Al-Jama’ah

AL-JAMA’AH

A. Ta’rif

1. Ma’na menurut bahasa:

Asal kata:
جَمَعَ – يَجْمَعُ – جَمْعًا / جَمَاعَةً
artinya kumpulan atau himpunan. Jadi menurut bahasa Al-Jama’ah adalah kumpulan atau himpunan tertentu bukan sembarang himpunan atau kumpulan.

2. Ma’na menurut istilah:

Yang dimaksud dengan AL-JAMA’AH adalah JAMA’ATUL MUSLIMIN sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Khudzaifah bin Al-Yaman yang berbunyi:
…تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ…
“… Engkau tetap pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka …”

Adapun yang dimaksud dengan Al-Jama’ah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Shahabat Ali bin Abi Thalib, yang berbunyi:
اَلسُّنَّةُ وَاللهِ سُنَّةُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاْلبِدْعَةُ مَا فَارَقَهَا وَ اَلْجَمَاعَةُ وَاللهِ مُجَامَعَةُ أَهْلِ اْلحَقِّ وَإِنْ قَلُّوْا وَ اْلفُرْقَةُ مُجَامَعَةُ أَهْلِ اْلبَاطِلِ وَاِنْ كَثَرُوْا
“Demi Allah, sunnah itu adalah sunnah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bid’ah itu adalah apa-apa yang memperselisihinya. Dan demi Allah, Al-Jama’ah itu adalah berkumpulnya ahlul haq sekalipun mereka sedikit dan Firqoh itu adalah berkumpulnya ahlul bathil sekalipun mereka banyak.” (Hamisy Musnad Imam Ahmad bin Hambal: I/109)

B. PERINTAH MENETAPI AL-JAMA’AH

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(1) وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ {أل عمران:103}
(1) “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu berfirqah-firqah (bergolong-golongan), dan ingatlah akan ni’mat Allah atas kamu tatkala kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah jinakkan antara hati-hati kamu, maka dengan ni’mat itu kamu menjadi bersaudara, padahal kamu dahulunya telah berada di tepi jurang api Neraka, tetapi Dia (Allah) menyelamatkan kamu dari padanya; begitulah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali ‘Imran:103 )

Penjelasan:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada pada tali Allah seraya ber-JAMA’AH, dan janganlah kamu berfirqah-firqah…” (QS.Ali Imran:103)

Kalimat “Al-Jama’ah” pada ayat ini artinya adalah berjama’ah (bersama-sama/bersatu padu), karena:

1. Sesuai dengan makna yang diberikan oleh para ahli Tafsir, di antaranya Abdullah bin Mas’ud, ia menye butkan bahwa yang dimaksud adalah “Al Jama’ah” (Tafsir Al-Qurthuby:III/159, Tafsir Jaami’ul Bayan:IV/21)

2. Adanya qorinah lafdziyah, yaitu WALA TAFARROQU setelah kalimat JAMI’AN, Ibnu Katsir berkata bahwa yang dimaksud adalah “Allah memerintahkan kepada mereka dengan berjama’ah dan melarang mereka berfirqoh-firqoh.” (Tafsir Ibnu Katsir:I/189)

3. Az-Zajjaj berkata: “Kalimat JAMI’AN adalah dibaca nashab, karena menjadi HAAL.“ (Tafsir Zaadul Masir:I/433)

Maka artinya secara berjama’ah dalam berpegang teguh pada tali Allah. (Tafsir Abi Suud:II/66)

Tidak semua kalimat “JAMI’AN” dalam Al-Qur’an artinya “bersama-sama (berjama’ah / bersatupadu)”, seperti pula tidak semua kalimat “JAMI’AN” berarti “keseluruhan / semuanya”. Sedikitnya ada empat ayat dalam Al-Qur’an yang kalimat “JAMI’AN” harus diartikan “bersama-sama (berjama’ah/bersatu padu)”, yaitu: surat Ali Imran:103, surat An-Nisa:71, surat An Nur:61 dan surat Al-Hasyr:14

Khudzaifah bin Yaman Radliallahu ‘anhu berkata:

(2) كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ .
2) “Adalah orang-orang (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan adalah saya bertanya kepada Rasulullah tentang kejahatan, khawatir kejahatan itu menimpa diriku, maka saya bertanya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada di dalam Jahiliyah dan kejahatan, maka Allah mendatangkan kepada kami dengan kebaikan ini (Islam). Apakah sesudah kebaikan ini timbul kejahatan? Rasulullah menjawab: “Benar!” Saya bertanya: Apakah sesudah kejahatan itu datang kebaikan? Rasulullah menjawab: “Benar, tetapi di dalamnya ada kekeruhan (dakhon).” Saya bertanya: “Apakah kekeruhannya itu?” Rasulullah menjawab: “Yaitu orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku. (dalam riwayat Muslim) “Kaum yang berperilaku bukan dari Sunnahku dan orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku, engkau ketahui dari mereka itu dan engkau ingkari.” Aku bertanya: “Apakah sesudah kebaikan itu akan ada lagi keburukan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru yang mengajak ke pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa mengikuti ajakan mereka, maka mereka melemparkannya ke dalam Jahannam itu.” Aku bertanya: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.” Rasululah menjawab: “Mereka itu dari kulit-kulit kita dan berbicara menurut lidah-lidah (bahasa) kita.” Aku bertanya: “Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian?” Rasulullah bersabda: “Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka!” Aku bertanya: “Jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imaam?” Rasulullah bersabda: “Hendaklah engkau keluar menjauhi firqoh-firqoh itu semuanya, walaupun engkau sam pai menggigit akar kayu hingga kematian menjumpaimu, engkau tetap demikian.” (HR.Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan: IX/65, Muslim, Shahih Muslim: II/134-135 dan Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah:II/475. Lafadz Al-Bukhari).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(3) إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ ولاَّهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ
(3 “Sesungguhnya Allah itu ridho kepada kamu pada tiga perkara dan benci kepada tiga perkara.
Adapun (3 perkara) yang menjadikan Allah ridho kepada kamu adalah:
1). Hendaklah kamu memper ibadati-Nya dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun,
2). Hendaklah kamu ber pegang-teguh dengan tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh,
3). Dan hendaklah kamu senantiasa menasihati kepada seseorang yang Allah telah menyerahkan kepemimpinan kepadanya dalam urusanmu.
Dan Allah membenci kepadamu 3 perkara;
1). Dikatakan mengatakan (mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya),
2). Menghambur-hamburkan harta benda,
3). Banyak bertanya (yang tidak ber faidah).” (HR Ahmad, Musnad Imam Ahmad dalam Musnad Abu Hurairah, Muslim, Shahih Muslim: II/6. Lafadz Ahmad)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(4) أَنَا أّمُرُكْم بِخَمْسٍ أَللهُ أَمَرَنِى بِهِنَّ : بِاْلجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ الْهِجْرَةِ وَ اْلجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ اْلجَمَاعَةِ قِيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَى اَنْ يَرْجِعَ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَى اْلجَاهِلِيَّةِ فَهُوَ مِنْ جُثَاءِ جَهَنَّمَ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ اِنْ صَامَ وَصَلَّى ، قَالَ وَاِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ فَادْعُوا اْلمُسْلِمِيْنَ بِمَا سَمَّاهُمُ اْلمُسْلِمِيْنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ
4) “Aku perintahkan kepada kamu sekalian (muslimin) lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; berjama’ah, mendengar, thaat, hijrah dan jihad fi sabilillah. Barangsiapa yang keluar dari Al Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, jika ia shaum dan shalat?” Rasul bersabda: “Sekalipun ia shaum dan shalat dan mengaku dirinya seorang muslim!, maka panggillah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang Allah telah berikan kepada mereka; “Al-Muslimin, Al Mukminin, hamba-hamba Allah ‘Azza wa jalla.” (HR.Ahmad bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad:IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi Kitabul Amtsal, bab Maa Jaa’a fi matsalis Shalati wa shiyami wa shodaqoti:V/148-149 No.2263. Lafadz Ahmad)

Umar bin Al-Khattab berkata:
(5) إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ فَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى الْفِقْهِ كَانَ حَيَاةً لَهُ وَلَهُمْ وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى غَيْرِ فِقْهٍ كَانَ هَلاَكًا لَهُ وَلَهُمْ
(5 “Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada Jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepe mimpinan kecuali dengan ditaati, maka barang siapa yang kaum itu mengangkatnya sebagai pimpinan atas dasar kefahaman, maka kesejahte raan baginya dan bagi kaum tersebut tetapi barangsiapa yang kaum itu mengangkatnya bukan atas dasar kefahaman, maka kerusakan baginya dan bagi mereka.” (HR.Ad-Darimi Sunan Ad-Darimi dalam bab Dzihabul ‘ilmi: I/79)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(6)… فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ اْلقَاصِيَةِ
6) “…maka wajib atas kamu berjama’ah, karena sesungguhnya serigala itu makan kambing yang sendirian.” (HR.Abu Dawud dari Abi Darda, Sunan Abi Daud dalam Kitabus Shalah: I/150 No.547)

C. Rahmat Allah beserta Orang yang Berjama’ah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(7) وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ {الشورى:8}
(7 “Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong.” (QS.Asy-Syuura:8)

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(8) وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأَمْلأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ {هود:118-199}
8) “Jika Tuhanmu menghendaki tentu Dia menja dikan manusia umat yang satu tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu (keputu san-Nya) telah diputuskan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS.Hud:118-119)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(9) اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَ اْلفُرْقَةُ عَذَابٌ
9) “Jama’ah itu rahmat dan firqoh itu adzab.” (HR.Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/278, Silsilah Ahaditsush Shohihah No.667)

D. Perpecahan itu Adzab

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(10) قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ{الأنعام:6}
(10 “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhati kanlah, betapa Kami mendatangkan kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).” (QS.Al-An’am:65)

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(11) إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ{الأنعام:159}
(11 “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS.Al-An’am:159)

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(12) وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِي. فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ. فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ{المؤمنون:52،53،54}
(12 “Dan sesungguhnya (agama) tauhid ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepadaKU. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka menjadi terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” (QS.Al-Mu’minun:52,53, 54)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(13) اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَ اْلفُرْقَةُ عَذَابٌ
(13 “Jama’ah itu rahmat dan firqoh itu adzab.” (HR.Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/278, Silsilah Ahaditsus Shohihah No.667)

Mu’adz bin Jabal Radliallahu ‘anhu berkata:
(14) صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا صَلاَةً فَأَطَالَ فِيهَا فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْنَا أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَطَلْتَ الْيَوْمَ الصّلاَةَ قَالَ إِنِّي صَلَّيْتُ صَلاَةَ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ سَأَلْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لأُمَّتِي ثَلاَثًا فَأَعْطَانِي اثْنَتَيْنِ وَرَدَّ عَلَيَّ وَاحِدَةً سَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَهُمْ غَرَقًا فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَرَدَّهَا عَلَيَّ
(14) “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat lalu beliau memanjangkannya, maka ketika telah selesai kami (para sahabat) bertanya: Ya Rasulullah pada hari ini engkau telah memanjang kan shalatnya.” Beliau menjawab: Sesungguhnya aku telah melaksanakan shalat dengan penuh suka dan duka, aku memohon kepada Allah Azza wa jalla tiga hal untuk ummatku, maka Dia memperkenankan yang dua hal dan menolak yang satu hal, aku memohon agar umatku tidak dikalahkan oleh musuh selain dari mereka (orang kafir), maka Allah memperkenankannya dan untuk tidak dibinasakan oleh banjir maka Allah memperkenankannya. Dan aku memohon kepada-Nya agar ummatku tidak berpecah belah tetapi Dia tidak memperkenankannya.” (HR.Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majalah dalam bab Maa yakuunu minal fitan: II/464, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi:IV/409 No.2175. Lafadz Ibnu Majah)

E. Perpecahan itu perilaku orang-orang musyrik

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(15) مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُونُوا مِنْ الْمُشْرِكِينَ . مِنْ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُون{الروم:31-32}
15) “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS.Ar-Rum:31-32)

Yang dimaksud dengan kalimat “Jangan kamu termasuk orang-orang musyrik” disini adalah jangan menyerupai perbuatan mereka yang suka memecah belah agama, mengganti, merubah, mengimani sebahagian dan mengingkari sebahagian yang lain. (Tafsir Ibnu Katsir:III/418) Maka ayat ini memperingatkan kepada kaum muslimin supaya tidak mengikuti firqoh-firqoh seperti orang musyrik sebab telah jelas bahwa semuanya dalam kesesatan yang nyata (Tafsir Abi Su’ud:VII/61).
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(16) شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ{الشورى:13}
16) “Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Ad-Dien, apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami (Allah) wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: “Tegakkanlah Ad-Dien dan janganlah kamu ber pecah-belah di tentangnya.” Berat bagi musyrikin menerima apa yang engkau serukan kepada mereka itu. Allah menarik kepada Ad-Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petun juk kepada (Ad-Dien)-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (QS.Asy-Syura:13)

F. Al-Jama’ah itu Hizbullah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(17) إِنَّمَا وَلِيُّكُمْ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ . وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْغَالِبُونَ{المائدة:55،56}
17) “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS.Al-Maidah:55-56)

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(18) لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمْ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَ نْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْمُفْلِحُونَ{المجادلة:22}
18) “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari padanya. Dan dimasukkannya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS.Al-Mujadalah:22)

G. Ancaman meninggalkan Al-Jama’ah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(19) مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ
(19) “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah, maka ia mati laksana kematiannya orang Jahiliyah dan barangsiapa yang berperang di bawah bendera keashobiahan (kesukuan) dia marah karena kesukuannya atau mengajak kepada keashobiahan dan menolong karena keashobiyahannya lalu dia terbunuh maka kematiannya laksana kematian Jahiliyah dan barangsiapa yang keluar dari umatku kemudian memusuhi orang-orang yang baik maupun yang fajir di antara umatku dan tidak mengecualikan orang-orang yang beriman dari mereka dan tidak menepati kepada orang yang diberi janji yang ia telah berjanji kepadanya maka dia bukan dari umatku dan aku bukan dari golongan mereka.” (HR.Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaaroh: II/135, Ahmad, Musnad Imam Ahmad bin Hambal:I/70, Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi:II/241, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud:IV/241. Lafadz Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(20) لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
20) “Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena tiga hal; orang yang telah kawin yang berzina, qishoh (pembunuhan), dan orang yang meninggalkan agamanya yaitu orang yang memisahkan diri dari Jama’ah.” (HR.Muslim dari Abdullah, Shahih Muslim dalam Kitabul Qosamah wal muharibin: II/40, Ahmad, Musnad Ahmad: I/382, Abu Daud, Sunan Abu Daud: IV/126, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah: II/847, An-Nasai Sunan An-Nasa’i: VII/90, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi:IV/12 dan Ad-Darimi Sunan Ad-Darimi:II/218. Lafadz Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(21) إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ رَأَيْتُمُوهُ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ أَوْ يُرِيدُ يُفَرِّقُ أَمْرَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَائِنًا مَنْ كَانَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّ يَدَ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ يَرْكُضُ
21) “Sesungguhnya akan ada setelahku kerusakan dan keburukan maka barangsiapa yang kamu melihatnya telah memisahkan diri dari Al Jama’ah atau hendak memecah belah urusan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana dia berada maka bunuhlah ia. Maka sesung guhnya tangan Allah itu beserta Al-Jama’ah dan sesungguhnya syaitan itu akan sangat dekat bersama orang yang memisahkan diri dari Al Jama’ah.” (HR.An-Nasai, Sunan An-Nasai dalam Kitab Tahrimud Dam:VII/92, Muslim, Shahih Muslim:II/136 dan Ahmad, Fathurrobbani:XXIII/8. Lafadz An-Nasa’i)

H. Pahala menetapi Al-Jama’ah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(22) نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لاَ يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
(22 “Allah akan memberikan wajah yang cerah kepada seseorang yang mendengar sabdaku lalu memperhatikannya dan menghafalnya serta menyampaikannya. Maka bisa jadi seseorang menyampaikan itu kepada orang yang lebih faham.
Tiga hal yang hati seseorang muslim tidak akan dengki atasnya;
1) Ikhlas dalam beramal,
2) Menasehati Imaamul Muslimin dan
3) Menetapi Jama’ah Muslimin.
Maka sesungguhnya do’a mereka itu mengikuti dari belakang mereka.” (HR.At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud, Sunan At-Tirmidzi dalam Kitabul iIlmi:V/33 No.2656, Ad-Darimi, Sunan Ad-Dirimi:I/76)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(23) أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ زَادَ ابْنُ يَحْيَى وَعَمْرٌو فِي حَدِيثَيْهِمَا وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ ا ْلأ هْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لاَ يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلاَ مَفْصِلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ
(23) “Ingatlah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab itu berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan dan sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang tujuh puluh dua golongan di dalam neraka sedang yang satu di dalam surga, yaitu Al-Jama’ah dan sesungguhnya akan ada dari ummatku beberapa kaum yang dijangkiti oleh hawa nafsu sebagaimana menjalarnya penyakit anjing gila dengan orang yang dijangkitinya, tidak tinggal satu urat dan sendi ruas tulangnya, melainkan dijangkitinya.” (HR. Abu Dawud dari Muawiyah bin Abi Sofyan, Sunan Abu Dawud dalam Kitabus Sunnah:IV/198 No.4597, Ahmad, Musnad Ahmad:III/145-IV/102 Lafadz Abu Dawud)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(24) افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ
(24 “Orang-orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan masuk syurga sedangkan yang tujuh puluh golongan masuk ke dalam neraka, dan orang orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu masuk ke dalam neraka sedangkan yang satu golongan masuk ke dalam syurga. Demi dzat yang diri Muhammad ada di genggaman-Nya niscaya umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, maka yang satu golongan masuk ke dalam surga sedang yang tujuh puluh dua golongan masuk ke dalam neraka, ditanyakan kepada Rasulullah: Siapakah mereka itu (golongan yang masuk ke dalam syurga)? Beliau bersabda: “Al-Jama’ah.” (HR.Ibnu Majah dari Auf bin Malik, Sunan Ibnu Majah dalam Kitabul Fitan:II/479 dan At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi:V/2641, Lafadz Ibnu Majah)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(25) أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ حَتَّى يَحْلِفَ الرَّجُلُ وَلاَ يُسْتَحْلَفُ وَيَشْهَدَ الشَّاهِدُ وَلاَ يُسْتَشْهَدُ أَلاَلاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إلاَّكَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ اْلإِثْنَيْنِ أَبْعَدُ مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكُمُ الْمُؤْمِنُ
(25 “Aku wasiatkan kepada kamu untuk berbuat baik kepada para sahabatku, kemudian kepada generasi yang setelah mereka dan kemudian pada generasi yang setelahnya, kemudian setelah itu akan tersebar kebohongan sehingga seseorang akan bersumpah sedangkan dia tidak diminta untuk bersumpah dan akan memberikan kesaksian sedangkan ia tidak diminta kesaksiannya. Ingatlah tidaklah sekali-kali seorang laki-laki bersepi sepian dengan seorang wanita (yang bukan muhrimnya), kecuali yang ketiganya itu syaitan, maka wajib atas kamu berjama’ah dan jauhilah berfirqoh-firqoh karena sesungguhnya syaitan itu berserta orang yang sendirian dan dia akan menjauh dari dua orang. Barangsiapa yang menginginkan bangunan di syurga, maka hendak lah menetapi Al-Jama’ah dan barangsiapa yang kebaikannya menjadikan ia gembira dan kejelek kannya menjadikan ia sedih maka itulah tanda orang yang beriman.” (HR.At-Tirmidzi dari Umar bin Al-Khattab, Sunan At-Tirmidzi dalam Kitabul Fitan:IV/404 No.2165 dan Ahmad, Musnad Ahmad:I/18, Lafadz At-Tirmdzi)

I. Periodisasi Masa Kekhilafahan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(26) تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
(26 ”Adalah masa Kenabian itu ada di tengah tengah kamu sekalian, adanya atas kehendaki Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehandak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia meng hendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).”Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR.Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/273, Al-Baihaqi, Misykatul Mashobih hal 461. Lafadz Ahmad).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(27) الْخِلاَفَةُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلاَفَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلاَفَةَ عُمَرَ وَخِلاَفَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلاَفَةَ عَلِيٍّ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِي أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلاَفَةَ فِيهِمْ قَالَ كَذَبُوا بَنُو الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوكِ
(27 “Masa pada ummatku itu tiga puluh tahun kemudian setelah itu masa kerajaan. Kemudian Safinah berkata kepadaku: peganglah kekhalifahan Abu Bakar, kekhalifahan Umar, kekhalifahan Utsman dan kekhalifahan Ali. Maka aku dapatinya masa kekhalifahan itu tiga puluh tahun, Said berkata: “Saya bertanya kepadanya, sesungguhnya Bani Umayyah mengaku bahwa masa kekhalifahan itu ada pada mereka.” Ia berkata: “Banu Zurqo telah berdusta bahkan mereka itu para raja dari seburuk-buruk raja.” (HR.At Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi dalam Kitabul Fitan:IV/436 No.2226 dan Abu Dawud, Sunan Abu Dawud:IV/211 No.4646, Lafadz At-Tirmidzi)

April 22, 2014 at 3:36 am Tinggalkan komentar

Al Wala Wal Baroo

PENGERTIAN AL-WALA’ WAL BARO’
SERTA KONSEKWENSINYA

MUQADDIMAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga, sahabatnya serta orang-orang yang menempuh jalan dengan petunjuknya.

