nama organisasi, nama-nama partai, nama-nama yang sifatnya lokal duniawi dan terbatas wilayah dengan AD ART nya, dan tidak akan dipakai ketika menghadap Allah. Karena panggilan Allah antara syukur atau kufur, antara Hizbullah atau Hizbusy-syaitho, dan antara Muslimin atau Kafirin. Yang berujung surga atau neraka. “ ”

Malu, enggan, takut dengan sebutan Jama’ah Muslimin karena takut dikucilkan oleh sesama anggota partainya, atau takut kehilangan pamor dari pengikutnya adalah sama saja mereka enggan melaksanakan perintah Allah dan menolak sunnah Rosulullah, sungguh sifat kufur telah menancap dalam hatinya. Bertaubatlah kepada Allah.

 

v     Ambil Satu Langkah Walau Sejengkal

Suatu kenyataan hidup telah membarikan pelajaran yang berarti mana kala ia mau mengambil hikamahnya, pada tahun 80-an saya berkelahi dengan 10 orang hanya karena perbedaan furu’iyah(kunut). Bahkan sepatu guru pramuka pun sempat melayang menerjang perut, walau selamat dihalau dengan tangkisan, dan yang lebih menegangkan wali kelas VI (SD) mengancam tidak akan diluluskan dari ujiannya, hanya karena mempertahankan sedikit aqidah Islam. Namun hal itu belum seberapa jika dibandingkan dengan kenyataan yang deterima oleh shabat Bilal bin Robbah dan Amr binYasir.

Dari perdebatan perbedaan faham, perbedaan madzahab, perbedaan organisasi, perbedaan partai politik dan perbedaan-perbedaan lainnya. Terbentang sebuah benang merah melintasi wacana masarakat muslim, yaitu persamaan Tauhid(syahadatain).

Mari kita arahkan pandangan kearah persamaan, dan simpan perdedaan

Mari kita satukah Visi dan Misi untuk menda’wahkan Islam

Mari kita melangkah walau sejengkal menuju persamaan yang hakiki(tauhid/persatuan)

Mari kita wujudkan persatuan muslimin dalam satu Jama’ah Muslimin

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong “ . QS. Al-Hajj [22] :  78 .

Dengan sedikit menuju persamaan, tidak ada lagi perselisihan yang berarti(menimbulkan pertengkaran) dan telah merubah situasi menjadi masyarakat yang rukun, tentram, rapih, karena mengembalikan segala permasalahan pada Al Quran yang sama, dan sunnah Rosulullah yang sama pula. Bahwa dalam sunnah Rosulullah tidak ada perbedaan madzab apalagi perbedaan partai dan organisasi.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah : “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk ” QS. Ali Imron [3] : 103.

v     Diamnya Emas

Dalam hadits “ Man Roa Minkum Munkaron Falyughoyyir Biyadihi, Wa Illam Yastathi Fabiqolbihi, Wa Illam Yastathi Fabilisanihi, Fadzaalika Ad’Aapul Imaan : Apabila melihat kemungkaran hendaknya dirubah dengan tangan(kekuasaan) kalau tidak mampu dengan lisan, kalau tidak mampu dengan hati itulah selemah-lemah iman ”. diamnya seorang mu’min karena tidak mau mengikuti kemungkaran adalah bentuk penolakan maka akan tetap bernilai keimanan(besar atau kecil tetap berniali emas).

Dalam hadits “ Qul Khoiron Au Liasmut : Katakanlah yang baik atau diam ”  kemudian di dalam hadits dari Hudaifah bin Yaman yang mengkisahkan estapeta sejarah risalah Islam muali fase Kenabian, Khulafaur Rosyidin, Mulkan ‘Adzon, Mulkan Jabariyah dan Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah : “ ……….”

v     Catatan Penting [18]

 

Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang hukum prakteknya berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rosul, kepemimpinan yang dasar hukumnya bukan hukum Allah “Pemerintahan kafir” atau “pemerintahan sekuler” (QS Al-maidah [5]: 44, 45, 47) sekalipun pelaksana-pelaksananya baik Ekseksekutif, Legislatif, maupun Yudikatif mengaku “beragama Islam” (QS. Al-Baqoroh [2] : 8 – 20, An-Nisa [4] : 137 – 139) Sikap umat Islam terhadap pemerintahan kafir tersebut harus bersikaf “Baro’ah” (QS. Al-Maidah [5] : 57, An-Nisa [4] : 144, Ali Imron [3] : 28). [19]

Selama ini kaum muslimin tidak mengetahui kemana mengalirnya uang milyaran rupiah hasil dari pelaksanaan syari’at islam – terutama dari hasil zakat fitrah. Apabila jumlah ummat Islam yang membayar zakat fitrah rata-rata tiap tahun sejak kemerdekaan Republik ini, adalah 120 juta jiwa. Dan jumlah yang dibayarkan dirata-ratakan berjumlah nominal Rp. 7.500,- maka dana yang terkumpul dari zakat fitrah saja tiap tahun kurang lebih 900 milyar. Dengan demikian uang kaum muslimin dari hasil zakat fitrah saja  – sejak kemerdekaan republik ini terkumpul kurang lebih $ 5,2 Milyar. Kemana uang tersebut mengalir ?… pada kenyataannya kaum muslimin menjadi masyarakat yang terpinggirkan , terhinakan, dan sebagainya. [20]

Sebagian “Ummat Islam” memaksakan tegaknya “syari’at Islam” di negara yang tidak berhukum Islam (negara sekuler) adalah ibarat memaksakan menanam ikan Mas di air laut, atau menanam pohon pisang di padang pasir. Selain tidak berhasil, juga tidak akan mendapat ridho Allah, alasannya sebagai berikut :

Perjuangan tersebut tidak sesuai dengan perjuangan Rosulullah dan para shahabatnya (QS. Al-Ahzab [33] : 21, Al-Mumtahanah [60] : 4. disamping itu banyak ayat-ayat  Al-Quran yang dilanggar antara lain :

  • Berbuat iltibas (mencampur adukkan antara yang haq dengan yang bathil) QS. Al-baqoroh [2] : 42
  • Bermusyawarah bersama dengan lembaga (institusi) al-bathil, QS. An-Nisa [4] : 140
  • Mengikuti dan berperan aktif serta terlibat dalam sistem al-bathil (QS. An-Nisa [4] : 144, Al-Maidah [5] : 51 – 57, Al-Mujadilah [58] : 22, Al-Mumtahanah [60] : 1).

Sungguh amat jelas kebathilan dan kebenaran, negara “ini” tidak berhukum pada hukum Allah, artinya “negara” ini bukan negara Islam. Hukum Islam dapat berjalan apabila di “negara islam”. Syari’at Islam yang ditegakkan di negara non-Islam, hanya akan menguntungkan dan membesarkan kaum musyrik atau kuffar. Contohnya syari’at zakat, syari’at  haji. Siapa yang diuntungkan ?.. Sistem ekonomi islam diterapkan dinegerara kafir, siapa yang beruntukng, umat islam atau mereka yang membenci islam ?…[21]

Apabila tiap tahun yang berangkat haji dari Indonesia 200 ribu orang (berdasarkan kuota) , dan ONH, dirata-ratakan $ 2.500. maka dana yang terkumpul dari pelaksanaan haji kurang lebih $ 500 juta  atau Rp.4,5 Trilyun ($ 1=Rp.9000) pertahun. Apabila 50 %-nya saja untuk biaya penyelenggaraan haji, berarti  RP. 2,25 trilyun uang ummat Islam terkumpul. Dana abadi ?… Siapakah yang memanfaatkan ?… Apabila dihitung sejak tahun 1945, kurang lebih Rp. 107 trilyun atau $ 13 milyar. Bandingkan dengan hutang luar negeri RI sejak  tahun 1945 – 1966(orde lama) sebesar $ 2,6 milyar. Sejak tahun 1967 – 1974 (orde baru) sebesar $ 3,6 milyar (majalah “Amanah” No. 1 thn 3 bulan Januari 1974, hlm.9). jumlah hutang luar negeri RI hingga tahun 2001 sebesar $ 6.251.600.000 ($ 6,251 milyar). Betapa rakusnya pengelola negeri ini, selain mengambil harta kaum muslimin dari pelaksanaan haji dan zakat fitrah, mereka juga mengambil dan memanfaatkan uang hasil pinjaman dari luar negeri, dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat(kaum muslimim), padahal untuk kepentingan pribadi dan keluarga mereka. Sementara untuk membayar hutang tersebut dibebankan kepada seluruh rakyat Indonesia, yang mayoritas muslim. “Yaa Ayyuhal Muddatsir, Qum Fa Andzir…….!!! ” QS. Al-Muddatsir [64] : 1 – 7.. [22]

Periode Mekkah artinya periode ketika syari’at Islam belum dapat dilaksanakan secara sempurna, karena ada kekuasaan, kekuatan yang lebih dominan (pemerintahan Abu Lahab cs.). Sedangkan periode Madinah adalah suatu periode dimana syari’at Islam dapat berjalan dengan sempurna, karena ummat Islam telah menguasai wilayah dan pemerintahan(kekuasaan) di Madinah. Rosulullah sebagai pemipin dan pengendali pemerintahan, berdaulat ke dalam maupun keluar, sedangkan para shahabatnya sebagai pelaksana(ummat) syari’at Islam, dengan Madinah sebagai wilayah hukumnya, syari’at Islam dapat berjalan dengan sempurna. [23]

Ummiyyin adalah sebutan untuk masyarakat QuraisyMekkah, karena mereka tidak memiliki kitab suci, lihat Muhammad Husayn al-Thobathoba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Quran(Bairut: Muassah al-A’lami li al-Mathbuat, 1403 H/1983, juz III, hlm 122, 261)  dan Shobir Thi’miyah, Banu Israel fi Mizan al-Quran (Bairut : Dar al-Jayl, 1975). Keyakinan atau agama mereka adalah mengikuti Millah(ajaran) Nabi Ibrahim a.s. melalui Nabi Isma’il a.s. Sedangkan “ Utul Kitab(orang yang diberi kitab) “ adalah sebutan untuk orang Yahudi dan Nasrani karena mereka memiliki kitab suci. (Soenaryo. Al-Quran dan Terjemahnya. Loc. Eit. Catatan kaki no. 190, hlm 78). [24]

Perjanjian Hudaibiyah adalah  suatu perjanjian yang dilakukan oleh dua kekuatan / dua pemerintahan, yaitu : antara pemerintahan musyrikin Mekkah dan pemerintahan Islam di Madinah. Bandingkan dengan pendapat sebagian “Umat Islam” khususnya di Indonesia, yang berpendapat bahwa “Piagam Jakarta” dan “Pancasia” adalah sama halnya dengan perjanjian Hudaibiyah pada masa Nabi Muhammad saw. Piagam Jakarta/Pancasila, Perjanjian antara dua kekuatan(negara) atau perjanjian para pecundang / pengecut dengan kaum kuffar ?.[25]

v     Kesimpulan

Hidup ini sudah ada fithrohnya atau tempat dan aturannya msing-masing, makhluk air tawar tidak bisa hidup di air laut, makhluk air laut tidak bisa hidup di air tawar, demikianlah aturan Allah. Begitu juga dengan manusia hidupnya berdasarkan aturan Islam sebagai aturan yang dibuat oleh Yang Maha Menciptakan(Allah), tanpa aturan Islam maka sedikit demi sedikit akan mengalami perubahan kepada kondisi yang lebih buruk. Sampai hancur.

Allah menciptakan manuisa sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna dengan tugas yang paling berat(kholifah fil Ardhi), pastilah memiliki kekuatan yang dapat mengalahkan makhluk lainnya, yaitu hasrat kebaikan(sifat tunduk patuh kepada Allah, yang dimiliki oleh Malaikat dan makhluk lainnya selain syaithon) dan hasrat keburukan(yang dimiliki Syaithon). Ketika kesadaran akan hakekat hidupnya sebagai makhluk Allah yang muncul dalam benak dan hatinya. Maka Allah, Malaikat dan Alam sekitarnya menyertai hidupnya. Jika tidak ada kesadaran sebagai makhluk Allah. Maka Allah, Malaikat, dan Alam sekiratnya akan marah, dan akan terjadi kerusakan di muka bumi ini.

Kalau kita ingin mengetahui diri sendiri lihat di cermin, tapi cerminnya harus yang bersih dan bagus. Ketika kita ingin mengetahui baik dan buruknya kehidpan kita harus bercermin apa ajaran yang datangnya dari yang telah mencipatakan kita, yaitu Allah. Karenanya Allah telah menciptakan Al Quran sebagai ketentuan dan ataruan hidup dilengkapi dengan contohnya, yaitu Rosulullah.

Jika ingin hidup dengan stabil, prima, fit, sehat, bahagia dunia akhirat. Maka lakukanlah 4 hal, yaitu : (1). Berta’awudz / Berlindung kepada Allah dari segala sifat perbuatan Syaithon, (2). Basmalah / segala niat, ucap, dan tindakan kita harus disertai Allah, bahwa Allah senantiasa menyertai kita, mengawasi kita, dan melindungi kita jika kita selalu dekat kepada Allah., (3). Membuat benteng / membentengi kehidupan kita dengan Al Quran dan Sunnah Rosulullah. (4). Merekam / Melihat diri, apakah amal-amal kita baik atau buruk berdasarkan Al Quran dan Sunnah Rosulullah.

Persiapkan diri, sigap dalam segala kondisi untuk memburu nilai-nilai kebaikan dari Allah (fastabiqul Khoirot) tiada nol waktu pun yang sia-sia, atau dipakai berbuat kemungkaran / maksiat kepada Allah.

Lakukan perbaikan diri sedikit-demi-sedikit, sejengkal-sejengkal, sedepa-sedepa, melangkah perbaikan menuju sunnah Rosulullah. Tapi harus di barengi dengan meninggalkan segala yang buruk(bid’ah), agar tidak terjebak dalam Talabus ( mencampur adukkan yang sunnah dengan bid’ah).

Hasrat ingin berbuat baik pasti ada pada setiap orang, tapi mengapa keburukan, kejahatan masih meraja lela ?….. hasrat ingin melaksanakan Al Quran dan sunnah pasti ada pada setiap orang Islam, tapi mengapa diajak untuk benar-benar dalam kondisi muslim tidak mau ?…… . melainkan karena adanya sifat ego(sombong), merasa benar tanpa melihat Al Quran dan Sunnah Rosulullah. Dan mereka justru banyak bercermin pada ijtihadnya para Ulama(bahkan taklid), mereka itulah yang disebut Islam Abaa Ana(hanya berdasarkanketurunan).

Jika ada perbedaan faham antara madzhab, oraganisasi, partai. Kalau mempersoalkan masalah Islam dan Muslimin maka kembalikanlah pada Al Quran dan Sunnah Rosulullah pasti akan diketemukan titik terang penyelesaiannya dan akan mencapai kebaikan bersama. Kesalah umat islam sekarang ini adalah ketika ada permasalahan tentang islam dan kaum muslimin mereka mengembalikannya pada madzahab, organisasi dan partainya masing-masing. Maka saya yakin selamanya umat islam tidak akan kokoh, karena mereka berselisih yang berkepanjangan.

Daripada terjebak dalam tafaruk / perpecahan ummat islam, lebih baik shabar(tidak mengikutinya) karena akan terkena ancaman Allah (musyrik) sebagaimana disebutkan dalam QS. Ar-Rum [30] : 30 – 32. juga Rosulullah telah mewasiatkan : “ Fa’tajil Tilkal firooqo kullahaa : Maka tinggalkanlah sumua perpecahan itu ” karena tidak ada Jama’ah Muslimin dan Imamnya. Namun tetap sunnah-sunnahnya Rosulullah yang dapat dilakukan secara individu(perorangan) dilaksanakannya.

v     Referensi bacaan

Referensi bacaan :

 

  1. Al Quran “ Tafsir, Bayan dan Asbabun Nujul As-Suyuty “. DR. Muhammad Hasan Al Hamashy. Bairut.
  2. Al Quran dan Terjemahnya, Jakarta 1 Maret 1971, Prof.R.H.A. Soenarjo S.H sebagai ketua Yayasan penyelenggara penterjemah/penafsir Al Quran.
  3. Syahadatain syarat utama tegaknya syari’at Islam. M. Umar Ziau El-Haq. Bina Biladi Press, Bandung Juni 2003( Tesis Pascasarjana IAIN Bandung).
  4. Membina Kehidupan Yang Bahagia. Norman Vincent Peale, Cahaya Masa bandung 1978

[1] [1168]. Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.

[2] [621]. Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.

[3] Dalam atsar shahabat  yang disebut Jama’ah adalah : “ Al-Jamaa’atu Mujaamatu Ahlul Haq Wa In Qollu” artinya : Jama’ah adalah sekelompok ahli hak(penegak kebenaran) walau jumlahnya sediki. Dan firqoh adalah : “ Wal Furqotu Mujaama’atu Ahlul Bathil Wa In Katsaruu ”. artinya  : Firqoh(perpecahan ummat) adalah sekelompok ahli bathil walaupun jumlahnya banyak

[4](Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [621], dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ” QS. Al-Anfal [8] : 53.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah [767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan [768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia ” QS. Ar-Ro’du [13] : 11.

[5] Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah S.95:5 mengandung arti ke tingkat pikun (seperti bayi lagi). Oleh karena itu Rasulullah saw. ditanya tentang (kedudukan) orang yang telah pikun itu. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (S.95:6) yang menegaskan bahwa mereka yang beriman dan beramal shalih sebelum pikun akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘ufi yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

[6] Perhatiakan QS. Al-baqoroh [2] : 1 – 20. dan QS. Al-Hajj [22] : 78.

[7] Setelah gulnya “ Reformasi th 99-an ” ummat Islam secara sadar atau tidak sadar, mereka telah terjaring dalam kotak-kotak partai politik, jumlah dan mayoritas umat Islam di negeri ini tidak akan berpengaruh pada kemenangan, karena partai yang dibuat oleh umat Islam itu sendiri lebih dari 10 partai, dan mereka memiliki pemahaman yang berbeda, mana mungkin akan bersatu(berkoalisi secara keseluruhan). Kecuali mereka sadar akan hukum Allah tentang wajibnya bersatu / berjama’ah dalam satu kepemimpinan Muslimin yang utuh berdasarkan Al-Quran dan sunnah Roslulllah. QS. An-Nisa [4] : 59.

[8] Lihat QS. Ali-Imron [3] ayat 100 – 110.

[9] Karya : Nana Suryana / Bandung, Nopember 2007.

[10] Baca dalam buku  “ Aku Harus membaca, sebuah Interpretasi terhadap QS Al-‘Alaq ” Perpustakaan Al-Kahfi yang diterbitkan sebelum buku ini

[11] Bai’at adalah suatu perwujudan dari  Syahadatain sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Fath [48] : 10.

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”

[12] Ulil Amri pasca fase kenabian adalah kholifah sebagai pelanjut Rosulullah dalam mengemban amanat penegakkan Syari’at Islam “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu……… ” QS An-Nisa [4] : 59. Dengan contoh : Kholifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali (Rodiallahu ‘Anhum).

[13] Thogut adalah sesuatu yang menghalangi dari ketha’atan kepada Allah dan Rosulullah, baik yang bersifat seseorang, kelompok(Jama’ah), lembaga, organisasi, dan partai (penguasa dzolim QS. An-Nisa [4] : 51, 60 dan berhukum kepada hukum selain hukum Allah QS.Al-Maidah [5] : 44 – 47 ), atau tradisi dan budaya QS. Al-Baqoroh [2] : 170, Syaithon(Jin) QS. Yasin [36] : 60, dukun/paranormal/orang pintar QS. Al-jin [72] : 26-27 dan Al-An’am [6] : 59, atau benda-benda berbau mistik animisme/dinamisme QS.Al-Anbiya [21] : 29.

[14] Lihat QS. Ar-Rum [30] : 30 – 32. Mereka berbuat musyrik tanpa disadari karena telah terjebak dalam Organisasi Masyarakat (ORMAS) atau ashobiyah lainnya, dan Partai Politik, muslimin terpecah belah dan diadu dombakan.

[15] Alladziina Aamanuu dalam al-Quran mempunyai dua makna, pertama :  Sebutan kepada orang yang mengikuti Millah Ibrahim, seperti yang terdapat dalam QS. Al-baqoroh [2] :  62. Mereka pada dasarnya masih mengikuti agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s. yaitu Islam ( QS. Al-Baqoroh [2] : 130 – 140, Ali-Imron [3] : 96, An-Nisa [4] : 125, Al-An’am [6] : 161, An-Nahl [16] : 123. namun mereka telah merubah agama tauhid tersebut kepada kemusyrikan. mereka dikatakan orang yang beriman, karena mereka masih mengakui Allah sebagai Robb (QS. Al-Ro’du [13] : 16, Al-Mu’minun [23] : 84 – 89),  dan mengakui Allah sebagai Ilah(QS. Az-Zumar [39] : 3) mereka mengakui tidak menyembah berhala, namun hanya untuk taqorrub kepada Allah SWT. Semata. Kedua : Orang yang telah menerima Islam sebagai agamanya. Mereka diperintahkan untuk melaksanakan perintah Allah, yaitu: beriman (QS. An-Nisa[4] : 136), mentha’ati Allah dan Rosul-Nya (QS. An-Nisa [4] : 59) dan lain-lain.

( Diambil dari buku : Syahadatain syarat utama tegaknya syari’at Islam. M. Umar Ziau El-Haq. Bina Biladi Press, Bandung Juni 2003( Tesis Pascasarjana IAIN Bandung). Halaman  93,  catatan kaki no : 151 ).

[16] [574]. Maksudnya: dalam syari’at yang dibawa oleh Muhammad itu tidak ada lagi beban-beban yang berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Umpamanya: mensyari’atkan membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan kisas pada pembunuhan baik yang disengaja atau tidak tanpa membolehkan membayar diat, memotong anggota badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain yang kena najis.

[17] [1386]. Yang dimaksud dengan seorang saksi dari Bani Israil ialah Abdullah bin Salam. Ia menyatakan keimanannya kepada Nabi Muhammad s.a.w. setelah memperhatikan bahwa di antara isi Al Quran ada yang sesuai dengan Taurat, seperti ketauhidan, janji dan ancaman, kerasulan Muhammad s.a.w., adanya kehidupan akhirat dan sebagainya.

[18] Diambil dari buku : Syahadatain syarat utama tegaknya syari’at Islam. M. Umar Ziau El-Haq. Bina Biladi Press, Bandung Juni 2003( Tesis Pascasarjana IAIN Bandung).

[19] Ibid. Halaman,  7. catatan kaki no : 12

[20] Ibid. Halaman,  7. catatan kaki no : 13

[21] Ibid. Halaman, 164, catatan kaki no : 238

[22] Ibid. Halaman,  8. catatan kaki no : 15

[23] Ibid. Halaman , 73. catatan kaki no : 124

[24] Ibid. halaman,   91. catatan kaki no : 150

[25] Ibid, Halaman 163,  catatan kaki no : 237.

Entry filed under: Akhlaq, Aqidah, Tafsir. Tags: .

Laksanakanlah Islam secara Kaaffah. MUTIARA HATI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Al-Manak

Maret 2010
S S R K J S M
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Asmaul Husna

Kategori


%d blogger menyukai ini: