MERUMUSKAN HIPOTESIS

Mei 16, 2012 at 12:19 am Tinggalkan komentar

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.      Apakah yang dimaksud dengan merumuskan hipotesis ?

Kata “merumuskan“ dalam Kamus Bahasa Indonesia DEPDIKNAS. Balai Pustaka, Jakarta 2005  dinyatakan bahwa :

Rumus : Ringkasan. Sedangkan Merumuskan : Menyatakan sesuatu (seperti hukum) dengan rumus, contoh : Hak pegawai negeri telah dirumuskan dalam undang-undang kepagawaian. Dan menjadikan rumus ; menyebutkan (menyimpulkan) sesuatu dengan ringkas dan tepat : Pimpinan yang berwibawa harus dapat menggodok dan merumuskan putusan terakhir secara tepat .

Sedangkan menurut Arikunto. S. (2010 : 110) bahwa kata “hipoteisis”:

Pada buku-buku atau laporan-laporan yang banyak beredar sebelum tahun 1984 atau beberapa tahun sebelumnya, istilah-istilah yang banyak digunakan adalah “hipotesa”. Namun sejalan dengan populernya pergantian kata “analisa” menjadi “analisis” , “sintesa” menjadi “sintesis”, sebagainya, maka untuk edisi ini digunakan istilah “hipotesis” sebagai ganti dari “hipotesa” pada episode pertama dan kedua.

Ditinjau secara etimilogis hipotesis berasal dari kata “Hypo” yang artinya “dibawah” dan “Thesa” yang artinya “kebenaran”. Maka hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang besifat sementara terhadap permasalahan penelitian.

Menurut Mashuri(2009:136). Bawa Hipotesis adalah :

Kesimpulan sementara yang harus dibuktikan kebenarannya atau dapat dikatakan proposisi tentative tentang hubungan antara dua variable atau lebih. Hipotesis dapat disajikan dalam bentuk statemen yang menghubungkan secara eksplisit maupun implicit satu variable dengan satu variable atau lebih.

Mashuri (Burhan : 2001) mengemukakan bahwa pengertian hipotesis penelitian secara etimologis adalah :

 ‘… dibentuk dari dua kata, yaitu kata hypo berarti kurang dan thesis berarti pendapat atau kesimpulan, sehingga dapat diartikan sebagai kesimpulan yang kurang, yang masih belum sempurna dan perlu disempurnakan dengan membuktikan kebenarannya. Pembuktian hanya dapat dilakukan dengan mengujinya dengan data dilapangan(empiric)’.

Untuk mengetahui hipotesis diperlukan :

1)      Pengujian, apakah ada hubungan antara variable penyebab dan akibat,

2)      Adanya data yang menunjukkan bahwa akibat yang ditimbulkan penyebab,

3)      Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.

Namun tidak semua penelitian harus berorientasi pada hipotesis. Jenis penelitian eksploratif, survey, atau kasus, dan penelitian development biasanya justru tidak menggukan hipotesis. Tujuan penelitian ini bukan untuk menguji hipotesis tetapi mempelajari tentang gejala-gejala sebanyak-banyaknya.

  1. 2.      Jenis-jenis Hipotesis

Darmadi(2011) “dilihat dari penempatannya hipotesis dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : hipotesis penelitian dan hipotesis statistic”.

Hipotesis Penelitian mempunyai fungsi memberikan jawaban sementara  terhadap rumusan masalah atau research question. Contoh :

  1. Ada korelasi fositif dan signifikan antara usaha peningkatan belajar di sekolah dengan hasil belajar siswa .
  2. Ada pengaruh fositif dan signifikan antara motivasi dan gagasan kepemimpinan dalam organisasi terhadap produktifitas lembaga.
  3. Ada hubungan fositif dan tidak signifikan antara besarnya gaji yang diterima para guru dengan keinginan bekerja sambilan di luar lembaga tempat bekerja.

Sedangkan Hipotesis Statistik ini merupakan rangkaian dua variabel atau lebih yang menjadi interes dan hendak diuji, hipotesis ini digunakan jika peneliti menggunakan uji analisis terhadap sebagian data.