Pengertian Al-wala’ wal baro’ dan segala konsekwensinya

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Al-baraa’ah (sikap berlepas diri/kebencian) adalah kebalikan dari al-wilaayah (loyalitas/kecintaan), asal dari al-baraa’ah adalah kebencian dan asal dari al-wilaayah adalah kecintaan. Yang demikian itu karena hakikat tauhid adalah (dengan) tidak mencintai selain Allah dan mencintai apa dicintai Allah karena-Nya. Maka kita tidak (boleh) mencintai sesuatu kecuali karena Allah dan (juga) tidak membencinya kecuali karena-Nya”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah merahmatinya – berkata, “Sesungguhnya al-wilaayah (loyalitas/kecintaan) adalah lawan dari al-’adaawah (permusuhan), dan al-wilaayah mengandung (konsekwensi) kecintaan dan kecocokan, sedangkan al-’adaawah mengandung (konsekwensi) kebencian dan ketidakcocokan

Setelah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, wajib bagi setiap muslim untuk mencintai para wali-wali Allah dan tidak mencintai musuh-musuh-Nya.
Termasuk dari dasar-dasar aqidah Islam, bahwa setiap muslim yang beragama dengan akidah ini wajib untuk :
1. Berwala’ (sikap setia, loyal) terhadap orang-orang yang berakidah Islam dan memusuhi orang-orang yang menentang akidah Islam.
2. Mencintai orang yang bertauhid dan orang-orang yang ikhlas serta berwala’ terhadap mereka.
3. Membenci orang-orang musyrik dan memusuhinya.

Hal yang demikian itu termasuk sebagian dari millah (agama) Nabi Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya, yang kita diperintahkan untuk mencontoh mereka, sebagaiman firman Allah Ta’ala :

                                    •                 
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka : ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja’. (Al-Mumtahanah (60 : 4).

Juga termasuk dari agama Muhammad SAW, Allah berfirman :
       •             •      
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-peminpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin maka sesungguhnya Allah tidak memberi petujuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Maidah (5: 51).

Ayat ini berkenaan dengan haramnya berwala’ terhadap ahli kitab secara khusus. Demikian pula haram menjadikan orang kafir secara umum sebagai pemimpin, sebagaimana firman Allah SWT:

      •  ….. 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu sebagai teman-teman setia (pemimpin). (Al-Mumtahanah(60 : 1).

Bahkan haram hukumnya bagi orang mu’min menjadikan orang kafir sebagai pemimpin walaupun mereka adalah keluarganya sendiri. Allah I berfirman :

                    

“Hai orang-orang yang beriman, jangnlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekeafiran atas keimanan dan barangsiapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpin maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (At-Taubah (9: 23).

Dan Allah I berfirman :

         •             …… 

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bpak, anak-anak, saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (Al-Mujadalah (58 : 22).
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini berkata, “…Seorang hamba tidak akan menjadi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat dengan (keimanan) yang sebenarnya kecuali setelah dia mengamalkan kandungan dan konsekwensi imannya, yaitu mencintai dan berloyalitas kepada orang-orang yang beriman (kepada Allah), serta membenci dan memusuhi orang-orang yang tidak beriman, meskipun mereka orang yang terdekat hubungannya dengannya.
Sebagaimana Allah mengharamkan wala’ terhadap kaum kafir, musuh-musuh akidah Islam, Allah pun mewajibkan berwala’ terhadap kaum muslimin. Allah I berfirman :
          •          •     

“Sesunggunhya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah (5:55-56).

Allah I berfirman :
            ….. 
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang beriman yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath (48 :29 ).

Allah I berfirman :
       •    
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat (49:10).

Oleh karena itu orang mukminin adalah saudara seagama dan seakidah, walaupun jauh nasabnya, negaranya maupun zamannya. Allah I berfirman :

                    •   
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’a : Ya Tuhan kami, berilah kami ampunan dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadp orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al- Hasyr (59:10).

Oleh karena itu kaum muslimin sejak mereka diciptakan sampai akhir nanti, meski tanah airnya berjauhan dan masanya tidak berdekatan, mereka adalah bersaudara dan saling mencintai. Orang-orang yang datang berikutnya meneladani orang-orang yang sebelum mereka dari kaum mukminin, mereka saling mendo’akan dan saling memintakan ampunan antar sesama mereka.
Al Wala’ wal Bara’ itu memiliki fenomena yang nyata, yang menunjukkan keberadaannya.

 

 

 

 

 

 

 

BAB I
SEBAGIAN FENOMENA YANG TAMPAK
DARI SIKAP WALA’ TERHADAP ORANG KAFIR

1. Menyerupai mereka dalam tata cara berpakaian, berbicara dan sebagainya.
Karena menyerupai mereka dalam berpakaian, berbicara dan lain sebagainya menunjukkan suatu kecintaan terhadap mereka yang diserupainya. Oleh karena itu Rasulullah r bersabda :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ
ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diutus dengan pedang hingga Allah yang diibadahi dan tiada sekutu bagi-Nya, rizkiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad/No. 4868)

Oleh karena itu diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang menjadi ciri khusus mereka, yang berupa tradisi atau adat kebiasaan, ibadah, simbol dan akhlak mereka

2. Menetap di negeri orang kafir dan tidak mau berpindah (hijrah) dari negeri tersebut ke negeri kaum muslimin dengan maksud menyelamatkan agamanya.

Hijrah dalam pengertian semacam ini dan dengan tujuan seperti ini hukumnya wajib. Menetapnya seseorang di negeri kafir menunjukkan kecintaan orang tersebut terhadap orang kafir. Dari sinilah Allah mengharamkan orang muslim untuk tinggal di antara orang kafir bila dia mampu untuk hijrah. Allah berfirman :
•           •    
              •  
           
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya dirinya sendiri (kepada mereka) Malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab : adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah). Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ orang-orang itu tempatnya adalah neraka jahannam, dan jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki, wanita, dan anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (An-Nisa’ (4: 97-98).

Maka Allah, tidak menerima alasan menetap di negeri kafir kecuali orang-orang lemah yang tidak mampu untuk hijrah, demikian pula orang yang tetap tinggal di negeri kafir yang mempunyai kemaslahatan dalam agama seperti dakwah ke jalan Allah dan menyebarkan Islam ke negeri mereka.

3. Bepergian ke negeri mereka dengan maksud wisata dan refreshing (menyegarkan jiwa).

Hal yang demikian haram hukumnya kecuali untuk hal yang sangat diperlukan, seperti berobat, berdagang, studi tentang sesuatu yang bermanfaat yang tidak bisa tercapai kecuali dengan mengadakan perjalanan ke negeri mereka, maka hal itu diperbolehkan sesuai dengan kebutuhan. Jika kebutuhannya sudah terpenuhi, ia wajib kembali ke negeri kaum musllimin.
Dan disyari’atkan pula untuk dibolehkannya mengadakan perjalanan semacam ini, ia mampu menampakkan agamanya, bangga dengan keislamannya, menjauhi tempat-tempat kejahatan, waspada terhdap penyelinapan musuh-musuhnya dan tipu daya mereka.
Dan diperbolehkan juga untuk bepergian atau wajib pergi ke negeri mereka apabila dimaksudkan untuk berdakwah ke jalan Allah dan menyebarkan Islam.

4. Membantu kaum kafir dan menolong mereka dalam usaha melawan kaum muslimin, mengirim bantuan dan melindungi mereka.

Ini termasuk hal yang membatalkan keislaman dan yang menyebabkan seseorang menjadi murtad. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.

5. Meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagi kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.

Allah berfirman :
                         ••                   •             •                        •     
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalangan kamu (karena) mereka tidak henti-hentinya (manimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyaikan oleh hati mereka lebih besar lagi, sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat kami, jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya, apabila mereka menjumpai kamu mereka berkata: ‘Kami beriman’. Dan apabila mereka menyendiri mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah kepada mereka : matilah kamu karena kemarahanmu itu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya.” (Ali Imran :118-120).

Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin yang berupa kebencian dan siasat untuk malawan kaum muslimin seperti tipu daya dan pengkhianatan. Dan ayat ini juga mengungkapkan tentang kesenangan mereka bila kaum muslimin mendapat musibah. Dengan berbagai cara mereka mengganggu ummat islam. Bahkan kaum kuffar tersebut memanfaatkan kepercayaan ummat Islam kepada mereka dan menyusun rencana untuk mendiskreditkan dan membahayakan ummat Islam.

Dari nash-nash tersebut di atas jelaslah bagi kita tentang haramnya mengangkat kaum kafir untuk menduduki jabatan pekerjaan kaum muslimin yang mereka nanti akan mengokohkan kedudukannya dengan sarana yang ada padanya untuk mengetahui keadaan kaum muslimin dan membuka rahasia-rahasia mereka atau menipu menjerumuskan ummat Islam ke dalam kerugian dan kebinasaan.
6. Ikut berpartisipasi dalam hari raya mereka atau membantu mereka dalam menyelenggarakannya atau memberikan penghormatan terhadap mereka dengan memberikan ucapan selamat sesuai dengan hari raya mereka, atau ikut hadir pada saat merayakannya.

Dalam tafsir firman Allah :
    …… 
“Mereka tidak menyaksikan az-zuur (persaksian palsu).” (Al-furqan (25: 72).

7. Memuji dan membanggakan keadaan mereka seperti kagum terhadap peradaban, akhlak dan kemajuan teknologi mereka tanpa memperhatikan akidah mereka yang keliru dan agama mereka yang rusak.

Allah berfirman :
 •                  
“Dan janganlah kamu tunjukkan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami coba mereka dengannya, dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Toha (20: 131).

Yang demikian itu bukan berarti orang Islam tidak boleh mencari tahu tentang sebab-sebab kekuatan mereka, seperti kemajuan teknologi, teknik militer dan keberhasilan ekonomi mereka, akan tetapi yang demikian itu justru harus dituntut.
Allah berfirman :
  •    ……. 
“Bersiaplah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa yang kamu sanggupi.” (Al-Anfal (8:60).

Pada dasarnya beberapa hal yang berfaedah dan rahasia-rahasia alam semesta yang ada adalah untuk kaum muslimin. Allah berfirman :
                            
“Katakanlah : ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkannya untuk hamba-hambanya dan juga rizki yang baik? Katakanlah : ‘Semua itu disediakan bagi orang-orang yang beriman di dunia, khusus untuk mereka saja di hari kiamat’.” (Al-A’raf 7: 32).

Firman Allah :
    •    …… 
“Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (al-Baqarah : 29).

Oleh karena itu kaum muslimin wajib saling berlomba dalam usaha memperoleh beberapa teknologi dan potensi yang ada, jangan sampai ditemukan orang kafir agar mereka tidak tergantung kepada orang kafir dalam memperoleh teknologi tersebut. Bahkan dianjurkan agar mereka mampu memiliki industri-industri dan menciptakan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.

8. Memberi nama dengan nama-nama orang kafir.

Banyak diantara kaum muslimin yang memberi nama kepada anaknya baik laki-laki maupun perempuan dengan nama-nama asing dan meninggalkan nama bapaknya, ibunya, kakeknya, neneknya, dan nama-nama yang dikenal di masyarakatnya. Padahal Nabi bersabda :

قَالَ إِنَّ خَيْرَ الْأَسْمَاءِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَالْحَارِثُ
“Sesungguhnya sebaik-baik nama adalah Abdullah, Abdurrahman dan Al Harits.”
(HR. Ahmad No. 16946)

9. Berdo’a memohonkan ampunan bagi mereka dan bersikap kasih sayang terhadap mereka.

Allah telah mengharamkan hal demikian ini dalam firmannya :
  •             •  •   

“Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam.” (At-Taubah (9: 113).

Karena dalam permasalahan ini mengandung adanya suatu rasa kecintaan terhadap mereka dan membenarkan sesuatu yang ada pada mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
SEBAGIAN FENOMENA YANG TAMPAK
DARI SIKAP WALA’ TERHADAP
KAUM MUSLIMIN

1. Hijrah ke negeri kaum muslimin dan meninggalkan negeri kaum kafir.
Hijrah itu adalah berpindah dari negeri kafir ke negeri muslim dengan maksud untuk menyelamatkan agama. Hijrah dengan pengertian dan tujuan seperti ini adalah wajib dan senantiasa tetap ada sampai matahati terbit dari barat pada saat datangnya hari kiamat. Nabi berlepas diri dari setiap muslim yang menetap di tengah-tengah kaum musyrikin, oleh karena itu diharamkan atas setiap muslim menetap di negeri kaum kafir kecualli bila dia tidak mampu hijrah meninggalkan tanah air orang kafir atau keberadaannya di sana membawa manfaat agama, seperti untuk da’wah ke jalan Allah dan menyebarkan islam.

Allah berfirman :

•           •                   •             
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya dirinya sendiri (kepada mereka) Malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab : adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah). Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ orang-orang itu tempatnya adalah neraka jahannam, dan jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki, wanita, anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (An-Nisa’ : 97-98).

2. Berusaha menolong dan membantu kaum muslimin dengan jiwa, harta dan lisan dalam setiap apa yang mereka butuhkan, baik dalam urusan agama maupun dunia.
Allah berfirman :
      …… 
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan wanita, sebagian mereka adalah menjadi penolong sebagian yang lain.” (At-Taubah (9:71).
     •        ….
“Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan) pembelaan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali atas kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka.” (Al-Anfal (8:72).

3. Ikut merasakan sakit atas penderitaan mereka dan gembira dengan sebab mereka mendapat kesenangan.
Nabi besabda :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” HR. Bukhari No. 5552)
Nabi bersabda :
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
Dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang beriman terhadap orang beriman lainnya bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan”. Dan Beliau mendemontrasikannya dengan cara mengepalkan jari jemari Beliau. (HR. Bukhari No.2266)

4. Memberi nasehat kepada mereka, mencintai kebaikan bagi mereka, tidak berkhianat dan tidak menipunya.
Nabi bersabda :

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. (HR. Bukhari No.12)
يَقُولُ وَهُوَ يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam) bersabda dan beliau memberi isyarat dengan jarinya, “Seorang muslim itu saudara muslim lainnya, tidak boleh menganiayanya dan tidak boleh merendahkannya. (HR. Ahmad No. 16029)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian saling benci, jangan saling hasad, jangan saling menambah menjatuhkan harga, jangan saling membelakangi dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (HR. Ahmad No. 8757)

5. Menghormati dan memuliakan kaum muslimin serta tidak merendahkan dan mencela mereka.
Allah berfirman :
                                                                       •   •    

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-galar yang buruk. Seburuk-buruk (panggilan) ialah panggilan yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak beriman, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari mencari kesalahan-kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat (49: 11-12).

6. Senantiasa bersama mereka, baik dalam keadaan sulit maupun lapang, dan dalam keadaan susah maupun senang.
Berbeda dengan orang-orang munafik yang hanya bersama kaum muslimin pada saat lapang dan senang, dan mereka meninggalkan kaum muslimin ketika dalam keadaan susah.
Allah berfirman :
            •                          
“Orang-orang yang menunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin), maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah, mereka berkata : ‘Bukankah kami turut berperang bersama kamu?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata : ‘Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin’.” (An-Nisa’ (4:141).

7. Mengunjungi kaum muslimin, senang bertemu dan berkumpul bersama mereka.
Nabi bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لَا غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di desa lain. Kemudian Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menemui orang tersebut. Ketika orang itu ditengah perjalanannya ke desa yang dituju, maka malaikat tersebut bertanya; ‘Hendak pergi ke mana kamu? ‘ Orang itu menjawab; ‘Saya akan menjenguk saudara saya yang berada di desa lain.’ Malaikat itu terus bertanya kepadanya; ‘Apakah kamu mempunyai satu perkara yang menguntungkan dengannya? ‘ Laki-laki itu menjawab; ‘Tidak, saya hanya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla.’ Akhirnya malaikat itu berkata; ‘Sesungguhnya aku ini adalah malaikat utusan yang diutus untuk memberitahukan kepadamu bahwasanya Allah akan senantiasa mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah.’ (HR. Muslim No. 4656)

8. Menghargai hak-hak kaum mukminin.
Ia tidak mau menjual atas penjualan kaum mukminin (tidak berebut pembeli), tidak menawar barang yang telah mereka tawar, tidak meminang wanita yang telah mereka pinang, dan tidak merebut apa yang telah mereka dahului dalam perkara yang mubah.
Nabi bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا يَبِيعُ الرَّجُلُ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلَا يَخْطُبُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ وَلَا تَسْأَلُ الْمَرْأَةُ طَلَاقَ أُخْتِهَا لِتَكْفَأَ مَا فِي إِنَائِهَا
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orang kota menjual untuk orang desa, dan melarang meninggikan penawaran barang (yang sedang ditawar orang lain dengan maksud menipu), dan melarang seseorang membeli apa yang dibeli (sedang ditawar) oleh saudaranya, melarang pula seseorang meminang (wanita) pinangan saudaranya dan melarang seorang wanita meminta suaminya agar menceraikan isteri lainnya (madunya) dengan maksud periuknya sajalah yang dipenuhi (agar belanja dirinya lebih banyak) “. (HR. Bukhari No. 1996)

9. Bersikap lemah lembut terhadap kaum yang lemah diantara kaum muslimin.
Nabi bersabda :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ الْكَبِيرَ وَيَرْحَمْ الصَّغِيرَ وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ
Dari Ibnu Abbas, dan dia merafa’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil serta tidak menyuruh kepada kebaikan dan melarang yang mungkar.” (HR. Ahmad No. 2214)

10. Mendoakan kaum muslimin dan memintakan ampunan bagi mereka.
Allah berfirman :
     ….. 

“Dan mohonkanlah ampun bagi dosamu dan bagi dosa-dosa orang-orang mukmin laki-laki dan wanita.” (Muhammad (47: 19).

Firman Allah :
       …… 

“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang beriman lebih dahulu dari kami.” (Al-Hasyr (59 : 10).
HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
Allah berfirman :
                  •    
8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (Al-Mumtahanah (60: 8).

Pengertiannya adalah, barangsiapa diantara kaum kuffar yang telah menahan diri untuk tidak mengganggu, tidak memerangi dan tidak mengusir kaum muslimin dari kampung halaman mereka, maka dalam menghadapi kaum kuffar yang demikian itu, kaum muslimin harus memberikan suatu balasan yang seimbang, yakni dengan kebaikan dan berlaku adil dalam hubungan yang bersifat duniawi. Meski demikian, hati mereka tetap tidak boleh mencintai orang kafir, karena Allah berfirman :
    
“… untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka.” (Al-Mumtahanah : 8).
Dan Allah tidak berfirman : “Untuk berwala’ (setia) dan mencintai mereka.”
Dan sebagai perbandingan dalam masalah ini, Allah berfirman tentang keadaan kedua orang tua yang kafir :
                   •      ….. 
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu.(Luqman :15 ).

Dalam hadits diceritakan :
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اBللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ
Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari Bapaknya dari Asma’ binti Abi Bakr radliallahu ‘anhuma berkata; Ibuku menemuiku saat itu dia masih musyrik pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu aku meminta pendapat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku katakan; “Ibuku sangat ingin (aku berbuat baik padanya), apakah aku harus menjalin hubungan dengan ibuku?” Beliau menjawab: “Ya, sambunglah silaturrahim dengan ibumu”. (HR. Bukhari No. 2427)

Dan Allah telah berfirman :
         •             ….. 

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasulnya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (Al-Mujadalah(58: 22).

Maka hubugan silaturrahim dan saling memberikan balasan dalam urusan dunia adalah suatu perkara, sedang suatu sikap rasa cinta dan kasih sayang adalah perkara lain.
Disamping menyambung tali kekeluargaan dan hubungan pergaulan yang baik merupakan pemikat sehingga orang kafir mau masuk Islam. Dengan demikian perkara tersebut merupakan bagian dari sarana dakwah. Berbeda halnya dengan kasih sayang dan kesetiaan yang menunjukkan persetujuan terhadap orang kafir atas sesuatu yang ada padanya, seperti akhlaqnya, akidahnya, ibadahnya dan lain-lain. Yang demikian itu menyebabkan tidak ada keinginan untuk mengajak mereka masuk Islam.
Demikian pula diharamkannya berwala’ terhadap orang kafir, bukan berarti diharamkan bergaul dengan mereka dalam hal hubungan dagang yang mubah, mengimport barang-barang dan industri, atau mengambil manfaat dari pengalaman dan temuan-temuan mereka. Nabi pernah menyewa Ibnu Uraiqith Al-Laitsi yang kafir agar dia menjadi penunjuk jalan ketika beliau hijrah ke madinah. Juga beliau hutang kepada sebagian orang yahudi.
Sedang kaum muslimin yang senantiasa mengimport barang-barang dan industri dari orang kafir, hal ini termasuk dalam masalah jual beli dengan harga yang pantas, bukan berarti mereka memiliki kelebihan dan keutamaan atas kita, dan hal itu juga bukan salah satu sebab timbulnya rasa cinta dan wala’ kepada mereka. Allah mewajibkan mencintai kaum muslimin dan berwala’ kepada mereka dan membenci orang-orang kafir serta memusuhi mereka.
Allah berfirman :
•            •      ….. 
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi.” (Al-Anfal (8: 72).

Tentang firman Allah :
              
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain. Jika kalian tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Al-Anfal (8:73 ).

Al hafidz Ibnu Katsir berkata : “Makna firman Allah : ‘Jika kalian tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar’ adalah jika kalian tidak menjauhi kaum musyrikin dan tidak berwala’kan terhadap kaum mukminin, jika kalian tidak melakukan hal itu niscaya akan terjadi fitnah di tengah manusia berupa pencampuradukan antara perkara kaum mukminin dengan kaum kafir, hingga menyebabkan kerusakan yang luas dan menyebar.”

PEMBAGIAN MANUSIA
DALAM MASALAH WALA’ WAL BARO’

Manusia dalam permasalahan al-wala’ wal baro’ terbagi atas tiga bagian :

1. Mereka yang dicintai dengan suatu kecintaan yang murni, tidak terdapat permusuhan sama sekali disamping kecintaannya.
Mereka adalah kaum mukminin sejati seperti para Nabi, orang –orang yang jujur, syuhada’ dan shalihin. Dan yang paling mulia dari mereka adalah Rasulullah maka wajib pula mencintai beliau lebih besar daripada kecintaan terhadap diri sendiri, anak, orang tua dan manusia secara umum.
Allah berfirman :

                    •   

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’a : Ya Tuhan kami, berilah kami ampunan dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al- Hasyr :10).
2. Orang yang dibenci dan dimusuhi dengan sesungguhnya, serta tidak ada suatu kecintaan sama sekali kepada mereka.
Mereka adalah kaum kafir tulen dari golongan orang kafir, musyrik munafik, kaum murtad dan kaum yang menentang Islam dari berbagai golongan.
Sebagaimana firman Allah :
         •             …… 
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (Al-Mujadalah : 22).
Allah mencela Bani Israel dalam firmannya :
                         •           
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadnya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik.” (Al-Maidah : 80-81).

3. Orang yang dicintai karena suatu hal dan dibenci karena suatu hal yang lain.
Maka dalam dirinya terkumpul adanya suatu kebencian dan permusuhan, mereka itu adalah orang yang berbuat kemaksiatan dari kalangan kaum mukminin. Mereka dicintai karena ada pada mereka keimanan dan dibenci karena ada pada mereka kemaksiatan yang bukan termasuk kakafiran dan kemusyrikan.
Mencintai mereka dengan konsekwensi menasehati mereka dan mengingkari perbuatan maksiat yang mereka lakukan, bahkan harus mengingkarinya, agar mereka disuruh kepada yang baik dan dilarang dari kemungkaran. Dan hendaknya ditegakkan atas mereka hukum-hukum serta ancaman ancaman sehingga mereka jera dari kamaksiatan dan bertaubat dari kejahatan.
Suatu kecintaan yang didasarkan karena Allah, dan kebencian karena Allah adalah tali yang sangat kuat dalam keimanan, dan seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya di hari kiamat. Demikian dijelaskan dalam sebuah hadits. Situasi dan keadaan telah berubah, kini kebanyakan manusia setia dan memusuhi karena urusan dunia. Mereka berwala’ terhadap orang yang memiliki kekuasaan kenikmatan dunia meski orang tersebut adalah musuh Allah, Rasul-Nya dan agama Islam. Sedang orang yang tidak memiliki nasib baik duniawi, mereka memusuhinya, meski orang tersebut adalah wali Allah dan setia terhadap Rasul-Nya, bahkan dikarenakan sebab yang sepele mereka mengucilkannya dan menghinakannya.
Abdullah bin Abbas berkata : “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berwala’ karena Allah dan memusuhi karena Allah, (maka ketahuilah) memang wilayah Allah itu hanya bisa dicapai dengan perbuatan itu. Dan umumnya manusia mengikat tali persaudaraan karena perkara dunia. Yang demikian itu tidaklah mendatangkan suatu manfaat pun bagi pelakunya.”

 
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah t bahwasanya Rasulullah bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
“Sesunguhnya Allah berfirman : ‘Barangsiapa memusuhi waliKu, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang padanya.” (HR. Al-Bukhari).
Orang yang paling memusuhi Allah adalah orang yang memusuhi sahabat Nabi , mencela dan merendahkan martabat mereka, padahal Rasulullah telah bersabda :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ وَمَنْ آذَى اللَّهَ يُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ
“Demi Allah, demi Allah, dalam perkara sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (cemoohan dan ejekan), barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh dia telah menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku maka sungguh ia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan menyiksanya.” (HR. Atirmidzi)
Wallahu a’alam

April 22, 2014 at 3:28 am Tinggalkan komentar

Thoghut

HAKEKAT DAN PENGERTIAN THOGUT
SERTA KONSEKWENSINYA
Thoghut adalah setiap yang disembah selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala, ia rela dengan peribadatan yang dilakukan oleh penyembah atau pengikutnya, atau rela dengan keta’atan orang yang menta’atinya dalam hal maksiat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul agar memerintahkan kaumnya menyembah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata dan menjauhi segala bentuk thoghut. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
    •        ……. 
36. dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, QS: An-Nahl: 36)

Pengertian Thogut berdasarkan ayat tersebut adalah :
وقال مجاهد: “الطاغوت”: الشيطان في صورة إنسان، يتحاكمون إليه، وهو صاحب أمرهم.
Dan Mujahid berkata, bahwa thoghut itu artinya; Syetan dalam bentuk manusia yang di datangi untuk memutuskan perkara, dan dia yang menguasai urusan mereka. (Tafsir Ibnu Katsir)

وقال الإمام مالك: “الطاغوت”: هو كل ما يعبد من دون الله، عز وجل. )تفسر ابن كثر(
Telah berkata Imam Malik bahwa thoghut itu artinya adalah; segala sesuatu yang diibadahi selain Alloh swt.
الطاغوت هو كل ما يدعو إلى الضلالة) تفسر الالوسى(
Thogut adalah segala sesuatu yang mengajak kepada kesesatan (Tafsir Al-Alusi)
{ واجتنبوا الطاغوت } أي : اتركوا كل معبود دون الله كالشيطان ، والكاهن ، والصنم ، وكل من دعا إلى الضلال ) تفسر فتح القدر(
Menjauhi Thogut adalah meninggalkan segala bentuk penyembahan selain kepada Allah, seperti menyembah syetan, dukun dan berhala, dan setiap yang mengajak kepada kesesatan. (Tafsir Fathul Qodir).

                              
60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa (4:60)

Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini lebih umum dari pada itu semua, sesungguhnya ayat itu merupakan celaan bagi setiap orang yang menyeleweng dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta berhukum kepada selain keduanya. Dan inilah yang dimaksud dengan thoghut di sini.” (Tafsir Ibnu Katsir I/619).
Ibnul Qoyyim berkata: “Thoghut adalah segala sesuatu yang mana seorang hamba itu melampaui batas padanya, baik berupa sesuatu yang diibadahi atau diikuti atau ditaati. Maka thoghut adalah segala sesuatu yang dijadikan pemutus perkara oleh suatu kaum, selain Alloh dan rosulNya, atau mereka ibadahi selain Alloh, atau mereka ikuti tanpa berdasarkan petunjuk dari Alloh, atau mereka taati pada perkara yang mereka tidak tahu bahwa itu ketaatan kepada Alloh. Inilah thoghut didunia ini, apabila engkau renungkan keadaan manusia bersama thoghut ini engkau akan melihat mereka kebanyakan berpaling dari berhukum kepada Alloh dan RosulNya lalu berhukum kepada thoghut, dan berpaling dari mentaati Alloh dan mengikuti rosulNya lalu mentaati dan mengikuti thoghut.” (A’lamul Muwaqqi’in I/50)
Adapun Syaikh Sulaiman bin Samhan An-Najdi berkata: “Thoghut itu tiga macam: thoghut dalam hukum, thoghut dalam ibadah dan thoghut dalam ketaatan dan pengikutan.” (Ad-Duror As-Sunniyah VIII/272)

A. Thoghut dalam hukum, ini terdapat dalam firman Alloh:

                             
60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. 4:60)

Dan setiap orang yang dimintai untuk memutuskan hukum selain Alloh baik berupa undang-undang positif atau hakim yang menjalankan hukum selain hukum yang telah diturunkan Alloh, sama saja apakah ia seorang penguasa atau hakim atau yang lainnya. Di antara fatwa fatwa ulama’ jaman ini adalah yang terdapat dalam fatwa al-lajnah ad-da’imah lil buhuts al-‘ilmiyah wal ifta’ di Saudi, sebagai jawaban orang yang menanyakan makna thoghut yang terdapat dalam firman Alloh:
     
Mereka hendak berhukum kepada thaghut, (QS. 4:60)

Maka dijawab:

“Yang dimaksud dengan thoghut pada ayat tersebut adalah segala sesuatu yang memalingkan manusia dari al-qur’an dan as-sunnah kepada berhukum kepada dirinya baik itu berupa system atau undang-undang positif atau adat istiadat yang diwariskan dari nenek moyang atau pemimpin-pemimpin suku untuk memutuskan perkara antara mereka dengan hal-hal tersebut atau dengan pendapat pemimpin jama’ah (kelompok) atau dukun. Dari situ jelaslah bahwa system yang dibuat untuk berhukum kepadanya yang bertantangan dengan syari’at Alloh masuk ke dalam pengertian thoghut.” (Fatwa no.8008) Dan dalam menjawab pertanyaan; Kapan seseorang itu disebut sebagai thoghut, maka dijawab: “Apabila dia menyeru kepada kesyirikan atau mengajak untuk beribadah kepada dirinya atau mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib atau memutuskan perkara dengan selain hukum Alloh dengan sengaja atau yang lainnya.” Diambil dari fatwa no. 5966. yang berfatwa adalah: Abdulloh bin Qu’ud, Abdulloh bin Ghodyan, Abdur Rozzaaq ‘Afifi dan Abdul Aziz bin Bazz. (Fatawa al-Lajnah Ad-Da’imah I/542-543, yang dikumpulkan oleh Ahmad Abdur Rozzaq Ad-Duwaiys, cet. Darul ‘Ashimah, Riyadl 1411 H.)
B. Thoghut dalam ibadah. Terdapat dalam firmanAlloh:

             
17. dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, (QS. 39:17)

Yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Alloh yang berupa syetan atau manusia baik yang hidup maupun yang mati, atau hewan atau benda mati seperti pohon dan batu, atau bintang, sama saja apakan dengan cara mempersembahkan korban kepadanya atau dengan berdo’a kepadanya atau sholat kepadanya. Atau mengikuti dan mentaatinya dalam masalah yang menyelisihi syari’at Alloh. Dan kalimat “segala yang diibadahi selain Alloh” dibatasi dengan kalimat “dia rela dengan ibadah tersebut” supaya tidak masuk ke dalamnya seperti Isa as., atau nabi-nabi yang lain, malaikat dan orang-orang sholih sedangkan merea tida rela dengan perbuatan tersebut, sehingga mereka tidak disebut thoghut. Ibnu Taimiyah berkata: “Alloh berfirman:

          
40. dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”. (QS. 34:40)

Artinya para malaikat tidak memerintahkan mereka intu melakukannya, akan tetapi sebenarnya mereka diperintahkan oleh jin, supaya mereka menjadi penyembah-penyembah syetan yang menampakkan diri kepada mereka. Sebagaimana berhala-barhala itu ada syetannya, dan sebagaimana turun kepada orang yang beribadah kepada bintang dan mengintainya. Sampai ada yang menjelma kepada mereka dan berbicara kepada mereka. Padahal dia adalah syetan. Oleh karena itu Alloh berfirman:

                        •   •    
60. Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,
61. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.
62. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka Apakah kamu tidak memikirkan (QS. 36:60-62)

                            
50. dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam[884], Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:”Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (QS. 18:50)
(Majmu’ Fatawa IV/135-136)

Diantara bentuk thogut atau pemimpin thogut, yaitu:

1. Setan.

Thoghut ini selalu menyeru beribadah kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dalil-nya adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala,
               
60. Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, (QS: Yaasiin (36: 60)
2. Penguasa zhalim yang mengubah hukum-hukum Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Seperti peletak undang-undang yang tidak sejalan dengan Islam. Dalilnya adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang mengingkari orang-orang musyrik. Mereka membuat peraturan dan undang-undang yang tidak diridhai oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
                   •     
21. Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang Amat pedih. (QS: Asy-Syuuraa (42: 21)

3. Hakim yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Jika ia mempercayai bahwa hukum-hukum yang diturunkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak sesuai lagi, atau dia membolehkan diberlakukannya hukum yang lain. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
          
44. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS: Al-Maa’idah: 44)
4. Orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam hal ini Allah Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
               
65. Katakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (Qs: An-Naml: 65)

5. Seseorang atau sesuatu yang disembah dan diminta pertolongan oleh manusia selain Alloh
Subhanahu wa Ta’ala, sedang ia rela dengan yang demikian.
Dalilnya adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala,
          •     
29. dan Barangsiapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain daripada Allah”, Maka orang itu Kami beri Balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (QS: Al-Anbiyaa’(21: 29)

Setiap mukmin wajib mengingkari thaghut sehingga ia menjadi seorang mukmin yang lurus. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
      ••                     
256. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS: Al-Baqarah: 256)

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu :

1. Setiap mukmin wajib mengingkari thaghut sehingga ia menjadi seorang mukmin yang lurus. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
      ••                     
256. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS: Al-Baqarah (2: 256)

2. Beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala sama sekali tidak bermanfa’at, kecuali dengan menjauhi beribadah kepada selain-Nya. Rasululloh ShallAllahu’alaihi wa Sallam menegaskan hal ini dalam sabdanya, yang artinya:
عَنْ أَبِي مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ

“Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallah’, dan mengingkari apa yang disembah selain Alloh, maka haram atas harta dan darahnya”. (HR: Muslim)

3. Adapun Syeikh Muhammad bin Hamid Al-Faqiy mengatakan tentang definisi Thoghut: “Yang dapat disimpulkan dari perkataan ulama’ salaf, bahwasanya thoghut itu adalah segala sesuatu yang menyelewengkan dan menghalangi seorang hamba untuk beribadah kepada Alloh, dan memurnikan agama dan ketaatan hanya kepada Alloh dan rosulNya saja. Sama saja apakah thoghut itu berupa jin atau berupa manusia atau pohon atau batu atau yang lainnya. Dan tidak diragukan lagi masuk dalam pengertian ini; memutuskan hukum dengan undang-undang di luar Islam dan syari’atnya, dan undang-undang yang lainnya yang dibuat oleh manusia untuk menghukumi pada permasalah darah, seks dan harta, untuk menyingkirkan syari’at Alloh seperti melaksanakan hukum hudud, pangharaman riba, zina, khomer dan lainnya yang dihalalkan dan dijaga oleh undang-undang tersebut. Dan undang-undang itu sendiri adalah thoghut, dan orang-orang yang membuat dan menyerukannya adalah thoghut. Dan hal-hal yang serupa dengan itu seperti buku-buku yang dibuat berdasarkan akal manusia untuk memalingkan dari kebenaran yang dibawa oleh rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja, semuanya itu adalah thoghut.” (Catatan kaki hal. 287 dalam kitab Fathul Majid, karangan Abdur Rohman bin Hasan Alu Asy-Syaikh, cet. Darul Fikri 1399 H.)

Saya ringkaskan dari uraian di atas : “Sesungguhnya pendapat yang paling mencakup pengertian thoghut adalah pendapat yang mengatakan bahwa thoghut itu adalah segala apa yang diibadahi selain Alloh – dan ini adalah perkataan Imam Malik – dan pendapat yang mengatakan; sesungguhnya thoghut itu adalah syetan – dan ini adalah perkataan mayoritas sahabat dan tabi’in – adapun selain dua pendapat ini merupakan cabang dari keduanya. Dan dua perkataan ini kembali kepada dua kepada satu pokok yang mempunyai hakekat dan mempunyai wujud. Barangsiapa yang melihat kepada wujudnya maka dia mengatakan bahwa thoghut itu adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Alloh, dan barang siapa yang melihat kepada hakekatnya maka dia mengatakan thoghut itu syetan. Hal itu karena syetan itulah yang mengajak untuk beribadah kepada selain Alloh, selain dia juga mengajak untuk melakukan setiap kejahatan. Alloh berfirman:

         
83. tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma’siat dengan sungguh-sungguh?, (QS. Maryam ( 19:83)

 

 

April 22, 2014 at 3:26 am Tinggalkan komentar

Pembsgian Tauhid

PEMBAGIAN TAUHID

1. kata Robb ( Tauhid Rububiyah )
kata ” Roob ” berasal dari bahasa arab, yaitu : ( ربّ – يربّ – ربّا ) terjemahan dalam kamus Mahmud Yunus yaitu : mengasuh / memelihara.

1. QS. 1 / 2 ” Pemelihara ”. QS. 17 / 102. QS. 11 Huud 57. # Qs 3 / 124-125 ” Mengirimkan 3 rb – 5 rb Malaikat ” # QS.13 Ar ro’d 2 Mengendalikan alam. Mengirimkan hujan 13/17.
2. QS 2 / 21, 30, ” Pencipta ”. # QS. 7 / 54, 172. QS.14 / 10. QS. 30 / 30. QS.31 / 11. QS. 39 / 62.QS. 41 / 37.
3. QS 2 / 37 ” Pendidik ”, # QS 10 / 9 ”Memberi petunjuk ” # QS 10 / 57 ” Obat ”
4. QS 2 / 49, 124, “ Menguji ”,
5. QS 2 / 61, 68-70 , 126, 127, 128, 198, “ Tempat Memohon ” , QS. 11 / 3.
6. QS 2 / 62, 112, 262, 274, 277, # QS 3 / 15, “ Memberi balasan / surga ”, QS.10 / 33.
7. QS 2 / 129, ”Mengutus Rosul ”
8. QS 2 / 136, 285, ” Memberikan Wahyu ”.QS. 10 / 37.
9. QS 2 / 144, 147, 149, ” Sumber Kebenaran ”. QS. 10 / 32, 94, 108. QS.18 AL Kahfi 29.
10. QS 2 / 178, ”Memberi Keringanan ” # QS 3 / 133 ” Memberi ampunan ”
11. QS 3 / 9, ” Mengumpulkan manusia di hari kiamat ”# QS.10 / 20 ”mengetahui alam ghaib”
12. QS 3 / 169 ” Memberi rizki ” # QS.3 / 27. QS 5 / 114 . QS. 11 / 6. QS.67 / 21. QS. 17 Al Isroo 30.
13. QS 7 / 29, 77, ” Menyuruh ”
14. QS 8 / 54, ” Membinasakan ”
15. QS 9 / 129, ” Memiliki ’Arsy ”
16. QS 10 / 3, ” Memberi syafaat ”
17. QS 10 / 61 ”Mengawasi ”.QS. 89 / 14. QS. 10 / 40.
18. QS. 10 / 19 ” Memiliki ketetapan ”. QS.10 / 53, 93. QS. 11 /45. QS. 16 An Nahl 124.

BARU SAMPAI QS . 18 / 42
إن الله ربي وربكم فاعبدوه هذا صراط مستقيم
Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. QS. 3 Ali Imron 51.
قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين
Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, QS. 6 Al An’am 162.
دعواهم فيها سبحانك اللهم وتحيتهم فيها سلام وآخر دعواهم أن الحمد لله رب العالمين
Doa mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulillaahi Rabbil `aalamin.” QS. 10 Yunus 10.
فقالوا على الله توكلنا ربنا لا تجعلنا فتنة للقوم الظالمين
Lalu mereka berkata: “Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang dzalim, QS. 10 yunus 85.
وقال موسى ربنا إنك آتيت فرعون وملأه زينة وأموالا في الحياة الدنيا ربنا ليضلوا عن سبيلك ربنا اطمس على أموالهم واشدد على قلوبهم فلا يؤمنوا حتى يروا العذاب الأليم
Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” QS. 10 Yunus 88.

Definisi Tauhid Rububiyyah : berdasarkan pada ayat-ayat diatas maka Allah adalah Pencipta, Pemilik, Pengurus, Pembimbing(yang memberikan perintah dan larangan dengan menurunkan Al Kitab, dan mengutus nabi serta rosul-Nya), Pemberi rizki dan balasan atas amal baik dan buruk yang dilakukan hamba-Nya.
Jadi Tauhid Rububiyyah adalah proses pengesaan yang dilakukan hamba bahwa Allah Yang Maha Tunggal dalam menciptakan, memiliki, membimbing, dan memberikan rizki dan balasan di Dunia dan Akhirat.

2. Kata Ilah ( Tauhid Ilahiyah )
QS. 7/158. QS. 11 Huud / 84. QS. 27 An Naml / 26. QS. 37 Ash Shoffat / 35. QS. 40 Al Mulk / 3, 62, 65. QS. 59 Al Hasyr 22, 23. QS. 73 Al Muzzammil 9 ” Pelindung ”.

Tauhid Ilahiyah adalah proses penghambaan / pengabdian hamba atas tuannya sebagai wujud syukur, baik secara i’tiqodi(amalan hati), Ikrori(amalan lisan), dan Arkani(Amalan tubuh).

3. kata Mulk ( Tauhid Mulkiyah )
1. Merajai hari pembalasan QS. 1 / 4, QS. 22/56. 25/26.
2. Merajai langit dan bumi QS. 2 / 107, 3 / 189, 5 / 17, 18, 40, 120, 7/158. 9/116. 24/42. 25/2. QS. 39 Az Zumar 44. QS. 42 Asy Syuura 49. QS. 43 Az Zukhruf 85. QS. 45 Al Jatsiyah 27. QS. 48 Al Fath 14. QS. 57 Al Hadiid 2, 5. QS. 85. Al Buruuj 9.
3. Menguasai pada hari kiamat QS. 6 Al An’am 73.
4. Raja yang sebenarnya QS. 20 thoohaa 114. QS. 23 / 116. # QS.35 Fathir 13. QS.39 Az Zumar 6.
5. Raja untuk Manusia QS. 114 An Naas 2.

QS.4 Ali Imron 26.

4. Kata Asma / Sifat ( Tauhid Asma / Sifat ) ketauhidan terhadap ( 99Asmaul Husna ) dan ketauhidan terhadap adanya ( 20 sifat wajib, dan 20 sifat mustahil bagi Allah ).

ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون في أسمآئه سيجزون ما كانوا يعملون
Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. QS. 7 Al A’rof 180.
قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن أيا ما تدعوا فله الأسماء الحسنى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” QS. 17 Al Israa’ 110.
هو الله الخالق البارئ المصور له الأسماء الحسنى يسبح له ما في السماوات والأرض وهو العزيز الحكيم
Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. 59 Al Hasyr 24.
الله لا إله إلا هو له الأسماء الحسنى
Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaulhusna (nama-nama yang baik). QS. 20 Thaahaa 8.

5. …
6. …

April 22, 2014 at 3:22 am Tinggalkan komentar

Pembagian Harta Warist

MEMBAGI HARTA PUSAKA
MENURUT Al-QURAN
& Sunnah Rosulullah

 

 

DISUSUN
O
L
E
H
Nana Suryana

 
Diajukan :

Dalam rangka memenuhi anamat untuk disampaikan pada acara I’tikaf
Ramadhan 1429 H. / September ‏ 2008 M.

 

 

MASJID Al-IMAN
PONDOK PESANTREN SHUFFAH HIZBULLAH
& MADRASAH AL-FATAH
KOTA SUKABUMI

 
Jln. Merdeka, Kp. Baru, Cikundul, Lembursitu, Sukabumi
Tlp: (0266) 252 88 55 / 240062

 

 

 

 

 

 
Permohonan

Dengan berlindung diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atas segala godaan syetan la’natullah
Dengan niat senantiasa bersama-sama Allah, untuk menegakkan syari’at Allah, dan mengharapkan Ridho Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Atas dasar motivasi mempertahankan syari’at Islam(Ilmu Warits), berawal dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Umaro. Namun, keputusan musyawarah untuk menyampaikan materi ini jatuh kepada pribadi yang dho’if. Pertanyaan itu harus dijawab sendiri. Selain itu, saya harus berani dan harus mampu menjawab pertanyaan dari orang-orang yang hadir dalam acara “I’tikaf”.

Segala Puji Bagi Allah
Segala Ilmu Milik Allah
Terimakasih kepada Ibu, Bapak yang telah membimbing kami hingga dewasa
Terimakasih kepada Istri yang selalu memberikan dukungan dalam jihad di jalan Allah
Usaha telah ditempuh, Kesalahan adalah kebodohan pribadi
Tiada kata yang patut tersampaikan selain “Astaghfirullahi Liy wa Lakum”
Saya mohon koreksi atas segala kesalahan agar tidak terbawa kehadapan Allah
Kesalahan adalah virus terganas yang dapat menular dan menjalar melalui ghibah dari muluk kemulut dan lebih cepat daripada virus HIV/AIDS
Cegah virus kesalahan dengan saling memberikan nasehat untuk senantiasa berada dalam kebenaran dan sabar dalam menjalankan kehidupan ini.
Ingat perintah Allah, Perintah Rosulullah, dan Ulil Amri (QS. An-Nisa ayat 59).

Cetakan ke – I ( Oktober 2005 / Romadhon 1426)

Cetakan ke – II
Sukabumi, September 2008 .
Romadhon 1429

Al-Faqir,

 

Nana Suryana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
FAROIDH

 Definisi

Ilmu faroidh atau ilmu warits, hakekatnya adalah ilmu yang mengatur tentang pengaturan atau pembagian harta yang ditinggal mati oleh pemiliknya, yang akan dibagikan kepada haknya, setelah dipenuhi biaya pengurusan jenajah, dikeluarkan zakatnya, dibayarkan hutangnya dan dipenuhi wasiatnya berdasarkan Al Quran dan sunnah. Jika harta gono-gini hendaknya dibagi terlebih dahulu antara suami dan istrinya, istri dapat 1/3 jika tidak mengeluarkan modal, tenaga, atau tidak ada kesepakatan sebelumnya. Jika ada tanda kesepakatan maka itu yang dipakai dalam pembagian harta gono-gini tersebut .

Rukun / Syarat pembagian harta peninggalan diantaranya :
 Al Muwarrits : orang yang mati / yang meninggalkan harta.
 Al Warits : orang yang akan menerima harta peninggalan.
 Haqqun Mauruts : harta yang ditinggalkan dan akan dibagikan kepada yang berhak.

 Kedudukan ilmu waris

تـعـلّموا الفرائض وعـلّموهـا الناس فإنّه نصف العلم وهـو ينسى وهـو اوّل شيء ينزع من امّي * رواه ابن ماجه والدارقطني *

“Dari Abu Hurairoh ra berkata: Rosulullah bersabda : Pelajarilah olehmu sekalian ilmu faro’idl dan ajarkanlah kepada manusia, karena sesungguhnya ia merupakan setengah ilmu, ia dilupakan dan ia merupakan sesuatu yang pertama kali di cabut dari ummatku”. HR. Ibnu Majah dan Daruqutni.

Dalam al-Quran terdapat baberapa ayat yang menjelaskan hal hukum/syariat dengan penjelasan yang global dan penjelasannya secara rinci terdapat dalam sunnah Rosulullah, namuan dalam pembagian waris ini Allah menjelaskannya dengan jelas dalam Al-Quran, namun demikian ada beberapa penjelasan dari Rosul dan para shahabat.

 Dasar pelaksanaan Warits

 Al Quran ( QS. An Nisa ayat 7, 11, 12, 176, Al Anfal ayat 1)

للرجال نصيب مما ترك الوالدان والأقربون وللنساء نصيب مما ترك الوالدان والأقربون مما قل منه أو كثر نصيبا مفروضا
Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. ( QS. An Nisa ayat 7)

يوصيكم الله في أولادكم للذكر مثل حظ الأنثيين فإن كن نساء فوق اثنتين فلهن ثلثا ما ترك وإن كانت واحدة فلها النصف ولأبويه لكل واحد منهما السدس مما ترك إن كان له ولد فإن لم يكن له ولد وورثه أبواه فلأمه الثلث فإن كان له إخوة فلأمه السدس من بعد وصية يوصي بها أو دين آبآؤكم وأبناؤكم لا تدرون أيهم أقرب لكم نفعا فريضة من الله إن الله كان عليما حكيما
Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga(2/3) dari harta yang ditinggalkan, jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo(1/2) harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam(1/6) dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak, jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya(saja), maka ibunya mendapat sepertiga(1/3), jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam(1/6). (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An Nisa ayat 11)

ولكم نصف ما ترك أزواجكم إن لم يكن لهن ولد فإن كان لهن ولد فلكم الربع مما تركن من بعد وصية يوصين بها أو دين ولهن الربع مما تركتم إن لم يكن لكم ولد فإن كان لكم ولد فلهن الثمن مما تركتم من بعد وصية توصون بها أو دين وإن كان رجل يورث كلالة أو امرأة وله أخ أو أخت فلكل واحد منهما السدس فإن كانوا أكثر من ذلك فهم شركاء في الثلث من بعد وصية يوصى بها أو دين غير مضآر وصية من الله والله عليم حليم

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat(1/4) dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan(1/8) dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam(1/6) harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga(1/3) itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. ( QS. An Nisa ayat 12).

يستفتونك قل الله يفتيكم في الكلالة إن امرؤ هلك ليس له ولد وله أخت فلها نصف ما ترك وهو يرثها إن لم يكن لها ولد فإن كانتا اثنتين فلهما الثلثان مما ترك وإن كانوا إخوة رجالا ونساء فللذكر مثل حظ الأنثيين يبين الله لكم أن تضلوا والله بكل شيء عليم

Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua(1/2) dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak, tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga(2/3) dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.( QS. An Nisa ayat 176).
 Sabda Rosulullah

تعلّموا الفرائض وعلّموها الّناس فإنّيى امرؤ مقـبوض وانّ العلم سيقـبض وتظـهـر الفـتن حتّى يختلف اثنان فى الفريضة فلا يجدان من يقضى بينهما * رواه الحاكم *

“ Pelajarilah ilmu faro’idl dan ajarkanlah pada manusia, karena saya adalah orang yang akan direnggut (mati), ilmu itu akan diangkat (dihilangkan), dan menyebarlah fitnah, sehingga terjadi perswelisihan antara dua orang tentang pembagian waris dan kedua nya tidak mendapatkan orang yang bisa memutuskan”. HR. Hakim.

 Ijma dan Ijtihad

Ijma’ dan Ijtihad dari para sahabat adalah suatu yang penting ketika kita menemukan masalah yang belum secara rinci dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadis Rosulullah, seperti halnya masalah kakek bersama saudara, menurut Zaid bin Tsabit mereka sama-sama mendapat atas dasar muqosamah atau akdariyah (bersamanya kakek dengan saudara pr kandung). Demikian juga dalam masalah bersamanya antara sudara-saudra (musyarokah), dan jika hanya diwrisi ibu bapaknya saja ( gorowaen ), dan adanya sistem pembagian aul dan ra’d.

Dinatara sahabat yang memiliki kelebihan ilmu bidang waris adalah Abu Bakar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit.

افـرضكم زيد * رواه الترمذى والنسائى *
“ Zaid adalah yang paling ahli dalam ilmu faro’idl diantarta kalian “ HR. Turmudzi dan Nasai

 Hal-hal yang harus dilakukan sebelum pembagian harta warits

 Biaya pengurusan mayit

Menyediakan biaya untuk pembiayaan pengurusan jenajah, seperti : seperangkat pakaian mayat (kain kafan, kapas, sabun mandi/kapur barus dan wangi-wangian). Dan jika diperlukan biaya penggalian tanah kuburan dan biaya transportasi, namun demikian haruslah dengan sederhana tidak kurang dan tidak berlebihan. karena sudah merupakan satu kewajiban sebagai seorang muslim terhadap muslim lainnya yang telah dipanggil Allah.

 Dipenuhi hutangnya

عن ابى هريرة قال رسوالله صلىالله عليه وسلم نفس المؤمن معلّـقة بدينه حتّى يقضى عنه . رواه احمد والترميذى

“ Dari Abu Huairoh, Rosulullah bersabda : Diri orang mu’min itu tergantung karena hutangnya, hingga dibayar hutangnya itu ” HR. Ahmad dan Tirmidzi

Jika orang yang mati meninggalkan / mewaritskan hutang dan tidak ada harta yang ditinggalkan (miskin harta) maka ahli waritsnya-lah yang berkewjiban membayarnya.

 Dipenuhi zakatnya

Jika harta yang ditinggalkan telah mencukupi(nishob zakat) maka harus dikeluarkan zakatnya, juga jika ia meninggalkan nadzar wajiblah ditunaikan nadzarnya itu, karena zakat dan nadzar meupakan pelaksanaan dari hak Allah(kewajiban hamba).

 Dipenuhi wasiatnya

Wasiat merupakan kewajiban yang utama sebelum pembagian harta warits QS. An Nisa ayat 11. namun wasiat tidak boleh lebih dari sepertiganya. Dan wasiat(pemberian harta) tidak boleh ditujukan kepada ahli warits .

عن ابن عباس قال : لو انّ الناس غضوا من الثلث الى الربع فانّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : الثلث والثلث كثير . رواه البخارى ومسلم
Dari Ibnu ‘Abbas, berkata : Alangkah baiknya jika manusia mengurangi wasiat dari sepertiga menjadi seperempat. Maka sesungguhnya Rosulullah bersabda Wasiat itu sepertiga dan sepertiga itu sudah banyak. HR. Bukhori dan Muslim.

عن ابى امامة قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : انّ الله قد اعطى كلّ ذي خقّ حقّه فلا وصية لوارث . رواه الخمسة الا النسائ .
Diriwayatkan dari Umamah, berkata saya mendengar Nabi bersabda : Sessungguhnya Allah telah menentukan hak tiap-tiap orang yang mempunyai hak(ahli warits) maka tidak dibenarkan lagi berwasiat kepada ahli warits. HR. Imam yang lima kecuali Nasaiy.

 Jika harta gono-gini / raja-kaya / seguna-sekaya.
Harta gono-gini adalah harta yang di hasilkan oleh bersama antara suami dan istri. Maka harta tersebut diberikan kepada ahli waris setelah penbagian antara suami dan isteri (istri dapat 1/3 (sepertiga) atau sesuai dengan perjanjian, jika ada keterangan perjanjiannya). Lalu 2/3 (dua pertiga) lagi dibagi, dan dalam 2/3 ini istri dapat lagi, sebagai istri menurut syari’at (yaitu : 1/4 atau 1/8 ) .

 Perhatikan orang miskin ( atau yang hadir ketika pembagian)
وإذا حضر القسمة أولوا القربى واليتامى والمساكين فارزقوهم منه وقولوا لهم قولا معروفا
Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. ( QS. An Nisa ayat 8 )
Ket : yang dimaksud dengan Kerabat / orang yatim / orang miskin yang hadir dalam pembagian harta adalah orang yang tidak berhak mendapatkan harta warits.

 Tidak ada penundaan( walaupun orang yang barhak mendapatkannya masih kecil/bayi)
ولا تؤتوا السفهاء أموالكم التي جعل الله لكم قياما وارزقوهم فيها واكسوهم وقولوا لهم قولا معروفا
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. ( QS. An Nisa ayat 5 ).
وابتلوا اليتامى حتى إذا بلغوا النكاح فإن آنستم منهم رشدا فادفعوا إليهم أموالهم ولا تأكلوها إسرافا وبدارا أن يكبروا ومن كان غنيا فليستعفف ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف فإذا دفعتم إليهم أموالهم فأشهدوا عليهم وكفى بالله حسيبا
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang memelihara harta tersebut miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut(wajar). Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). ( QS. An Nisa ayat 6)

Sebagain orang berpendapat “ Pembagian harta peninggalan ditangguhkan, jika ahli warits masih kecil ” dengan alasan QS. An Nisa ayat 5). Itu adalah benar jika pendapatnya tersebut diproses sesuai dengan QS. An Nisa ayat 6.

Dengan jelasnya Allah memberikan rincian dalam pembagian harta peninggalan. Pembagian harta peninggalan tetap dilakukan, jika ada orang(ahli warits) yang belum baligh, maka bagian orang tersebut diurus(dikelola) oleh orang yang sudah dewasa, baik oleh orang tuanya, keluarganya dengan sebuah catatan harus memakai surat kuasa yang di ketahui oleh ahli warits lainnya(sebagai saksi). Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Baqoroh ayat 282.

Jika ada perselisihan pendapat maka segeralah kembalikan kepada Allah(Al Quran) dan kepada Rosulullah(Sunnah), dengan jalan melalui Ulil Amri / Imaam / Kholifah. (QS. An Nisa ayat 59).

 Bahaya menunda pembagian harta warits
Jika harta tersebut di kelola oleh istri. Adanya hak orang lain yang terhalangi (selain anak / orang tua dari suami / kakeknya / kerabatnya). Kemudian jika harta tersebut bertambah maka akan merumitkan dalam pembagian berikutnya jika istri tersebut pun mati. Karena di sana adanya hak istri dari harta gonogini, hak anak dari bapaknya, hak orang tua(ibu & bapak atau kakek & nenek atau saudaranya) dari suami. Kemudian sang istri mati bertambah masalah, dengan adanya hak anak dari ibunya, hak orang tua(ibu & bapak atau kakek & nenek atau saudaranya) dari istri

Jika harta tersebut dikelola oleh suami, kemudian nikah lagi atau harta tersebut habis karena tidak adanya yang mengendalikan harta tersebut(karena perbuatan istri barunya), sementara anaknya masih kecil. Dia akan terancam dengan QS. Al Maa’uun. Apa lagi jika suami tersebut mati. Dan masih banyak permasalah yang akan timbul jika melanggar aturan hukum Allah.

Ancaman Allah diantaranya :
• Digolongkan pada orang yang dzolim. QS. Al Baqoroh ayat 229.
• Digolongkan pada orang yang beraniaya pada diri sendiri. QS. 65 / Ath Tholak ayat 1.
• Dimasukkan ke dalam Neraka (karena melanggar hukum Allah”Warits”). QS. An Nisa ayat 14

 Yang termasuk ahli warits

 Sebab hubungan darah (nasab keluarga)
Dalam hubungan kelurga ada tiga kelompok yang berhak mendapat waris, diantaranya :

 Dzawil furudh ذوى الفروض
yaitu ahli waris yang sudah mendapat ketentuan dalam pembagiannya ( seperdua, seprempat, sepertiga, duapertiga, seperenam, dan seperdelapan). Diantaranya (konsep dasar) adalah :

1. SUAMI
 Suami dapat 1/2 (setengah) jika tidak ada Anak / Cucu QS. 4/12
 Suami dapat 1/4 (seperempat) jika ada Anak / Cucu QS. 4/12

2. ISTRI
 Istri dapat 1/4 (sperempat) jika tidak ada Anak / Cucu QS. 4/12
 Istri dapat 1/8 (seperdelapan) jika ada Anak / Cucu QS. 4/12

3. ANAK (A ) dan Cucu
 Anak Lk dapat 2 bagian Anak Pr , dari asobah QS. 4/11
 Anak Pr 2 orang / lebih dapat 2/3 jika tidak ada Anak Lk QS. 4/11
 Anak Pr tunggal dapat 1/2 jika tidak ada Anak Lk QS. 4/11
 Anak Pr tunggal dapat 1/2, jika bersamanya Cucu Pr maka Cucu dapat 1/6 sebagai pelengkap dari 2/3 (bagian 2 perempuan atau lebih)

قال عبد الله بن مسعـود : قضى رسـول الله ص . للبـنت النّـصف ولبنت الا بن السّـدس تكملة الثّلثين وما بقي فللا خت .رواه الجماعة الا مسلما والترمدى .
Berkata Abdullah bin Mas’ud, Rosulullah pernah menghukumkan untuk seorang anak Pr 1/2 (separoh) dan untuk cucu pr 1/6 (seperenam) untuk mencukupkan 2/3 dan selebihnya untuk saudara-saudara . (HR. Jama’ah kecuali Muslim dan tirmidzi)
( F : 23 ).

 Kalau anak perempuan itu dua orang atau lebih maka cucu pr tidak dapat bagian,
 Jika tidak ada anak, maka cucu menggantikan posisi sebagai anak.

4. IBU
 Ibu dapat 1/6 jika ada anak atau cucu QS. 4/11
 Ibu dapat 1/6 jika bersama saudara2 kandung/se-bapak(2 orang / lebih) QS. 4/11
 Ibu dapat 1/3 dari asobah(setelah diberikan hak suami/istri) jika hanya diwarisi oleh ibu dan bapaknya (gorowaen) QS. 4/11.
 atau dalam posisi akdariyah (ahli warits hanya : suami, ibu, kakek, dan seorang saudara pr kandung / se-bapak). Jika saudarnya lebih dari seorang, maka ibu kembali mendapat kan 1/6.

5. BAPAK (A )
 Bapak dapat 1/6 jika ada anak / cucu QS. 4/11
 Bapak dapat 2/3 dari asobah(setelah diberikan hak suami/istri) jika hanya diwarisi ibu dan bapaknya saja(gorowaen) QS. 4/11
 Bapak mendapatkan seluruh harta(asobah) jika tidak ada anak laki-laki/cucu laki-laki dari anak laki-laki

6. NENEK
 Nenek seorang atau lebih dapat 1/6 kalau tidak ada ibu

عن بريدة : انّ النبيّ ص . جعل للجدّة السّدس اذا لم يكن دونها امّ . ابو داود

Memberikan kepada nenek 1/6 jika tidak ada ibu. HR. Abu Daud. ( F : 46 ) .

قال عبادة بن صامت إنّ النّبي قضى للجدّ تين من الميراث بالسدس بينهما .
عبد الله بن احمد بن حنبل .
“ …Ubadah bin Shomit berkata : Bahwasanya Nabi telah hukumkan buat dua nenek 1/6 “. HR. Abdullah bin Ahmad bin Hambal ( F : 43 ).

قال عبد الرحمن بن يزيد : اعطى رسول الله ص . ثلاث جدّات السّدس ثنتين من قبل لاب وواحدة من لامّ . ( الدارقطنى ) .
“ … ‘Abdurrohman bin Yazid berkata : Rosulullah telah memberikan 1/6 (seperenam) kepada tiga orang nenek, 2 orang dari pihak bapak dan seorang dari pihak ibu ” (F : 51).
7. KAKEK(A)

 Kakek bisa mendapat asobah (jika masih ada sisa)
 Kakek dapat waris jika tidak ada bapak
 Kakek dapat 1/6 jika ada anak laki-laki / cucu laki-laki dari anak laki-laki

قال معقل بن يسار المزانّى : قضى رسول الله ص . فى الجدّ السّـدس . رواه احمد وابوداود .
“ .. telah berkata Ma’qil bin Jassar al-Muzani : Rosulullah hukumkan datuk dapat 1/6 (seperenam) “ ( F : 41 ) .
- Jika saudara-saudara(lk) itu lebih dari dua orang, maka kakek mendapatkan 1/3(F:54).

 Kakek dapat 1/3 jika bersama saudara kandung / saudara sebapak

قال الحسن : كان زيد بن ثابت يشرّك الجدّ مع لا خوة الى الثّلث . ( الدارمى )

Telah berkata Al-Hasan : Adalah Zaid bin Tsabit mencampurkan kakek dengan saudara-saudara laki-laki hingga ia dapat tidak kurang dari 1/3 HR. Ad-Darimi. ( F : 53 ) .
Menurut hadits riwayat imam Malik (F : 32) kalau saudara lk itu seorang maka kakek dapat 1/2.

 Kakek dapat berbagi hasil (muqosamah) dengan saudara-saudara dalam pembagian sisa harta
 Kakek dapat 2/3 jika hanya diwarisi oleh kakek dan seorang saudara perempuan(1/3). (Akdariyah) . Menurut keterangan bahwa laki-laki dapat dua bagian daripada perempuan. QS. 4/11 atau 4/ 176, 177, dan dianggap sebagai saudara laki-laki.
 Kebersamaan antara kakek dengan saudara kandung / saudara sebapak, dan bersama ahli waris lainnya. Adakalanya kakek dapat 1/6 , 1/2 , 1/3, 2/3 dari sisa harta, tergantung situasi, yang pasti harus mendapatkan yang lebih menguntungkan dari pada saudara-saudara tersebut.

8. SAUDARA KANDUNG(A)

 Saudara sekandung Lk / Pr dapat harta waris jika tidak ada : Bapak, Anak Lk, Cucu Lk ( asobah )
 Saudara perempuan tunggal dapat 1/2 jika tidak ada anak / cucu. Jika ada saudara sebapak maka saudara sebapak dapat sisanya (A) QS. 4/176,177, jika seudara sebapak itu perempuan tunggal maka ia mendapatkan 1/6, sebagai pelengkap dari 2/3.

قال عبد الله بن مسعـود : قضى رسـول الله ص . للبـنت النّـصف ولبنت الا بن السّـدس تكملة الثّلثين وما بقي فللا خت .رواه الجماعة الا مسلماوالترمدى .
Berkata Abdullah bin Mas’ud, Rosulullah pernah menghukumkan untuk seorang anak Pr 1/2 (separoh) dan untuk cucu pr 1/6 (seperenam) untuk mencukupkan 2/3 dan selebihnya untuk saudara-saudara . (HR.Jama’ah kecuali Muslim dan tirmidzi) ( F : 23 ) dan QS. 4/11

 Jika hanya diwarisi oleh seorang anak pr / seorang cucu pr dan saudara, maka seorang anak pr / seorang cucu pr dapat 1/2 dan sisanya untuk saudara(ashobah Ma’al ghoir).

انّ معاذ بن جبل ورّث اختا وابنة جعل لكلّ واحدة منهما النّصف وهـو باليمن ونبيّ الله ص . يومئـذ حيّ . رواه ابو داود والبخارئ بمعناه
“ … Sungguh Muadz bin Jabal telah membagikan harta pusaka pada seorang saudara pr dan seorang anak pr, masing-masing separoh (1/2 ) padahal ia di Yaman dan Rosulullah masih hidup ” ( F : 29 )

 Seorang saudara pr sekandung 1/2 bersama Kakek, maka menjadi 1/3 dan kakek 2/3 ( Akdariyah )
 Saudara perempuan sekandung lebih dari dua orang dapat 2/3 jika tidak ada anak / cucu (tidak jadi ashobah Ma’al ghoir dan tidak ada ashlun far’un) QS. 4/176.
 Jika saudara seibu bersama saudara kandung maka ia berserikat dalam 1/3 QS. 4/12

9. SAUDARA SEIBU

 Dapat waris jika tidak ada Anak, Cucu, Bapak / Kakek (Kalalah : Hanya diwarisi oleh saudaranya saja)
 Seorang laki-laki / perempuan dapat 1/6. QS. 4/12
 Jika dua orang atau lebih Lk/Pr dapat 1/3 ( bersekutu ) QS. 4/12

10. SAUDARA SEBAPAK ( A )

 Saudara sebapak (lk) dapat waris jika tidak ada : Saudara Lk Kandung, Bapak, Anak Lk, Cucu Lk, dan Saudara Pr kdg yang bersama dengan Anak Pr atau Cucu Pr (ashobah ma’al ghoir).
 Saudara sebapak (pr) dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Sdr Lk Kdg, dan dua Sdr Pr Kdg.
 Saudara sebapak (lk) dapat sisa ( A ) jika tidak ada anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Saudara kandung Lk. QS. 4/176 dan hadits :
الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

 Saudara sebapak akan mendapat jika tidak ada saudara kandung.

قال على : قضى رسول الله ص . الرّجل يرث اخاه لابيه وامّه دون اخيه لابنه .
رواه التر ميذى.
“ … Menghukumkan Rosulullah, bahwa seorang sewarisi saudaranya kandung, tidak saudara sebapak ” ( F : 49 )

 Seorang Saudara Pr dapat 1/2 (separoh) jika tidak ada yang menjadi asobah QS. 4/176
 Dua orang saudara sebapak (pr) dapat 2/3 jika tidak ada yang menjadi asobah QS. 4/176
 Jika seorang Sdr Pr Sbk bersama dengan Sdr Pr Kdg, maka seorang Sdr Pr Kdg dapat 1/2 dan Sdr Pr Sbpk dapat 1/6 ( sama dengan dua orang Pr = 2/3 ) QS. 4/11

11. ANAK LK DARI SAUDARA KANDUNG / keponakan

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr.
الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

12. ANAK LK DARI SAUDARA SEBAPAK / keponakan

 Anak Lk dr Sdr sebapak dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

13. PAMAN SEKANDUNG

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

14. PAMAN SEBAPAK

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

15. ANAK LK PAMAN SEKANDUNG

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg, Paman se-Bpk.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

16. ANAK LK PAMAN SEBAPAK

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg, Paman se-Bpk, Anak Paman Se-Kdg.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم
 Serahkanlah bagian-baigan itu kepada ahlinya yang berhak, maka lebihnya itu adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

17. YANG MEMERDEKAKAN / YANG DIMERDEKAKAN
Yang memerdekakan / yang dimerdekakan dapat warits jika tidak ada : Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr.Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg, Paman se-Bpk, Anak Paman Se-Kdg, Anak paman sebapak.
الولاء لحمة كاحمة النسب لا يباع ولايوهب . رواه ابن خزيمة وابن حبان والحاكم .
Hubungan orang yang memerdekakan budak dengan budak yang dimerdekakan seperti hubungan nasab, tidak dijual dan tidak dibeli. HR. Ibnu Hujaimah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim.

Jika semua dzawil Furudh, dzawil arham(kerabat), serta orang yang memerdekakana atau yang dimerdekakan tidak ada, maka yang berhak atas harta warits adalah dzawil arham berdasarkan aqidah(QS. Ali Imron 103), menurut faham penulis adalah orang yang telah menda’wahinya sehingga ia keluar dari Jahiliyah, dan kembali kepada fithrohnya manusia dalam Islam, dalam satu Jama’ah, satu Imamah, dengan satu ikatan Bai’at kepada Allah melalui Ulil Amri(Imaam/Kholifah). Seperti Allah telah mempersaudarakan antara orang Qurais(kaum Muhajirin) dengan orang Madihan(kaum Anshor).
Diperkuat dengan firman Allah di dalam QS. An-Nisa ayat 59. ” …. Jika kalian berselisih terhadap sesuatu urusan, maka hendaklah kalian mengembalikannya kepada Allah(Al-Quran) dan kepada Rosul-Nya(Sunnahnya), Jika kalian berikman kepada Allah dan kepada hari akhirat….. “
” Dari Qobishoh bin Tamiemid-Daariy, saya pernah bertanya kepada Rosulullah “Bagaimana sunnah(pembagian warits) tentang seorang musyrik yang masuk Islam dengan pelantarann orang Islam ?..” Beliau bersabda : Yang menda’wahinya itu lebih hamper(berhak) kepadanya diwaktu hidupnya dan matinya”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majjah) .
Jika ia pun tidak memiliki Imaam/kholifah, maka bagikan harta peninggalannya itu kepada kaum miskin yang ada disekitarnya(tetangga).

 ‘Ashobah العصب
Ahli waris yang tidak mendapatkan bagian tertentu, namun ia mengambil semua harta jika dzawil furudh tidak ada, atau mengambil semua sisa harta jika dzawil furudh telah menerima bagiannya. Dan jika harta dibagi habis maka ashobah tidak mendapatkan bagian.
Asobah terbagi 3 bagian yaitu :

Asobah binafsi(A), ada 14 diantaranya :
1. Anak Lk,
2. Cucu Lk dari anak Lk,
3. Bapak/Ayah,
4. Kakek dari bapak,
5. Saudara lk se-kandung,
6. Saudara Lk se-bapak,
7. Anak Lk dari saudara Lk se-kandung,
8. Anak Lk dari saudara se-bapak,
9. Paman se-kandung,
10. Paman se-bapak,
11. Anak Lk paman se-kandung,
12. Anak Lk paman se-bapak,
13. Laki-laki / perempuan yang memerdekakan / yang menda’wahinya.
14. Laki-laki / Perempuan yang dimerdekakan / yang dida’wahinya.
15. Ulil Amri, Imaam, Kholidah,
16. Masyarakat(tetangga) yang miskin

Asobah bilghoir(AG).
yaitu wanita-wanita yang menjadi asobah karena adanya laki-laki yang menjadi asobah ban bagiannya dua banding satu(QS. An Nisa 11) ada 4 orang diantaranya :
1. Anak Pr dengan adanya anak Lk,
2. Cucu Pr dari anak Lk dengan adanya cucu Lk dari anak Lk,
3. Saudara Pr kandung dengan adanya saudara Lk kandung,
4. Saudara Pr sebapak dengan adanya saudara Lk sebapak.

Asobah ma’al ghoir(AM).
yaitu ahli waris yang bersama-sama sengan ahli waris lain yang bukan asobah, apabila ahli waris yang lain itu tidak ada, maka ia tetap mendapatkan bagian ashabul furudh, mereka itu adalah :
1. Saudara pr kandung seorang atau lebih, jika bersama-sama dengan anak pr atau cucu pr seorang atau lebih
2. Saudara pr kandung seorang atau lebih, jika bersama-sama dengan seorang anak pr dan seorang cucu pr.
3. Saudara pr sebapak seorang atau lebih, jika bersama-sama dengan anak pr atau cucu pr seorang atau lebih
4. Saudara pr sebapak seorang atau lebih, jika bersama-sama dengan seorang anak Pr dan seorang cucu pr
 Dzawil Arham ذوى الارحام
Yaitu orang yang tidak mempunyai bagian tertentu, tapi masih ada hubungan kerabat meskipun jauh, mereka dapat bagian jika kerabat terdekat tidak ada.
 Sebab perkawinan (keluarga : Cucu dari anak pr dll. )
 Sebab memerdekakan budak ( jika yang meninggal adalah budaknya) dan sebaliknya.
الولاء لحمة كاحمة النسب لا يباع ولايوهب . رواه ابن خزيمة وابن حبان والحاكم .
Hubungan orang yang memerdekakan budak dengan budak yang dimerdekakan seperti hubungan nasab, tidak dijual dan tidak dibeli. HR. Ibnu Hujaimah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim

Menurut faham kami : yang menda’wahinya / yang dida’wahinya. Sehingga ia menetapi Islam dan berada dalam satu Jama’ah ( Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah ) dapat digolongkan pada dzawil Arham / kerabat.

 Sebab Agama (Umaro / Imam / Kholifah )

انا وارث من لا وارث له . رواه احمد وابو داود.
Saya menjadi waris orang yang tidak mempunyai ahli waris. HR. Ahmad dan Abu Daud.

Demikian Rosulullah menerima harta warisan bukan untuk kepentingan sendiri, melainkan diserahkannya kepada baitul mal (majlis maliyah) untuk dikelola dan disalurkan kepada fakir, miksin atau yang berhak menerimanya.
 Sebab yang menghalangi untuk mendapat waris

 Pembunuhan
عن عمروبن شعيب عن ابيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس لقتال من الميراث شيئ . رواه النسائ .
Dari ‘Amr bin syu’aib dari ayahnya, dari kakenya berkata, Rosulullah bersabda : Tidak berhak si pembunuh mendapat sesuatu pun dari harta warisan. HR. An Nasaiy .

عن قتل قتيلا فإنه لايرثه وانلم يكن له وارث غيره وان كان له والده فليس لقتال ميراث . رواه احمد .
Barangsiapa membunuh seseorang sungguh ia tidak dapat mewarisi, sekalipun orang yang dibunuh itu tidak mempunyai ahli waris selain dia, dan jika yang dibunuh itu bapaknya atau anaknya maka bagi yang membunuh tidak berhak memerima harta warisan . HR. Ahmad.

 Lain Agama / Murtad

لا يرث المسلم الكافر والكافر المسلم . رواه الجماعة
Orang islam tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang islam. HR. jama’ah.

 Perbudakan

ضرب الله مثلا رجلين عبدا مملوكا لا يقدير على شيئ ق.س. النحل : 75 .
Allah memberikan perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak bertindak terhadap sesuatu pun . QS. An Nahl 75.
Karena dianggap seorang hamba seluruhnya adalah milik tuannya.
 Tidak tentu kematiannya / bersamaan

Jika terjadi kecelakaan yang bersamaan, seperti : Banjir, Kecelakaan kendaraan, atau Longsor dan rumah yang ambruk. Sehingga tidak dapat diketahui siapa yang lebih dahulu meninggal (bersamaan). Maka harta dibagikan kepada ahli warisnya masing-masing yang ada.

 Penentuan Ahli Waris

1. Siapa yang termasuk dzawil furudh
2. Berapa bagian masing-masing
3. Siapa yang termasuk ashobah
4. Siapa yang mahjub / terhalang
 Nama-nama ahli waris (yang berhak mendapat warisan)

15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu X 6
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih X 6
13 Kake dari Bapak X 10 X 10 X 10 X 10 X 10 X 10
12 Nene dari Bapak X 9 X 9 X 9 X 9 X 9 X 9
11 Nene dari Ibu X 9 X 9 X 9 X 9 X 9 X 9
10 Bapak 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6
09 Ibu 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6
08 Suami X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4
07 Istri X 1/8 X 1/8 X 1/8 X 1/8 X 1/8 X 1/8
06 Anak Lk A X X X X X
05 1 Anak Pr AB X 1/2 1/2 X X
04 2 Anak Pr / lebih X X X 2/3 2/3
03 Cucu Lk dari anak Lk X 6 A X A X A
02 1 Cucu Pr dari anak Lk X 6 AB 1/6 AB X 4 X
01 2 Cucu Pr dr anak Lk / > X 6 X 4 X
Keterangan :

19 Sdr Lk se-Ibu X 6 X
18 Sdr Pr se-Ibu X 6 X
17 2 Sdr Pr se-Ibu / lebih X 6 X
16 Sdr Lk kandung/ se-bapak se-Ibu X 6 X 10 X 6 X 6 A
15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu X 6 X 10 X 6 X 6 AB
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih X 6 X 10 X 6 X 6
13 Kake dari Bapak 1/6 X 10 X 10 1/6 X
12 Nene dari Bapak 1/6 X 9 1/6 9 X 9
11 Nene dari Ibu 1/6 X 9 1/6 9 X 9
10 Bapak X A 1/6 X X
09 Ibu X A X 1/6 1/6
08 Suami X 1/4 X 1/2 X 1/4 X 1/4 X 1/2
07 Istri X 1/8 X 1/4 X 1/8 X 1/8 X 1/4
06 Anak Lk A X A A X
05 1 Anak Pr AB X AB AB X
04 2 Anak Pr / lebih X X
03 Cucu Lk dari anak Lk X 6 X X
02 1 Cucu Pr dari anak Lk X 6 X X
01 2 Cucu Pr dr anak Lk / > X 6 X X
Keterangan : *
* . Gorowaen ( Bapak 2/3 dan Ibu 1/3 dari sisa pembagian kepada suami atau istri)
19 Sdr Lk se-Ibu X 1/6 1/3 1/3 X
18 Sdr Pr se-Ibu X 1/6 X
16 Sdr Lk kandung/ se-bapak se-Ibu A A A X
15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu 1/2
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih X
13 Kake dari Bapak 1/3A X X A
12 Nene dari Bapak X 9 X 9 X 9 X 9 X 9
11 Nene dari Ibu X 9 X 9 X 9 X 9 X 9
10 Bapak X X X X X
09 Ibu 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6
08 Suami X 1/2 X 1/2 X X X X X 1/2
07 Istri X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4 X 1/4
06 Anak Lk X X X X X
05 1 Anak Pr X X X X X
04 2 Anak Pr / lebih X X X X X
Keterangan : * 1 *2 * 3 * 4
• 1 .Moqosamah ( Kake dapat 1/3 dan saudara kandung 2/3 dari sisa setelah pembagian kepada Ibu, Suami, atau istri)
• 2 . Saudara kandung tidak terbagi karena habis(tidak ada sisa)
• 3 . Musyarokah ( karena saudara kandung sebagai ashobah dan tidak ada sisanya. Maka saudara kandung dipersekutukan dalam mendapatkan bagiannya dengan saudara se-Ibu dalam 1/3).
• 4 .Akdariyah ( Kake dengan saudara pr kandung mendapat bagian dari sisa Ibu dan suami atau istri)

24 Anak Lk dari Sdr Lk se-bapak D
23 Anak Lk dari Sdr Kandung Lk D X
22 Sdr Lk se-bapak X X X X
21 Sdr Pr se-bapak AM AM X X
20 2 Sdr Pr se-bapak X X
19 Sdr Lk se-Ibu X X 5 X 5
18 Sdr Pr se-Ibu X X 5 X 5
17 2 Sdr Pr se-Ibu / lebih X X 5 X 5
16 Sdr Lk kandung/ se-bapak se-Ibu X X X X X
15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu X AM AM X X
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih 2/3 X X
13 Kake dari Bapak A X X X X
12 Nene dari Bapak X 9 X 9 X 9
11 Nene dari Ibu X 9 X 9 X 9
10 Bapak X X X X X
09 Ibu 1/6 1/6 1/6
08 Suami X 1/2 X 1/4 X
07 Istri X 1/4 X 1/8 1/8
06 Anak Lk X X X X X
05 1 Anak Pr X 1/2 1/2
04 2 Anak Pr / lebih X X X
03 Cucu Lk dari anak Lk X X X X X
02 1 Cucu Pr dari anak Lk X X 1/6
01 2 Cucu Pr dr anak Lk / > X X
Keterangan : * 4

• 4 . Akdariyah ( Kake dengan saudara pr kandung mendapat bagian dari sisa Ibu dan suami atau istri)
• D . ( dapat bagian jika orang yang ditandai ” X ” tidak ada )

30 Yang dimerdekakan/budak D
29 Yang memerdekakan D X
28 Anak Lk dari Pmn/Uak sebapak D X X
27 Anak Lk dari Pmn/Uak kandung D X X X
26 Pmn/Uak (Sdr bapak) se-bapak D X X X X
25 Pmn/Uak (Sdr bapak) kandung D X X X X X
24 Anak Lk dari Sdr Lk se-bapak X X X X X X
23 Anak Lk dari Sdr Kandung Lk X X X X X X
22 Sdr Lk se-bapak X X X X X X
21 Sdr Pr se-bapak X X X X X X
20 2 Sdr Pr se-bapak X X X X X X
19 Sdr Lk se-Ibu
18 Sdr Pr se-Ibu
17 2 Sdr Pr se-Ibu / lebih
16 Sdr Lk kandung/ se-bapak se-Ibu X X X X X X
15 1 Sdr Pr kandung /se-bapak se-Ibu X X X X X X
14 2 Sdr Pr Kandung / Lebih X X X X X X
13 Kake dari Bapak X X X X X X
12 Nene dari Bapak
11 Nene dari Ibu
10 Bapak X X X X X X
09 Ibu
08 Suami
07 Istri
06 Anak Lk X X X X X X
05 1 Anak Pr
04 2 Anak Pr / lebih
03 Cucu Lk dari anak Lk X X X X X X
02 1 Cucu Pr dari anak Lk
01 2 Cucu Pr dr anak Lk / >

 Istilah-istilah dalam proses pembagian harta warits

1. Basth (angka 1 & 3 pada bagian atas, Ex : 1/2, 3/4)
2. Maqoom (angka 2 & 4 pada bagian bawah, Ex : 1/2, 3/4)
3. Kusur (kumpulan basth dan maqom, Ex : 1/2, 2/3, 1/6, 1/4, 1/8)
4. Makhroj (ialah tempat keluarnya bagi setiap suku bagian, seperti : 1/2 makhrojnya adalah 2. dan 1/3 & 2/3 makhrojnya adalah 3.
5. Tamaatsul (beberapa kusur yang sama maqoomnya, seperti : 1/3 dan 2/3 : 1/6 dan 2/6) / mengambil salah satu penyebut yang sama.
Ex : Anak pr 1/2 …. 1/2 x 6 = 3
Cucu pr 1/6 …. 1/6 x 6 = 1
Nenek 1/6 …. 1/6 x 6 = 1
5 maka di Rod-kan.
Maka ketika hendak menetapkan masalah, hendaklah kita hilangkan satu dari dua 1/6 itu, jadi, tinggal 1/2 dengan 1/6, dan oleh sebab 2 sudah ada dalam 6(tadaakhul antara keduanya, maka kita anggap 2 tidak jadi, tinggal masalah 6).
6. Tadakhul (Terbaginya bilangan-bilangan yang lebih besar atas bilangan yang lebih kecil dengan pembagian yang shohih sehingga tidak ada sisa seperti (4 dengan 8 ), (6 dengan 18), (9 dengan 27),
7. Tawafuq (ketika bilangan yang satu tidak bisa membagi bilangan lain, tetapi dapat dibagi dengan bilangan ke tiga yang bersekutu, seperti : 6 degan 8 dapat dibagi dengan bilangan lain yaitu :(2), atau bilangan (12 dan 30) dapat dibagi dengan bilangan lain, yaitu : (6).
8. Tabaayun(jika kedua pembilang tidak dapat dibagi oleh yang lainnya selain oleh angka (1) Ex : angka (4 dengan 7), angka (8 dengan 11), dan angka (5 dengan 9).

Ketika kita menemukan masalah Tabaayun dalam menentukan hak warits, maka kita kalikan satu bilangan terkecil dengan bilangan terbesar dari bilangan penyebut sebagai asal masalah, seperti : seseorang mati meninggalkan istri dan seorang anak perempuan, maka :
1. Istri dapat 1/8
2. 1 anak pr 2/3.
Maka kita kalikan 3 dengan 8, jadi masalahnya : 24
Istri menjadi 1/8 x 24 = 3
1 anak pr menjadi 2/3 x 24 = 16
Sisa ( 5 ) di Rod kan.

Contoh 1 :

Istri 1/8 X 24 3 15
5 Anak Pr 2/3 X 24 16 80
Ayah 1/6 X 24 4 20
Ibu 1/6 X 24 4 20
Harta Rp. 1.000.000,- Jumlah : 27 135

Saham anak-anak pr (16) tidak terbagi menurut jumlah orangnya dan terdapat perbedaan. Maka ditabaayun dengan cara : 5 x 27 = 135
Proses perhitungan :
Istri : 15 x 1.000.000,- / 135 = …………
5 Anak pr : 80 x 1.000.000,- / 135 = ………… / 5 Org = Rp………
Ayah : 20 x 1.000.000,- / 135 = …………
Ibu : 20 x 1.000.000,- / 135 = …………

Contoh 2 :

3 Istri 1/8 X 24 3 84
7 Anak pr 2/3 X 24 16 448
2 Nenek 1/6 X 24 4 112
4 Saudara lk kandung A X 24 1 28
Jumlah : 24 672
Tashhih : 7 x 4 = 28 kemudian 28 x 24 = 672

9. Munasakhot (menyalin atau menggantikan), jika seseorang mati dan sebagian dari ahli waritsnya ada yang meninggal sebelum pembagian harta warits.

3 Anak pr 2/3 2 24 24
Saudara pr kandung A 1 3 Tashih
Saudara pr kandung 3 Ashobah : 1 3 + 1 = 4
Saudara lk kandung 6 Ashobah : 2 6 + 2 = 8
Jumlah : 3 36 3 36
4 x 3 = 12  12 x 3 = 36
 Al Aul dan Ar Rod

Al-Aul menurut bahasa adalah meningkat atau menambah. Sedangkan menurut istilah adalah apabila jumlah bagian ahli waris lebih besar dari asal masalah, dalam kata lain jika angka pembilang lebih besar dari pada penyebut, yaitu memperbesar angka asal masah sehingga menjadi sama dengan jumlah pembilang dari bagian ahli waris yang ada, karena perhitungannya lebih besar dari pada harta yang akan dibagikan
Contoh 1/2 dan 2/3
ex :
suami : 1/2
2 saudara pr kandung : 2/3
KPK/Asal Masalahnya = 6
Menjadi :
Suami : 1/2 x 6 = 3
2 Sdr pr kdg : 2/3 x 6 = 4
7 ( 6 – 7 = -1 ) maka di-AUL-kan
jadi 3/7 x harta = ……..
jadi 4/7 x harta = ……..

Ar-Rodd adalah mengembalikan / membagikan kembali sisa harta yang telah telah dibagikan sesuai dengan furudul muqodaroh, hal ini terjadi jika pembagian ahli waris lebih sedikit dari pada asal masalah. Dan tidak akan terjadi jika ada mu’asib (yang menjadi asobah ).
Ex.
Ibu : 1/6
1 Anak pr : 1/2
KPK / Asal Masalah : 6
Ibu : 1/6 x 6 = 1
1 Anak pr kdg : 1/2 x 6 = 3
4 ( 6 – 4 = 2 / sisa ) maka di-Rodd)
Ibu : 1/6 x 6.000 = 1.000
1Anak pr kdg : 3/6 x 6.000 = 3.000

Sisa ( Rp. 2.000 ) di-Rodd-kan. Asal masalahnya = 4
Ibu : 1/4 x 2.000 = 500
1 Anak pr kdg : 3/4 x 2.000 = 1.500

Atau dengan cara langsung di-Rodd-kan sebagai berikut :
Ibu : 1/4 x 6.000 = 1.500
1 Anak pr kdg : 3/4 x 6.000 = 4.500
 Ghorowain / Umariyah
Adalah dua hal yang sangat terang, disebut juga umariyah, masalah ini awal mulanya dari sahabat Ali bin Abi Tholib dan Zaid bin Tsabit, masalah ini terjadi apabila ahli waris terdiri dari suami, ibu, dan bapak. Atau istri, ibu, dan bapak. ex :
Suami : 1/2 ( tidak ada anak )
Ibu : 1/3 ( tidak ada anak / saudara perempuan)
Bapak : Asobah
KPK/Asal Masalah : 6
Suami : 1/2 x 6 = 3
Ibu : 1/3 x 6 = 2
5 ( 6 – 5 = 1. sisa untuk bapak ) tidak adil
Menurut Umar atas dasar QS. An-Nisa ayat 11, adalah laki-laki dapat dua bagian perempuan (bapak dan ibu jadi asobah)
Suami : 1/2 x 6 = 3 ( sisanya = 3 )
Ibu : 1/3 x 3( sisa ) = 1
Bapak : 2/3 x 3( sisa ) = 2
6
Jadinya :
suami : 3/6 x harta =….
Ibu : 1/6 x harta =….
Bapak : 2/6 x harta =….

Atau
Suami : 1/2 x 6 = 3 ( sisa = 3 untuk bapak dan ibu )
Ibu : 1/3 x sisa harta :……..
Bapak : 2/3 x sisa harta :……..

 Musyarokah / Musytarokah / Hajariyyah / Himariyah
Hal ini terjadi jika saudara kandung berserikat dengan saudara se-ibu, dalam hal ini saudara kandung dikalahkan oleh saudara se-ibu, sebab saudara-saudara tersebut sama-sama seibu dan dapat menjadi asobah. Ex.
Suami : 1/2
Ibu : 1/6
Sdr lk/pr se-ibu : 1/3
Saudara lk/pr kdg : asobah
KPK/Asal Masalah = 6

Suami : 1/2 x 6 = 3
Ibu : 1/6 x 6 = 1
Sdr lk se-ibu : 1/3 x 6 = 2
6 (tidak ada sisa)
Saudara kansung, menurut hitungan furudul muqodaroh tidak dapat, meskipun secara kekerabatan ia paling dekat. Itulah pentingnya pembagian cara musyarokah.

Menurut Umar bin khotob :
Suami : 1/2 x 6 = 3
Ibu : 1/6 x 6 = 1 ( sisa = 2 untuk saudara-saudara )
Sdr se-ibu
& Sdr kdg : 1/3 x 6 = 2
6
suami : 3/6 x harta = ….
Ibu : 1/6 x harta = ….
Saudara : 2/6 x harta = hasilnya dibagi antara saudara-saudara
Seandainya saudara tersebut terdiri dari : 2 Sdr Lk dan 3 Sdr Pr maka pembagiannya Seperti :
KPK nya 7
Sdr Lk : 4/7 x sisa harta = ……( untuk dua orang ).
Sdr Pr : 3/7 x sisa harta = ……( untuk tiga orang ).

 Muqosamah / Bagi bersama-sama

Hal ini terjadi jika kakek bersama-sama dengan saudara Kandung / Se-ibu / Se-bapak
Dalam hal ini ada dua pendapat :
1. Menurut Abu Bakar, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Abu Hanifah. Bahwa saudara-saudara (kandung/se-bapak/se-ibu) mahjub oleh kakek dengan alasan : kakek menduduki posisi bapak jika tidak ada, dan kakek lebih utama daripada saudara-saudara
2. Menurut Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, Safi’iyyah, dan Malikiyah. Mereka menetapkan bahwa kakek tidak dapat menghalangi saudara, dengan 2 (dua) cara pembagian. Pembagian kakek dapat 1/3 atau kakek mukosamah / bagi sama dengan saudara. Ex :

Cara ke-1 :
Kakek : 1/3
Saudara lk & pr kandung : Asobah
KPK/ Asal Masalah = 3
Kakek : 1/3 x 3 = 1
Saudara lk & pr kandung : sisa = 2 . Maka
Kakek : 1/3 x 9000 = 3000 ( sisanya = 6000 )
Sdr lk kdg : 2/3 x 6000 = 4000
Sdr pr kdg : 1/3 x 6000 = 2000
Cara ke-2 :
Cara mukosamah dengan KPK/Asal Masalah = 5
Kakek : 2/5 x 9000 = 3600
Sdr lk kdg : 2/5 x 9000 = 3600
Sdr pr kdg : 1/5 x 9000 = 1800
 Akdariyah

Hal ini terjadi karena adanya situasi yang keruh/susah, seperti bersamanya kakek dengan saudara perempuan kandung atau sebapak, ex :
Suami : 1/2
Ibu : 1/6
Kakek : asobah
Sadara pr kdg : 1/2 (mahjub oleh kakek)

Namun menurut Zaid bin Tsabit dan Ali bin Abi Thalib, bahwa kakek sejajar dengan saudara perempuan kandung dalam asobah.
Alasan disejajarkan karena kakek adalah segaris pertikal dari bapak, sedangkan saudara adalah segaris horizontal/bawah dari bapak
Ex :
Suami 1/2
Ibu : 1/6
Kakek : 1/6
Saudara pr kdg : 1/2
KPK/Asal Masalah = 6 menjadi :

Suami : 1/2 x 6 = 3
Ibu : 1/6 x 6 = 1
Kakek : 1/6 x 6 = 1
Saudara pr kdg : 1/2 x 6 = 3
8 ( 6 – 8 = -2 )
KPK = 6 di-AUL-kan kepada 8, menjadi :
Suami : 3/8 x 18000 = 6750
Ibu : 1/8 x 18000 = 2250
Kakek dan
Saudara pr kdg : 4/8 x 18000 = 9000 (dibagi dua) yaitu :

Kakek : 2/3 x 9000 = 6000
Saudara pr kdg : 1/3 x 9000 = 3000

Silsilah (ramgkaian keturunan)
DAFTAR BACAAN :

1. PUSAKA ISLAM (Kewajiban yang dilupakan). – Ahmad Tajudin AS. & Rukmito Sya’roni Al-Andalasi. – Badan Wakaf ULUL ABSOR, Sukabumi, Jawa Barat, 1992.
2. ILMU WARITS. – Drs. Fatchur Rohman. – PT. Al-Ma’arif, Bandung. 1971
3. HUKUM WARITS INDONESIA(dalam perspektif Islam, Adat, dan BW). – Dr. Eman Suparman, SH., M.H. – Refika ditama, Bandung, 2005.
4. POKOK-POKOK ILMU WARITS, – Drs. Muslich Marzuki, – Pustaka Amani, Semarang 1981.
5. ILMU HUKUM WARITS (Menurut Ajaran Islam), – DR. Muchamad Ali Ash-Shabuni,- alih bahasa : H.Zaid Husein Al-Hamid,- Mutiara Ilmu, Semarang 1388 H.
6. AL-FAROI’ID (Ilmu Pembagian Warits, – A. Hasan, – Pustaka Progressif, Surabaya, cet ke-X, 1981
7. Muqodimah ILMU FAROIDL, – K.H. Abdullah Fadhil Ali Syiroj, – Semarang 1426 H.
8. Pelajaran FIQIH Madrasah Aliyah, – Drs. Mahrus As’ad – Drs. A. Wahid Sy.- Muharom 1418 H. – Armico- Bandung
9.

 

 

 

 

 

April 22, 2014 at 3:17 am Tinggalkan komentar

Warits Faroidh Na

KONSEP DASAR
PEMBAGIAN HARTA WARIS
Nana Suryana ( Pengasuh PONPES Al-Fatah Sukabumi, Jawa Barat )

يوصيكم الله في أولادكم للذكر مثل حظ الأنثيين فإن كن نساء فوق اثنتين فلهن ثلثا ما ترك وإن كانت واحدة فلها النصف ولأبويه لكل واحد منهما السدس مما ترك إن كان له ولد فإن لم يكن له ولد وورثه أبواه فلأمه الثلث فإن كان له إخوة فلأمه السدس من بعد وصية يوصي بها أو دين آبآؤكم وأبناؤكم لا تدرون أيهم أقرب لكم نفعا فريضة من الله إن الله كان عليما حكيما .* النسـاء *

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan ; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh Seperdua harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. ( QS An Nisa ayat 11 )

ولكم نصف ما ترك أزواجكم إن لم يكن لهن ولد فإن كان لهن ولد فلكم الربع مما تركن من بعد وصية يوصين بها أو دين ولهن الربع مما تركتم إن لم يكن لكم ولد فإن كان لكم ولد فلهن الثمن مما تركتم من بعد وصية توصون بها أو دين وإن كان رجل يورث كلالة أو امرأة وله أخ أو أخت فلكل واحد منهما السدس فإن كانوا أكثر من ذلك فهم شركاء في الثلث من بعد وصية يوصى بها أو دين غير مضآر وصية من الله والله عليم حليم . النسـاء

Dan bagimu (suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (QS. An Nisa ayat 12).

 

1. SUAMI
 Suami dapat 1/2 (setengah) jika tidak ada Anak / Cucu QS. 4/12
 Suami dapat 1/4 (seperempat) jika ada Anak / Cucu QS. 4/12

2. ISTRI
 Istri dapat 1/4 (sperempat) jika tidak ada Anak / Cucu QS. 4/12
 Istri dapat 1/8 (seperdelapan) jika ada Anak / Cucu QS. 4/12

3. ANAK (A ) dan Cucu
 Anak Lk dapat 2 bagian Anak Pr , dan jadi Asobah QS. 4/11
 Anak Pr 2 orang / lebih dapat 2/3 jika tidak ada Anak Lk QS. 4/11
 Anak Pr tunggal dapat 1/2 jika tidak ada Anak Lk QS. 4/11
 Anak Pr tunggal dapat 1/2 dan jika bersamanya Cucu Pr maka Cucu dapat 1/6 sebagai pelengkap dari 2/3 .

قال عبد الله بن مسعـود : قضى رسـول الله ص . للبـنت النّـصف ولبنت الا بن السّـدس تكملة الثّلثين وما بقي فللا خت .رواه الجماعة الا مسلما والترمدى .
Berkata Abdullah bin Mas’ud, Rosulullah pernah menghukumkan untuk seorang anak Pr ½ (separoh) dan untuk cucu pr 1/6 (seperenam) untuk mencukupkan 2/3 dan selebihnya untuk saudara-saudara . (HR.Jama’ah kecuali Muslim dan Tirmidzi)
( F. no : 23 )

 Kalau anak perempuan itu dua orang atau lebih maka cucu pr tidak dapat bagian, karena hakekatnya cucu itu terhalang oleh anak.
 Jika tidak ada anak, maka cucu menggantikan posisi sebagai anak.

4. IBU
 Ibu dapat 1/6 jika ada anak atau cucu QS. 4/11
 Ibu dapat 1/6 jika bersama saudara-saudara QS. 4/11
 Ibu dapat 1/3 jika hanya diwarisi ibu dan bapaknya(gorowaen) QS. 4/11

5. BAPAK (A )
 Bapak dapat 1/6 jika ada anak / cucu QS. 4/11
 Bapak dapat 1/6 jika bersama saudara QS. 4/11
 Bapak dapat 2/3 jika hanya diwarisi ibu dan bapaknya(gorowaen) QS. 4/11

6. NENEK
 Nenek seorang atau lebih dapat 1/6 kalau tidak ada ibu

عن بريدة : انّ النبيّ ص . جعل للجدّة السّدس اذا لم يكن دونها امّ . ابو داود

Memberikan kepada nenek 1/6 jika tidak ada ibu. ( F : 46 )

قال عبادة بن صامت إنّ النّبي قضى للجدّ تين من الميراث بالسدس بينهما .
عبد الله بن احمد بن حنبل .
“ … telah hukumkan buat dua nenek 1/6 “. ( F : 43 )

قال عبد الرحمن بن يزيد : اعطى رسول الله ص . ثلاث جدّات السّدس ثنتين من قبل لاب وواحدة من لامّ . ( الدارقطنى ) .
“ … Rosulullah telah berikan 1/6 (seperenam) kepada tiga orang nenek, 2 orang dari pihak bapak dan seorang dari pihak ibu ”

 

 

 

7. KAKEK

 Kakek bisa mendapat asobah (sisa)
 Kakek dapat waris jika tidak ada bapak
 Kakek dapat 1/6 jika

قال معقل بن يسار المزانّى : قضى رسول الله ص . فى الجدّ السّـدس . رواه احمد وابوداود .
“ .. telah hukumkan datuk dapat 1/6 (seperenam) “ ( F : 41 ). Jika saudara-saudara itu lebih dari dua orang, ( F : 54 )

 Kakek dapat 1/3 jika bersama saudara kandung / saudara sebapak

قال الحسن : كان زيد بن ثابت يشرّك الجدّ مع لا خوة الى الثّلث . ( الدارمى )

Adalah jaid bin tsabit mencampurkan kakek dengan saudara-saudara laki-laki hingga ia dapat tidak kurang dari 1/3 HR. Ad-Darimi. ( F : 53 ) .
Menurut hadits riwayat imam Malik ( F : 32 ) kalau saudara lk itu seorang maka kakek dapat 1/2.

 Kakek dapat berbagi hasil (muqosamah) dengan saudara-saudara dalam pembagian sisa harta
 Kakek dapat 2/3 jika hanya diwarisi oleh kakek dan seorang saudara perempuan(1/2). (disebut Akdariyah ). Menurut keterangan bahwa laki-laki dapat dua bagian perempuan. QS. 4/11 atau 4/ 176, 177
 Kebersamaan antara kakek dengan saudara kandung / saudara sebapak, dan bersama ahli waris lainnya. Adakalanya kakek dapat 1/6 , 1/2 , 1/3, 2/3 dari sisa harta, tergantung situasi, yang pasti harus mendapatkan yang lebih menguntungkan dari pada saudara tersebut.

8. SAUDARA KANDUNG

 Saudara Lk / Pr dapat harta waris jika tidak ada : Bapak, Anak Lk, Cucu Lk( A ) jika tidak ada anak lk / cucu lk dan bapak
 Perempuan tunggal dapat 1/2 jika tidak ada anak / cucu. Jika ada saudara sebapak maka saudara sebapak dapa sisanaya (A) QS. 4/176,177, jika seudara sebapak itu perempuan tunggal maka ia mendapatkan 1/6, sebagai pelengkap dari 2/3.

قال عبد الله بن مسعـود : قضى رسـول الله ص . للبـنت النّـصف ولبنت الا بن السّـدس تكملة الثّلثين وما بقي فللا خت .رواه الجماعة الا مسلما والترمدى .
Berkata Abdullah bin Mas’ud, Rosulullah pernah menghukumkan untuk seorang anak Pr 1/2 (separoh) dan untuk cucu pr 1/6 (seperenam) untuk mencukupkan 2/3 dan selebihnya untuk saudara-saudara . (HR.Jama’ah kecuali Muslim dan tirmidzi) ( F : 23 ) dan QS. 4/11

 Jika hanya diwarisi oleh seorang anak pr / seorang cucu pr dan saudara, maka anak pr dapat 1/2 dan sisanya untuk saudara

انّ معاذ بن جبل ورّث اختا وابنة جعل لكلّ واحدة منهما النّصف وهـو باليمن ونبيّ الله ص . يومئـذ حيّ . رواه ابو داود والبخارئ بمعناه
“ … Sungguh Muadz bin Jabal telah membagikan harta pusaka pada seorang saudara pr dan seorang anak pr, masing-masing separoh (1/2 ) padahal ia di Yaman dan Rosulullah masih hidup ” ( F : 29 )

 

 

 
 Jika seorang Sdr Pr 1/2 bersama Kakek menjadi 1/3 dan kakek 2/3 ( Akdariyah )
 Perempuan lebih dari dua orang dapat 2/3 jika tidak ada anak / cucu QS. 4/176,177
 Jika bersama dengan saudara seibu ia bersekutu dalam 1/3 QS. 4/12
 Jika saudara seibu bersama saudara kandung maka ia berserikat dalam 1/3 QS. 4/12

9. SAUDARA SEBAPAK ( A )

 Saudara Lk dapat waris jika tidak ada : Saudara Lk Kandung, Bapak, Anak Lk, dan Saudara Pr kdg yang bersama dengan Anak Pr atau Cucu Pr
 Saudara Pr dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Sdr Lk Kdg, dan dua Sdr Pr Kdg.
 Saudara sebapak dapat sisi ( A ) jika tidak ada anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Saudara kandung Lk. QS. 4/177 dan hadits :
الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
Serahkanlah ahlinya yang berhak, maka sebagian –baigan itu kepada le3bihnya itu, adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

 Saudara sebapak akan mendapat jika tidak ada saudara kandung.

قال على : قضى رسول الله ص . الرّجل يرث اخاه لابيه وامّه دون اخيه لابنه .
رواه التر ميذى.
“ … Menghukumkan Rosulullah, bahwa seorang sewarisi saudaranya kandung, tidak saudara sebapak ” ( F : 49 )
 Seorang Saudara Pr dapat 1/2 (separoh dari sisa) jika tidak ada yang menjadi asobah QS. 4/177
 Duarang saudara Pr dapat 2/3 jika tidak ada yang menjadi asobah QS. 4/177
 Jika seorang Sdr Pr Sbk bersama dengan Sdr Pr Kdg, maka seorang Sdr Pr Kdg dapat 1/2 dan Sdr Pr Sbpk dapat 1/6 ( sama dengan dua orang Pr = 2/3 ) QS. 4/11
 Posisi saudara sebapak dengan saudara kandung, seperti posisi anak dengan cucu
 Jika saudara seibu bersama saudara kandung maka ia berserikat dalam 1/3 QS. 4/12
10. SAUDARA SEIBU

 Dapat waris jika tidak ada Anak, Cucu, Bapak / Kakek
 Seorang laki-laki / perempuan dapat 1/6. QS. 4/12
 Jika dua oarng atau lebih Lk/Pr dapat 1/3 ( bersekutu ) QS. 4/12
 Jika saudara seibu bersama saudara kandung maka ia berserikat dalam 1/3 QS. 4/12

11. ANAK LK DARI SAUDARA KANDUNG / keponakan
 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr.
الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
Serahkanlah ahlinya yang berhak, maka sebagian –baigan itu kepada le3bihnya itu, adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

12. ANAK LK DARI SAUDARA SEBAPAK / keponakan

 Anak Lk dr Sdr sebapak dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Anak Sdr Lk Kdg, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah ahlinya yang berhak, maka sebagian –baigan itu kepada le3bihnya itu, adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

13. PAMAN SEKANDUNG

 Paman sekandung dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah ahlinya yang berhak, maka sebagian –baigan itu kepada le3bihnya itu, adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

14. PAMAN SEBAPAK

 Paman sebapak dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah ahlinya yang berhak, maka sebagian –baigan itu kepada le3bihnya itu, adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

 

15. ANAK PAMAN SEKANDUNG

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg, Paman se-Bpk, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah ahlinya yang berhak, maka sebagian –baigan itu kepada le3bihnya itu, adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

16. ANAK PAMAN SEBAPAK

 Anak Lk dr Sdr Kdg dapat waris jika tidak ada : Anak Lk, Cucu Lk, Bapak, Kakek, Sdr Lk Kdg, Sdr Lk Sbpk, Anak Sdr Lk Kdg, Anak Sdr Lk Sbpk, Paman se-Kdg, Paman se-Bpk, Anak Paman Se-Kdg, Sdr Pr Kdg / Sbpk yang jadi asobah bersama anak Pr / Cucu Pr.

الحقوا الفرائض باهلها فمابقي فهو لاولى رجل ذكر . رواه البخارى و مسلم .
 Serahkanlah ahlinya yang berhak, maka sebagian –baigan itu kepada le3bihnya itu, adalah untuk laki-laki yang lebih hampir (kepada si mati). ( F : 19 )

 

 
Al-Faraa’id : A. Hasan. Fa. Pustaka Progressif. Surabaya no : 23

April 22, 2014 at 3:14 am Tinggalkan komentar

Faro’idh Warits

KITAB IMAN
Bab Wajib Mencintai Rosulullah lebih dariopada keluarga, orang tua, dan seluruh manusia.
No : 28

Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Seseorang tidak boleh dikatakan beriman dan mengikut setengah Hadis Abdul Waris sebelum dia mencintai seorang lelaki lebih daripada keluarga, harta dan manusia seluruhnya

KITAB FAROID
Bab Harta Yang Ditinggalkan Oleh Si Mati adalah untuk Pewarisnya
No : 947

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Bahawasanya pernah ada jenazah seorang lelaki yang mempunyai hutang dihadapkan kepada Rasulullah s.a.w, maka baginda bertanya: Apakah dia ada meninggalkan sesuatu untuk membayar hutangnya? Sekiranya baginda diberitahu bahawa orang tersebut ada meninggalkan sesuatu untuk membayar hutangnya, maka baginda akan mendirikan sembahyang ke atas jenazahnya sekiranya dia tidak meninggalkan sesuatu baginda bersada: Sembahyangkanlah ke atas temanmu itu. Setelah Allah memberikan kemudahan kepada baginda dalam menaklukkan negeri, baginda bersabda: Aku lebih berhak terhadap orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri. Oleh itu sesiapa yang mati meninggalkan hutang maka akulah yang akan membayarnya dan sesiapa yang mati meninggalkan harta, maka harta itu untuk ahli warisnya

KITAB WASIAT
Bab Mewasiatkan Dengan Satu Pertiga
No : 956

Diriwayatkan daripada Saad bin Abu Waqqas r.a katanya: Pada waktu Haji Wida’ Rasulullah s.a.w menziarahiku ketika aku sedang sakit tenat. Waktu itu aku berkata: Wahai Rasulullah! Lihatlah keadaan aku yang berada dalam keadaan tenat ini sebagaimana yang kamu lihat, sedangkan aku ini seorang hartawan dan hanya seorang anak perempuan sajalah yang akan mewarisi harta saya. Adakah saya boleh mengeluarkan sedekah dua pertiga dari harta saya? Baginda menjawab: Tidak! Aku bertanya lagi: Bagaimana kalau sebahagiannya? Baginda menjawab: Tidak! Tetapi satu pertiga dan satu pertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan papa dan meminta-minta kepada orang lain. Tidakkah Kamu menafkahkan suatu nafkah dengan tujuan untuk mendapat keredaan Allah, sehinggalah kamu mendapat pahala daripada nafkahmu itu, sekalipun sesuap makanan yang kamu masukkan ke mulut isterimu. Aku bertanya: Wahai Rasulullah! Adakah saya akan dikekalkan (masih tetap hidup) sesudah sahabat-sahabat saya (meninggal dunia)? Baginda bersabda: Sesungguhnya kamu tidak akan dikekalkan lalu kamu mengerjakan suatu amal dengan tujuan untuk mendapatkan keredaan Allah sehinggalah dengan amal itu darjatmu akan bertambah. Barangkali kamu akan dikekalkan sehingga umat Islam mendapat manfaat dari sesuatu kaum dan kaum yang lain iaitu orang-orang kafir menderita kerugian keranamu. Wahai Allah! Sempurnakanlah hijrah sahabat-sahabatku dan janganlah kamu kembalikan mereka ke belakang (kepada kekufuran) tetapi yang sial adalah Saad bin Khaulah. Beliau mengatakan bahawa Rasulullah s.a.w mengasihi orang yang telah diwafatkan di Mekah

KITAB QOSAMAH, PENCEROBOHAN, QISOS DAN DIYAT
Bab Diyat Janin Dan Kewajiban Membayar Diyat Karena Pembunuhan Yang Tidak Sengaja dan Hampir sengaja adalah Tanggungan Ke Atas Keluarga Orang Yang Melakukannya
No : 990

Diriwayatkan daripada al-Mughirah bin Syu’bah r.a katanya: Seorang wanita telah memukul madunya yang berada dalam keadaan hamil dengan menggunakan tongkat, sehinggalah dia meninggal dunia. Salah seorang daripadanya berasal dari kaum Lihyan. Maka Rasulullah s.a.w menjatuhkan hukuman diyat wanita yang menjadi korban pembunuhan itu kepada asabahnya iaitu pewaris pembunuh tersebut. Manakala untuk janin yang berada dalam perutnya harus ditebus dengan seorang hamba samada lelaki ataupun perempuan. Kemudian salah seorang waris lelaki yang membunuh itu berkata: Apakah aku harus membayar diyat anak yang belum dapat makan dan minum dan belum menjerit? Itu jelas merupakan kecelakaan yang tidak boleh ditanggung. Mendengar itu Rasulullah s.a.w lalu bersabda: Apakah seperti itu sajak orang-orang Arab?? Baginda bersabda lagi: Diwajibkan ke atas mereka itu membayar diyat

 
KITAB JIHAD DAN STRATEGINYA
Bab Sabda Nabi “ Jangan Diwarisi Harta Peninggalanku Karena ia adalah sedekah”
No : 1041, 1042, 1052

Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Ketika Rasulullah s.a.w wafat, isteri-isteri Rasulullah s.a.w mengutus Osman bin Affan menemui Abu Bakar untuk bertanyakan bahagian mereka dalam warisan peninggalan Nabi s.a.w. Lalu Aisyah berkata kepada mereka: Bukankah Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Peninggalanku tidak boleh diwarisi, ia adalah sedekah

1042 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w telah bersabda: Harta warisanku tidak boleh dibahagikan walaupun sebanyak satu dinar. Harta yang aku tinggalkan itu, adalah untuk nafkah (belanja) isteri-isteriku dan untuk mengupah para pekerjaku, selebihnya itu adalah merupakan sedekah

Bab Surat Dari Nabi Kepada Raja Heraklius Yang Menyeru Beliau Mameluk Islam
1052 Diriwayatkan daripada Abu Sufian r.a katanya: Setelah aku berpisah dengan Rasulullah s.a.w dalam tempoh yang agak lama, pada waktu itu aku berada di Syam maka telah sampai sepucuk surat dari Rasulullah s.a.w yang ditujukan kepada Raja Hiraqal Pembesar Empayar Rom. Dahyat al-Kalbi telah membawa surat tersebut dan menyampaikannya kepada pembesar Busra. Maka pembesar Busra telah membawa surat tersebut kepada Raja Hiraqal. Lalu Raja Hiraqal bertanya: Adakah di sini terdapat seorang lelaki dari kaum orang yang mendakwa sebagai Nabi ini? Orang-orang yang ditanya menjawab: Ya! Ada. Aku pun dipanggil bersama beberapa orang Quraisy yang lainnya, maka kami pun terus masuk mengadap Raja Hiraqal. Setelah dipersilakan duduk di hadapannya, Raja Hiraqal mula mengajukan pertanyaan: Adakah di antara kamu ini orang yang paling dekat nasab keturunan dengan seorang yang mengaku sebagai Nabi ini? Abu Sufian menjawab: Aku! Kemudian beliau menyuruh aku duduk lebih dekat di hadapannya. Sementara itu Sahabat-sahabatku yang lain dipersilakan duduk di belakangku. Kemudian Raja Hiraqal mempersilakan juru bicaranya (penterjemahnya) dan berkata: Katakan kepada mereka yang berada di hadapanku ini, bahawa aku bertanya mengenai seorang lelaki yang telah mengaku sebagai nabi. Jika beliau berdusta kepadaku, maka dustailah berliau. Berkata Abu Sufian Demi Allah, sekiranya aku tidak bimbang pendustaanku akan diceritakan oleh Sahabat-sahabatku di negeriku nanti, nescaya aku memilih berdusta. Melalui juru bicaranya Raja Hiraqal mula mengajukan pertanyaannya: Bagaimanakah nasab (keturunannya) di kalangan kamu? Aku menjawab: Di kalangan kami beliau mempunyai nasab (keturunan) yang cukup mulia. Beliau (Raja Hiraqal) bertanya lagi: Adakah terdapat di antara nenek moyangnya yang pernah menjadi raja? Aku menjawab: Tidak ada! Beliau (Raja Hiraqal) bertanya lagi: Adakah kamu pernah mencurigainya berdusta sebelum beliau mengatakan apa yang sudah dikatakannya? Aku menjawab: Tidak! Beliau (Raja Hiraqal) meneruskan pertanyaan: Siapakah yang menjadi pengikutnya? Adakah mereka terdiri dari kalangan orang yang mulia atau dari kalangan orang yang lemah? Aku menjawab: Para pengikutnya adalah terdiri dari kalangan orang yang lemah. Beliau terus bertanya: Adakah pengikutnya semakin berkurangan atau bertambah? Aku menjawab: Tidak! Bahkan semakin bertambah. Beliau bertanya lagi: Adakah terdapat salah seorang dari pengikutnya yang keluar atau murtad dari agamanya kerana tidak suka kepadanya? Aku menjawab: Tidak pernah! Beliau bertanya lagi: Bagaimana dengan peperangan? Aku menjawab: Peperangan yang terjadi antara kami dengannya seimbang, adakalanya kami mendapat kemenangan dan adakalanya kami menerima kekalahan. Beliau bertanya: Adakah beliau pernah khianat? Aku menjawab: Tidak! Selama hidupku aku tidak pernah melihat beliau berbuat seperti itu. Beliau bertanya lagi: Adakah ucapan ini pernah diucapkan oleh seseorang sebelumnya? Aku menjawab: Tidak pernah! Kemudian Raja Hiraqal memerintahkan juru bicaranya supaya menyatakan (isi hatinya) bahawa: Ketika aku tanyakan kepadamu mengenai nasab (keturunannya), kamu menjawab sesungguhnya (Muhammad) adalah seorang yang mempunyai nasab (keturunan) yang baik dan memang begitulah keadaan para rasul apabila diutus di kalangan kaumnya. Ketika aku tanyakan kepadamu adakah nenek moyangnya (Muhammad) ada yang pernah menjadi raja, kamu menjawab tidak ada sama sekali. Jadi itulah yang membuatkan aku kagum kerana dengan kedudukannya atau kebesarannya sekarang bukan merupakan warisan dari nenek moyangnya. Ketika aku tanyakan kepadamu mengenai para pengikutnya, kamu menjawab bahawa para pengikutnya terdiri dari orang-orang yang lemah dan mereka itulah pengikut para rasul. Ketika aku tanyakan kepadamu adakah kamu pernah menuduhnya berdusta tentang apa yang diucapkan, maka kamu menjawab bahawa beliau tidak pernah berdusta samada sesama manusia apalagi kepada Allah. Maka bagiku memang itulah sifat seorang rasul. Aku tanyakan kepadamu adakah salah seorang dari pengikutnya ada yang keluar dari agamanya (murtad), maka kamu menjawab tidak pernah ada dan begitulah keimanan beliau apabila terpancar di sudut hati dan berseri-seri. Ketika aku tanyakan kepadamu adakah para pengikutnya berkurangan atau bertambah, maka kamu menjawab pengikutnya semakin bertambah dan demikian itulah keimanan yang sempurna. Aku bertanya kepadamu adakah kamu pernah memeranginya, maka kamu menjawab pernah, di mana kadangkala kamu menang dan kadangkalanya kamu tewas. Demikian itulah para rasul harus dicuba terlebih dahulu sebelum mereka menerima ganjaran yang baik. Aku bertanya kepadamu adakah beliau pernah khianat, maka kamu menjawab bahawa beliau tidak pernah khianat. Jadi begitulah sifat para rasul. Aku bertanya kepadamu adakah ucapan ini pernah diucapkan oleh seseorang sebelumnya, kamu menjawab tidak pernah seorang pun sebelumnya yang mengucapkannya. Kalau begitu beliau (Muhammad) benar-benar orang yang sangat istimewa. Melalui juru bicaranya lagi, Raja Hiraqal bertanya kepadaku: Apakah yang telah diperintahkan oleh beliau (Muhammad)? Aku menjawab: Beliau memerintahkah kami supaya mendirikan sembahyang, membayar zakat, menghubungkan silaturrahim dan mencegah dari perkara-perkara yang diharamkan. Kemudian Raja Hiraqal berkata: Sekiranya apa yang kamu katakan ini benar, maka beliau (Muhammad) memang benar-benar seorang nabi. Aku tahu sesungguhnya beliau adalah seorang yang sungguh luar biasa dan aku sama sekali tidak menyangka bahawa seorang Nabi telah muncul dari kalangan kamu. Oleh itu, secara jujur aku katakan bahawa aku benar-benar ingin berjumpa dengannya. Seandainya aku berada di sisinya, nescaya aku akan membasuh kedua telapak kakinya dan akan meletakkan kekuasaannya di atas kedua telapak kakiku. Setelah itu raja Hiraqal meminta supaya diambilkan surat yang telah dikirimkan oleh Rasulullah s.a.w lalu membacanya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Dari Muhammad utusan Allah ditujukan kepada Hiraqal pembesar Empayar Rom. Salam sejahtera buat mereka yang sentiasa mengikuti kebenaran. Sesungguhnya aku menyerumu untuk memeluk Islam. Masuklah Islam semoga kamu akan tenteram. Masuklah Islam nescaya Allah akan menganugerahkan kepadamu dua pahala sekaligus. Jika kamu menolak dari ajakan yang mulia ini, maka kamu akan menanggung dosa yang teramat besar. Bermaksud: Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, iaitu kita tidak akan sembah melainkan Allah dan kita tidak akan menyengutukanNya dengan sesuatupun dan tidak pula sebahagian kita mengambil sebahagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling (tidak mahu menerimanya) maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah kamu, bahawa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Islam (Allah). Setelah selesai membaca surat tersebut terdengar suara teriakan yang nyaring. Kami diarahkan supaya keluar. Maka ketika itulah aku berkata kepada Sahabat-sahabatku: Inilah bukti bagi Ibnu Abu Kabsyah yang selalu ditakuti kemunculannya oleh raja orang-orang Rom Bani Asfar. Raja Hiraqal berkata: Aku yakin bahawa seruan dan ajakan Rasulullah s.a.w pada suatu masa nanti pasti akan muncul sehingga Allah berkenan memasukkan aku ke dalam Islam

KITAB IMAROH ITU KEPEMIMPINAN
Bab Larangan Memohon Jawaban Pemimpin Lebih-Lebih Lagi dengan Tamak
No :1083
Diriwayatkan daripada Abu Musa r.a katanya: Aku menemui Nabi s.a.w bersama dengan dua orang lelaki dari keluarga bapa saudaraku. Salah seorang warisku itu berkata: Wahai Rasulullah, berikanlah aku jawatan untuk mengurus (memimpin) sebahagian dari perkara yang diberikan oleh Allah kepada mu. Begitu juga waris ku seorang lagi mengajukan permohonan yang sama, lalu Rasulullah s.a.w bersabda: Demi Allah, aku tidak akan memberikan pekerjaan ini kepada orang yang memintanya, apatah lagi kepada orang yang tamak padanya
KITAB SIFAT ZUHUD DAN LEMAH LEMBUT
No : 1711

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Aku telah mendengar Nabi s.a.w bersabda: Ada tiga orang dari Bani Israel (seorangnya) ditimpa penyakit kusta, seorangnya berpenyakit gugur rambut dan seorang lagi buta. Maka Allah telah menguji ketiga-tiganya dengan mengutus kepada mereka seorang Malaikat. Malaikat tersebut telah mendatangi orang yang berpenyakit kusta dan bertanya kepadanya Apakah yang paling engkau sukai? Orang itu menjawab: Warna yang elok serta kulit yang baik dan sembuh dari kotoran yang menyebabkan manusia memandang jejek kepadaku (penyakit kusta). Maka Malaikat tersebut menyapunya (tempat sakitnya) lalu hilanglah penyakit itu (sembuh) dan diberi warna serta kulit yang baik. Malaikat bertanya lagi: Harta apakah yang paling engkau sukai? Dia menjawab: Unta atau Lembu (syak rawi) Ishak syak samada orang berpenyakit kusta atau orang yang tiada rambut di mana seorang dari mereka menjawab unta dan seorang lagi menjawab lembu. Maka dia diberikan unta yang mengandung sepuluh bulan. Orang itu mendoakan semoga Allah memberkati perbuatannya itu. Kemudian Malaikat tersebut telah datang menemui orang yang berpenyakit gugur rambut lalu bertanya: Apakah yang paling engkau sukai? Dia menjawab: Rambut yang elok dan sembuh dari penyakit yang menyebabkan manusia memandang jejek kepadaku. Malaikat menyapunya (tempat sakit) lalu hilanglah penyakitnya dan diberikan rambut yang baik. Malaikat bertanya lagi: Harta apakah yang paling engkau sukai? Dia menjawab: Lembu. Maka dia diberikan seekor lembu yang sedang bunting. Dia mendoakan keberkatan dari Allah atas perbuatannya. Kemudian Malaikat tersebut mendatangi pula seorang yang buta lalu bertanya: Apakah yang paling engkau sukai? Dia menjawab: Aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku semoga aku dapat melihat manusia. Malaikat menyapu matanya, maka Allah mengembalikan penglihatan kepada beliau. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang amat engkau sukai? Dia menjawab: Kambing biri-biri maka dia diberikan seekor biri-biri yang telah melahirkan anak. Maka kedua-dua (lelaki berpenyakit kusta dan yang tiada rambut) menguruskan kelahirkan unta dan lembu begitu juga halnya dengan lelaki buta. selepas sekian lama, maka bagi lelaki yang berpenyakit kusta telah memiliki satu lembah dari unta, bagi lelaki yang berpenyakit gugur rambut telah memiliki satu lembah dari lembu dan bagi lelaki yang buta telah memiliki satu lembah dari kambing biri-biri. Nabi s.a.w menyambung lagi: Kemudian Malaikat tersebut mendatangi lelaki yang berpenyakit kusta dengan jelmaan sebagaimana keadaan lelaki itu sebelumnya dan dia mengadu kepada lelaki tersebut: Aku seorang lelaki miskin yang telah kehabisan bekalan semasa aku bermusafir. Aku tidak mempunyai tempat untuk mengadu pada hari ini melainkan kepada Allah dan kepada engkau. Aku memohon dari mu demi Yang telah memberikan kepadamu warna serta kulit yang baik dan juga harta seekor unta yang boleh membantu aku meneruskan perjalanan sepanjang musafirku. Maka lelaki itu menjawab: Aku mempunyai banyak tanggungan (menyebabkan aku tidak boleh memberikannya kepadamu). Malaikat itu berkata kepada lelaki itu: Aku rasa aku mengenalimu. Tidakkah engkau dahulunya berpenyakit kusta dan manusia memandang jejek kepadamu? (Tidakkah engkau) Seorang yang fakir lalu Allah mengurniakan kepadamu (harta)? Lelaki itu menjawab: Aku mewarisi harta ini dari warisan orang tuaku. Malaikat itu berkata: Sekiranya kamu berdusta Allah akan menjadikan keadaan kamu sebagaimana kamu sebelum ini. Kemudian Malaikat tersebut mendatangi pula orang yang berpenyakit gugur rambut seperti lelaki tadi dan bertanya seperti dia bertanya kepada lelaki berpenyakit kusta, keadaannya sama seperti yang berlaku ketika Malaikat tersebut meminta dari lelaki yang berpenyakit kusta. Malaikat berkata: Sekiranya kamu berdusta Allah akan menjadikan keadaan kamu sebagaimana kamu sebelum ini. Kemudian Malaikat itu mendatangi pula lelaki yang buta dengan jelmaan seperti seorang yang buta lalu mengadu: Aku seorang lelaki pengembara yang miskin. Aku telah kehilangan kenderaan semasa musafir, maka aku tidak mempunyai tempat untuk mengadu melainkan kepada Allah dan kepada engkau. Aku memohon darimu demi Yang telah mengembalikan penglihatanmu seekor kambing biri-biri yang boleh membantu aku meneruskan perjalananku. Lelaki itu berkata: Aku sebelum ini adalah seorang yang buta, Allah telah mengembalikan penglihatanku, oleh itu ambillah apa yang engkau mahu dan tinggal apa yang engkau tidak mahu. Demi Allah, aku tidak akan menegah dan mengungkit kembali pemberianku kepada kamu untuk mengambil apa yang engkau kehendaki kerana Allah. Malaikat berkata: Jagailah hartamu. Sesungguhnya kamu semua telah diuji oleh Allah. Allah telah meredai kamu dan membenci dua orang Sahabatmu
KITAB TAFSIR
Bab Ayat Yang Diturunkan Tentang Pengharaman Arak
No : 1743

Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Umar telah berkhutbah di atas mimbar Rasulullah s.a.w. Beliau mengucap syukur kepada Allah dan memujiNya, kemudian dia berkhutbah: Sesungguhnya arak telah diharamkan berikutan dengan turunnya ayat al-Quran pada hari ia diturunkan. Arak yang diharamkan diperbuat dari lima perkara iaitu gandum, barli, tamar, zabib dan madu. Arak ialah benda yang boleh menyebabkan hilang akal iaitu mabuk dan tiga benda yang suka aku peringatkan bahawa Rasulullah s.a.w telah berpesan kepada kita tentang masalah warisan iaitu orang tua dan al-Kalaalah iaitu orang yang mati tidak meninggalkan ayah dan ibu serta anak untuk menerima pusakanya dan perkara-perkara yang boleh menyebabkan berlakunya riba

 

 

 

 

 

 

 

April 22, 2014 at 3:11 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Al-Manak

Juli 2014
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Asmaul Husna

Kategori


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.