Sementara Arikunto S.(2010:112) berpendapat :

“Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian, yaitu :

  1. Hipotesis Kerja. Biasa disebut hipotesis alternative, yang menyakatan adanya hubungan antara variable X dan Y. atau adanya perbedaan antara dua kelompok. Dengan rumusan :
    1. Jika …. Maka ….
    2. Ada perbedaan antara …. Dan ….
    3. Ada pengaruh …. Terhadap ….
    4. Hipotesis Nol(Ho). Sering disebut hipotesis statistic karena selalu berhubungan dengan penelitian statistik dengan pengujian menggunakan angka/statistic. Dan dikatakan Statistic Nol sebab tidak adanya perbedaan antara dua variabel. Dan tidak memberikan pengaruh. Dengan rumusan :
      1. Tidak ada perbedaan antara …. Dengan ….
      2. Tidak ada pengaruh …. Terhadap ….

 

Mashuri(2009:137) Hipotesis dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu :

  1. Hipotesis umum (HU),
  2. Hipotesis nol (Ho),
  3. Hipotesis kerja (Hk),
  4. Hipotesis alternative (Ha).”

Hipotesis umum masih memerlukan penjabaran lebih luas, penjabaran tersebut adalah hipotesis nol, hipotesis kerja, dan hipotesis alternative.

Contoh :

Hipotesis Umum : Diduga semakin modern masyarakat, semakin tinggi tingkat partisipasinya terhadap program pembangunan desa

Dalam hipotesis tersebut partisipasi dipengaruhi oleh tingkat modernnya masyarakat. Untuk mengukur varibel-variabel yang ada dalam kata “ modernnya ” pada hipotesis umum tersebut, dapat diukur melalui :

  1. Cara berpakaian (pakai dasi / full dress)
  2. Perabot rumah tangga (serba elektronik)
  3. Cara berbicara(bahasa yang dipakai)
  4. Komunikasi (pakai telepon genggam)
  5. Jumlah bacaan setiap harinya(kompas), dll

Dari data tersebut dapatlah dijadikan sebagai bahan penyusunan hipotesis, baik hipotesis nol (Ho), hipotesis alternative (Ha), hipotesis kerja (Hk).

Hipotesis Nol (Ho) :

Hipotesis ini menyatakan tidak ada perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y

Rumusannya:

a)        Tidak ada perbedaan antara partisipasi masyarakat Dengan modernya masyarakat Dalam cara berberpakaian.

b)        Tidak ada pengaruh modernya masyarakat terhadap partisipasi masyarakat

Hipotesis Alternatif (Hk / Ha) :

            Hipotesis kerja atau alternatif ,disingkat Ha, hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.

Rumusan hipotesis kerja :

  1. Jika masyarakatnya modern Maka partisipasinya pun meningkat
  2. Ada perbedaan antara masyarakat moder Dan masyarakat belum modern Dalam partisipasinya
  3. Ada pengaruh modernnya masyarakat Terhadap pasrtisipasinya

 

  1. 3.      Fungsi atau kegunaan Hipotesis

Ada beberapa fungsi di dalam suatu penelitian, diantaranya pendapat W. Gulo(2002:57),  ada empat fungsi hipotesis menurut Ary Donald, yaitu :

1)      Memberikan penjelasan tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.

2)      Mengemukakan pernyataan tentang hubungan dua konsep yang secara langsung dapat diuji dalam penelitian

3)      Memberi arah pada penelitian

4)      Memberi kerangka pada penyusunan kesimpulan penelitian.

Untuk penyusnan hipotesis agar dapat berjalan secara efektif perlu memperhatikan tiga syaratnya, yaitu :

1)      Penyusunan hipotesis harus dalam bentuk kalimat deklaratif, bersifat positif dan tidak normative.

contoh : kalimat “ seharusnya atau sebaiknya ” tidak dapat dipakai dalam hipotesis. Ex. Anak-anak harus hormat kepada orangtuanya.

Kalimat dalam hipoteisnya : Kepatuhan anak-anak kepada orang tua mereka makin menurun.

2)      Variabel-variabel yang dinyatakan adalah variabel yang operasional, dalam artian dapat diamati dan diukur.

Contoh : Kepatuhan mahasiswa STAI Sukabumi terhadap pelaturan  kampus semakin berkurang

3)      Hipoteisis menunjukkan hubungan tertentu di antara variabel-variabel

Menurut W. Gulo(2002 : 65), Contoh :

Hubungan Kontingen :

Hubungan antara variabel “Agama” dengan variabel “Partai Politik” dinyatakan dalam bentuk table silang, 3 Partai Politik  X  5 Agama = 15 Kontingen.

Partai Politik

Agama

Jumlah

Islam

Kristen

Katolik

Hindu

Budha

PPP

GOLKAR

PDI

89

291

45

3

30

2

3

20

2

4

6

0

1

3

1

100

350

50

Jumlah

425

35

25

10

5

500

 

Hubungan Asosiatif :

Hubungan Asosiatif disebut juga Hubungan Kovariasional atau Hubungan Korelasi, tetapi bukan sebab akibat. Hubungan ini berada pada varibel yang sama-sama ordinal, atau sama-sama interval, atau sama-sama ratio.

Contoh : Hubungan antara “ Kodok ngorek ” dan “ Hujan turun ” Kalau hujan turun kodok ngorek, tapi bukan turunnya hujan yang menyebabkan ngoreknya kodok.

 

x

Y

Negatif

Positif

 

 

 

 

 

 

 

Intinya sama-sama ada perubahan, baik positif atau pun negative.

 

Hubungan Fungsional :

Dalam hubungan fungsional variabel yang satu independent berfungsi di dalam variabel dependent, maka variabel dependent mengalami perubahan, misalnya : hubungan antara produktivitas kerja dan usia.

 

  1. 4.      Penyusunan Hipotesis

Sebelum menyusun hipotesis tentunya terlebih dahulu kita mempersiapkan bahan apa yang akan dijadikan sebagai pemikiran dasar(hipotesis umum). Perumusan hipotesis yang disusun secara sistematis, komprehensif, teliti dan jelas akan mempermudah untuk menentukkan jenis data yang akan dicari (dihimpun) oleh pihak peneliti.

W. Gulo(2002:58), Hipotesis dapat disusun dengan dua pendekatan, yaitu : secara deduktif dan secara induktif.

Penyusunan hipotesis secara deduktif ditarik dari teori. Suatu teori terdiri atas proposisi-proposisi dan proposisi menunjukkan hubungan antara dua konsep. Dan proposisi ini merupakan postulat-postulat yang dari padanya disusun hipoteisi.W.Gulo (2002 : 58)

Sedangkan penyusunan hipotesis secara induktif bertolak dari pengamatan empiris. Hipotesis induktif merupakan cara berpikir melalui penarikan kesimpulan umum dari sejumlah atau serangkaian gejala spesifik dan peristiwa nyata. Secara sederhana, kerangka kerja berpikir induktif dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

Gejala                    1

Gejala                    2                                                          Kesimpualan atau generalisasi

Gejala                    3

Gejala                    n

Berpikir deduktif merupakan suatu proses berpikir yang mensyaratkan proposisi, yaitu pernyataan yang terdiri atas satu atau lebih variabel. Dengan demikian, berpikir deduktif merupakan suatu proses berpikir melalui pengejawantahan sejumlah gejala umum ke gejala yang lebih khusus atau spesifik. Cara berpikir deduktif, sekali lagi mensyaratkan proposisi pertama disebut premis mayor atau gejala umum, dan proposisi kedua disebut premis minor atau gejala khusus. Jika premis mayor dan premis minor dirumuskan secara benar, maka kesimpulannya akan benar. Pola dasar berpikir induktif adalah sebagai berikut:

Premis mayor              : Semua A adalah Z

Premis Minor               : A’ bagian dari A

Kesimpulan                 : A’ merupakan bagian dari Z

 

Untuk dapat merumuskan hipotesis dengan kerajngka berpikir induktif, peneliti harus menelaah aneka macam gejala yang diamati, memperhatikan kecendrungan dan kemungkinan adanya saling hubungan anatar gejala, disertai dengan penelaahan yang seksama (luas dan mendalam) terhadap hasil penelitian yang relevan dengan pijakan kerangka berpikir induktif dapat digambarkan sebagai berikut:

            Produktivitas Departemen A, rendah

            Produktivitas Departemen B, rendah

            Produktivitas Perusahaan A, rendah                                                   hasil penelitian

            Produktivitas ….dan seterusnya,

            juga dinilai rendah

           

 

Ketidakhadiran karyawan, tinggi

            Tata tertib kerja, dilanggar

            Instruksi pimpinan, dilanggar                                     Hasil Pengamatan

            Masing-masing karyawan jalan

            sendiri-sendiri

            Kecendrungan……, buruk

            Hipotesis :       Terdapat hubungan yang signifikan antara disiplin kerja karyawan dengan produktifvita instansi.

  1. 5.      Bagaimana cara merumuskan / menguji hipotesis

Prof. DR. Mundilarto(UIN Yogyakarta) dalam makalahnya menyampaikan

Rumusan hipotesis sebenarnya sudah dapat dibaca dari uraian masalah, tujuan penelitian, kajian teoritik, dan kerangkanpikir sehingga rumusannya harus sejalan. Rumusan masalah dinyatakan sebagai kalimat pertanyaan(deklaratif). Melibatkan minimalnya dua variabel penelitian. Mengandung satu prediksi. Harus dapat diuji(testable).”

Setelah kita mengumpulkan data kemudian mengolahnya, dan menghasilkan hipotesis kemudian kita menguji hipotesis tersebut sehingga sampai pada kesimpulan menerima atau menolak hipotesis tersebut.

Penerimaan suatu hipotesis terjadi karena tidak cukup bukti untuk menolak hipotesis tersebut dan bukan karena hipotesis itu salah, dan Penolakan suatu hipotesis terjadi karena tidak cukup bukti untuk menerima hipotesis tersebut, dan bukan karena hipotesis itu salah. thomasyg.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/…/Uji+Hipotesis.pdf

Proses penerimaan dan penolakan hipotesis dengan cara mengubah hipotesis alternative(Ha , yaitu hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih,) menjadi hipotesis nol (H0, yaitu hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau tidak adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih ).

Contoh :

Mahasiswa STAI Sukabumi sebagian aktif di organisasi intern dan ektern, seperti SEMA atau HMI,atau organisasi masyarakat. Namun ada juga yang tidak aktif di suatu organisasi.

Pemakalah ingin meembuktikan pendapat “ Bahwa Mahasiswa yang aktif di suatu organisasi lebih cerdas dibanding dengan Mahasiswa yang tidak aktif di suatu organisasi ”

Hipotesis awal : kecerdasan mahasiswa STAI Sukabumi yang aktif di suatu organisasi sama saja dengan mahasiswa yang tidak aktif di suatu organisasi.

Pemakalah akan mengambil sampel dan berharap hipotesis awal ini ditolak, sehingga pendapat pemakalah diatas dapat diterima.

 

  1. 6.      Ciri-ciri Hipotesis yang baik

Cara berpikir bagaiamana yang digunakan oleh peneliti untuk merumuskan hipotesis penelitian, bukanlah hal yang benar-benar diperhitungkan. Demikian juga alas an apa yang mendasari dirumuskannya hipotesis itu, tidak begitu dipersoalkan di sini. Permasalahan yang dihadapi oleh peneliti “saat ini” adalah bagaimana dia dapat merumuskan hipotesis yang memenuhi criteria hipotesis yang baik.

Ada beberapa kriteria atau cirri hipotesis yang baik. Beberapa kriteria dimaksud adalah sebagai berikut :

  1. Hipotesis dirumuskan dalam bentuk kalimat berita, jelas dan tidak bias atau bermakna ganda. Suatu hipotesis, karenanya tidak dirumuskan dengan menggunakan kalimat Tanya, menggunakan kata-kata yang tidak konsisten atau kabur. Hipotesis yang dirumuskan harus mencerminkan kayakinan peneliti, bahwa apa yang dirumuskan itu mendekati kesimpulan yang didukung oleh bukti empiric. Berikut ini disajikan beberapa hipotesis yang tidak memenuhi kriteria ini.

1)      Prestasi belajar siswa pria diduga sama atau berbeda dengan prestasi belajar sebagai siswa wanita.

2)      Terdapat hubungan yang tidak berarti antara motif berprestasi dengan prestasi belajar siswa.

3)      Terdapat hubungan positif yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan disiplin kinerja guru, apakah dia guru pria atau guru wanita.

  1. Hipotesis yang dirumuskan terkait dengan konteks dan memiliki daya klarifikasi. Merumuskan hipotesis tidak dapat bersumber dari sugesti atau mimpi yang dialami oleh perumus beberapa waktu yang lalu. Jika anda mengendarai mobil pada malam hari, tiba-tiba lampu mobil yang anda kendarai mati. Anda dapat merumuskan hipotesis: “diduga sikring lampu putus”. Dalam konteks ini, akan sangat keliru, jika anda “berhipotesis”: “matinya lampu mobil secara mendadak diduga sebagai isyarat bahwa orang tua menghendaki anda segera pulang ke rumah”.
  2. Hipotesis yang dirumuskan harus dapat diuji melalui analisis terhadap bukti-bukti empiric. Hipotesis mengenai hubungan antar variabel, misalnya, tidak hanya harus dapat diuji, melainkan juga keterkaitan antar dua variabel itu harus benar-benar rasional. Hipotesis mengenai perbedaan antar dua mean, misalnya harus dapat diuji dan dua mean yang akan diuji itu harus benar-benar rasional. Untuk menguji hubungan antar variabel, skor untuk masing-masing variabel harus memenuhi syarat untuk dikorelasikan, untuk menguji perbedaan dua mean, aspek-aspek yang dinilai itu harus dapat dibedakan dan pembedaan itu memenuhi kriteria rasional.

 

Berikut disajikan masing-masing satu buah hipotesis hubungan dan hipotesis perbedaan yang memenuhi kriteria dan yang tidak memenuhi kriteria.

1)      Tidak terdapat hubungan yang signifikan antar kreativitas dengan prestasi belajar siswa.

2)      Terdapat hubungan yang signifikan antar frekuensi terjadinya banjir di daerah A dengan pertambahan populasi kambing di daerah B.

3)      Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar prestasi belajar siswa pria dengan siswa wanita.

4)      Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar produktivitas karyawan perusahaan swasta dengan produktivitas pamong praja.

  1. Hipotesis yang dirumuskan harus mengikuti alur penegtahuan, teori atau generalisasi yang ada. Untuk memahami kriteria ini, peneliti dianjurkan merujuk, pada pembahasan mengenai cara memperoleh hipotesis yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. Artinya, jika gejala umum menunjukkan bahwa hubungan antara X dengan Y adalah positif, peneliti tidak merumuskan hipotesis bahwa hubungan antara X’ dengan Y’ adalah negative. Jika gejala umum menunjukkan bahwa A=B, maka hipotesis yang dirumuskan untuk A’=B’.

 

Menurut Nana Sujana(1999 : 47)

Ciri Hipotesis yang baik apabila : a. Hipotesis mempunyai kekuatan untuk menjelaskan suatu gejala, b. Variabel dalam Hipotesis dinyatakan dalam kondisi tertentu, c.Hipotesis harus dapat diuji, d. Hipotesis tidak bertentangan dengan teori yang sudah mapan. 

 

  1. 7.      Bagaimana cara merumuskan Hipotesis

Murdilarto, DR. Prof. “Perumusan dan Uji Hipotesis”. Makalah FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

  1. Rumusan hipotesis sebenarnya sudah dapat dibaca dari uraian masalah, yujuan penelitian, kajian teoritik, dan kerangka berfikir, sehingga rumusannya harus sejalan
  2. Rumusan hipotesis sebagai petunjuk arah dalam rancangan penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data serta penyimpulan
  3. Dinyatakan sebgai kalimat pertanyaan(deklaratif)
  4. Melibatkan minimal dua variabel penelitian
  5. Mengandung suatu prediksi
  6. Harus dapat diuji(testable)

 

About these ads

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

HIPOTEISIS

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Al-Manak

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Asmaul Husna

Kategori


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: